Dari: [EMAIL PROTECTED] Pak Hudoyo, Bagaimana kabarnya? Sudah lama tidak contact dengan Anda Saya baik2 saja, masih denngan kesibukan yang sama Topik kali ini bennar2 sangat menarik dan yang pasti akan mengundang banyak spekulasi ya, Pak Memang dari dulu saya ingin menaanyakan beberapa tulisan JK yang sepertinya gaya bahasanya agak sedikit nyeleneh seperti dalam buku "From Darkness to Light":
"I am strong, ong, I no longer falter; the divine spark is burning in me; I
have beheld in a waking dream, the Master of all things and I am radiant with
His eternal joy. I have gazed into the deep pool of knowledge and many
reflections have I beheld. I am the stone in the sacred temple. I am the humble
grass that is mown down and trodden upon. I am the tall and stately tree that
courts the very heavens. I am the animal that is hunted. I am the criminal that
is hated by all. I am the noble that is honoured by all. I am sorrow, pain and
fleeting pleasure; the passions and the gratifications; the bitter wrath and
the infinite compassion; the sin and the sinner. I am the lover and the very
love itself. I am the saint, the adorer, the worshipper and the follower. I am
God."
Bab II - The Path
Pernyataan ini nyaris serupa dengan pernyataan Sri Krishna dalam Bhagavad
Gita ketika menampakkan kekuasaanNya atas Alam Semesta di hadapan
Arjuna..Disini jelas tampak masih ada unsur personalitas dari pencerahan2
lanjutan tahap awal K. Saya sendiri belum mengetahui dengan jelas bagaimana
"The Process" itu berlangsung.. Dari buku The Years of Awakening, dikisahkan
betapa seringnya K mengalami rasa nyeri yang misterius dan seperti kehilangan
kesadaran di saat-saat tertentu. Inipun tampaknya sulit dihubungkan dengan
proses perubahan batiniah dalam diri K, apakah keduanya berhubungan secara
langsung atau tidak.
Penyatuan personalitas ini tampaknya juga paralel dengan tahapan
perkembangan kesadaran rohani dalam tarekat2 Sufi maupun teknik visualisasi
Vajrayana, dimana personalitas diri (umumnya dianggap Diri yang semu, ilusif)
terpinggirkan (=diusahakan dipinggirkan) oleh Personalitas Lain yang lebih
agung, lebih universal, dsb
Dari buku Freeedom from the Self: Sufism, Meditation and Psychoterapy
karya Moh. Shafii, M.D. (Terjemahannya dalam bahasa Indonesia diterbitkan
Curiosita), saya menemukan istilah teknis yang berkaitan dengan tingkatan
keterbebasan dari kepentingan diri (fana) yang mungkin bisa diperbandingkan
dengan pengalaman K di tahap-tahap pencerahan lanjutan awal beliau:
1. Fana-fi-al-shaykh
2. Fana-fi-al-rasul
3. Fana-fi-Allah
4. Fana-al-fana / Baqa
Spekulasi saya, mungkin pada "tahapan" ini, K baru mencapai tahapan 1,2,
atau mungkin juga 3, dimana masih ada pengagungan terhadap "figur", yakni Sang
Master. Hal serupa mungkin identik dengan pengalaman para mistikus Kristiani
yang mengalami "Penyatuan dengan Kristus". Pernyataan2 K mengenai "Sang
Kekasih" juga serupa dengan "idola" dan gaya bahasa kaum sufi, yang mengacu
pada adanya proses untuk mencari, mengidentifikasi dan menyatukan diri dengan
idol tersebut..
-------------
"Tetapi bila saya memiliki kemampuan, bila saya memiliki kekuatan, bila saya
memiliki tekad, bila saya menjadi murni dan suci, maka rintangan itu,
keterpisahan itu, akan lenyap. Saya tidak akan puas sampai rintangan itu
runtuh, sampai keterpisahan itu lenyap."
Satu hal menarik, K sendiri pada tahap ini tampaknya masih memiliki suatu
hasrat untuk tetap menyatu dengan sang idol tersebut, dan yang di kemudian hari
mungkin akhirnya kecewa dengan proses2 mempertahankan rasa kenyamanan semu
tersebut tatkala mengalami konflik pemicu yang ahirnya membuatnya menanggalkan
segala macam otoritas, baik dari luar maupun dari dalam (yang dibentuk oleh
diri sendiri).Jelas tampak keakuan K saat itu yang masih mencari dan berusaha
mempertahankan rasa nyaman itu masih ada dan bertahan selama beberapa tahun
Beberapa pernyataan K yang menyiratkan masih adanya "proses penimbunan
pengalaman", yang mungkin dalam bahasa K belakangan menyiratkan pengertian
otoritas dari dalam diri, antara lain:
"Tetapi jika Anda membangun landasan Anda dari batu, batu pengalaman Anda
sendiri, batu pengetahuan Anda sendiri, batu kesedihan dan penderitaan Anda
sendiri, jika Anda mampu membangun rumah Anda di atas itu, batu demi batu,
pengalaman demi pengalaman, maka Anda akan mampu meyakinkan orang lain."
-------------
Spekulasi saya, sampai tahapan ini, sepertinya dapat disimpulkan, hampir semua
tradisi kerohanian akan mencapai tahapan yang sama, yakni suatu sensasi
penyatuan yang intens dengan sesuatu yang lebih luas dari batasan diri apapun
bentuk idolnya, entah itu personal maupun non-personal. Terkadang sensasi
seperti inipun tampaknya juga menghasilkan suatu perasaan "kemabukan cinta"
yang meluap-luap sehingga sering menggunakan gaya bahasa yang "nyeleneh",
sehingga kalau disalahmengerti oleh orang lain akan membuahkan tragedi seperti
kasus Yesus dan Al-Hallaj yang dianggap telah keluar jalur (meninggikan diri
seperti Tuhan, mengakui kesatuan antara Tuhan & diri, dsb..). Dengan
tertutupnya "diri yang semu" oleh Personalitas yang lebih tinggi, lebih luhur,
dsb, umumnya mereka adalah pribadi2 super yang sangat peduli dengan kemanusiaan
dan kesatuan dengan yang lain, menunjukkan cinta kasih yang lebih mendalam,
memiliki pandangan yang lebih luas, menggunakan gaya bahasa yang sedikit
berbeda karena telah melampaui keterbatasan pikiran, dsb..
Jujur, hingga sekarang saya masih penasaran, krisis pemicu apakah yang
dialami K sehingga nyaris ia meninggalkan secara total pengalaman kesatuannya
dengan para Master, meninggalkan sistem kerohanian yang terstruktur dan
akhirnya begitu mengkritisi Si Pusat, "Penimbunan" (pengalaman), "Otoritas",
dll
Apakah ini ada kkaitannya dengan kematian Nityananda, satu2nya orang yang
hampir bisa dikatakan merupakan pasangan-divinitas K? Saya lupa dimana saya
pernah baca tentang hal ini.
Dengan ini, tampaknya untuk memasuki "perjalanan kedua" (meminjam istilah
Bernadette Roberts atau tahapan Fana no.4), seseorang yang telah mengalami
puncak tertinggi (yakni penyatuan) secara alamiah perlu untuk menemui krisis
yang menggoyahkan "otoritas dari dalam" yang akhirnya meruntuhkan semua
pengalaman.. dan memasuki
sebuah keadaan, diimana bukan memasuki sistem
pengganti lain yang serupa, namun tampaknya masih tetap sistem yang sama, namun
dengan adanya sesuatu yang "hilang", yakni Sang Diri seutuhnya.
Maka dari itu, K sering menggunakan istilah "Revolusi Total" atau "Negasi
Total", tentu berkenaan dengan mengamati secara totalitas akan kegiatan Si
Pusat, "setinggi" apapun pencapaiannya hingga pengakhirannya dengan sendirinya.
Wah
sayangnya hal ini baru sekedar spekulasi ya, Pak
Btw, saya sendiri
masih sering merasakan adanya kesamaan proses perjalanan pertama dari
individu2 yang bahkan telah mengenal ajaran2 K. Disini, secara tanpa sadar
sering kita menjadikan K sendiri sebagai idola sehingga membuat kita bereaksi
dengan kata2 pinjaman dan pola pikir beliau
:-)
Mungkin suatu saat, ketika seseorang menemui krisis-personalnya yang
membuatnya memasuki perjalanan kedua secara alamiah, baru akan muncul sesuatu
yang lain. Semoga untuk sementara kita tidak sekedar menjadi
Krishnamurti-freak, istilah U.G. ya, Pak
Saran saya, mungkin kapan2 kita juga bisa membahas perbandingan K dengan
U.G. Dalam hal ini, saya melihat kemungkinan karena adanya perbedaan latar
belakang krisis diantara mereka berdua yang akhirnya menghasilkan proses
pencerahan yang terkesan berbeda, dimana U.G mengalaminya secara mendadak
(proses calamity yang berlangsung kurang lebih sepekan) dan K tampaknya lebih
lama namun smooth
juga dengan hasil berupa reaksi dan gaya bahasa yang
berbeda tatkala keduanya hendak dijadikan sumber kebenaran, dimana yang satu
nampak lebih lembut dan mengikuti alur pemahaman dan bahasa orang awam
sedangkan yang satunya lagi terkesan sarkastis walaupun keduanya membicarakan
keadaan dan ketiadaan yang sama.
Mungkin sekian dulu dari saya
Senang bisa ikut2an bberspekulasi kali
ini..kurang-lebihnya mohon maaf dan mohon diberi petunjuk ;-p
Salam Hangat selalu,
Jon
==========================================
HUDOYO:
Rekan Jon yg baik,
Terima kasih banyak atas sharingnya. Wah, saya tidak menyangka akan mendapat
tanggapan yang begitu luas dan berbobot dari seseorang yang baru saya kenal
sekali di salah satu MMD Akhir Pekan yg lalu.
Tampaknya bacaan Anda tentang mistisisme sangat luas. Mulai dari Bhagavad Gita,
Sufi, sampai UG Krishnamurti. Tentang membandingkan UG Krishnamurti dan J
Krishnamurti juga menarik. Tapi saya harus membaca dengan teliti dulu UG
Krishnamurti. Dulu saya pernah membaca sepintas lalu, khususnya "The Myth of
Enlightenment". Mungkin harus saya baca lagi dengan lebih teliti.
Saya sependapat dengan Anda--dan dengan Rekan Sony Wongso di posting
lain--bahwa ide-ide JK di tahun 1930-an berbeda dengan di tahun 1960-an ke
atas. Saya juga sependapat bahwa perbedaan-perbedaan itu secara rinci
sebagaimana yg Anda tulis di atas.
Di sini saya berspekulasi sekurang-kurangnya ada dua kemungkinan:
(1) Ada perkembangan atau pentahapan pencerahan dalam batin JK;
(2) Perbedaan antara "JK 1930" dan "JK 1960" disebabkan oleh faktor-faktor yg
lebih superfisial dan bukan dari hakekat pencerahan JK.
#1
Pentahapan pencerahan itu bisa kita lihat dalam pengalaman Bernadette Roberts
(BR) misalnya. Mula2 ia mengalami lenyapnya "ego" ("aku yg rendah") di dalam
"penyatuan dengan Tuhan". Dua puluh tahun kemudian, ia mengalami lenyapnya
"diri seutuhnya", BERSAMA dengan lenyapnya persepsinya akan "Tuhan", yang
berganti dengan apa yang dinamakannya "The Unknown". -- Tentang BR ini menarik
untuk kita diskusikan lebih lanjut, karena menilik dari ketiga bukunya--secara
berturutan "The Experience of No-Self", "The Path to No-Self", dan "What Is
Self?"--justru timbul tandatanya besar dalam diri saya. Karena saya melihat
dalam ketiga buku itu secara khronologis tampak seolah-olah terjadi
"kemerosotan" (degradasi) dari PENGALAMAN tanpa-aku kembali menuju
penegasan-penegasan METAFISIKAL, TEOLOGIS dan DOGMATIS, bahkan RITUALISTIK.
Kembali pada masalah spekulasi akan "perkembangan" pencerahan JK: apakah ada
petunjuk-petunjuk tentang adanya event lenyapnya "Aku seutuhnya" (yang Anda
namakan "krisis") dalam diri JK sesudah th 1927-29? Seperti diketahui, catatan
historis dari pencerahan JK yang otentik berasal dari th 1922, ketika di Ojai
ia mengalami proses pencerahan yg berlangsung selama 3 hari. Setelah itu,
selama beberapa tahun, masih sering--dan makin lama makin jarang'--ia mengalami
apa yg disebut "the process", di mana ia mengalami sakit di kuduk & kepalanya,
dan kesadarannya berubah.
Kematian adiknya, Nityananda, terjadi pada th 1925. Peristiwa itu menghancurkan
sama sekali imannya terhadap para Master, yang sebelumnya "menjanjikan"
kepadanya bahwa Nityananda akan sembuh. Kesadaran baru ini tercermin dalam
ceramahnya yg saya tayangkan ini, di mana ia mengaku telah "menyatu", telah
"menjadi", para Master itu.
Di lain pihak, kita lihat pula bahwa ketika ia menerima berita kematian adiknya
itu di kapal yang melewati Terusan Suez dari Italia ke India, ia tampak
mengalami goncangan batin yang amat hebat. Berhari-hari ia mengurung dirinya di
kamar, menangis meratapi adiknya. Tetapi ketika tiba di India, ia tampak sudah
pulih kembali dari penderitaannya. Jadi tampak di situ masih ada 'aku' yg
melekat secara intelektual dan emosional kepada adiknya--setidak-tidaknya
kepada ingatan akan adiknya, sekalipun tidak berlangsung lama.
Jadi, kalau pencerahan itu sendiri merupakan proses, sebagaimana terkesan dari
ceramah2 JK dan dari buku2 BR, perlu kita cari--kalau bisa--event-event lain
dalam kehidupan JK sesudah 1922 yang bisa mengindikasikan perkembangan
pencerahan dalam dirinya. Kematian Nityananda adalah salah satu event seperti
itu. Tetapi dlm ceramah 1927 tetap saja terkesan ia baru pada taraf "penyatuan
dg Tuhan", taraf "lenyapnya ego" menurut BR, belum "lenyapnya diri (seutuhnya)".
#2
Saya akan menayangkan ceramah JK di Italia pada th 1933, enam tahun setelah
ceramah yg menjadi topik thread ini, empat tahun setelah ia membubarkan
Perkumpulan Bintang. Yang menarik ialah bahwa dalam ceramah 1933 itu hampir
tidak ada lagi kesan 'aku' yang mencapai pencerahan, yang menyatu dengan "Sang
Kekasih", yang mengajarkan jalan pembebasan, dst dst. Ceramah 1933 itu hampir
tidak berbeda dengan ceramah 1960-an ke atas.
Di sini timbul pertanyaan, apakah penyebab dari perbedaan yg begitu besar
antara "JK 1927" dan "JK 1933" itu? Mungkin salah satu penyebabnya ialah
perbedaan yg amat besar di dalam AUDIENCE-nya: pada ceramah 1927 itu
audience-nya adalah para anggota Perkumpulan Bintang, yang melihat dia sebagai
"Guru Dunia" di dalam konteks paradigma Teosofi, yang tidak banyak berbeda
dengan paradigma mistisisme dalam agama-agama monoteis pada umumnya. Sedangkan
pada ceramah 1933, audience-nya adalah publik yang datang kepadanya SETELAH
mendengar bahwa ia membubarkan Perkumpulan Bintang dan bahwa kini ia berjalan
seorang diri. Mungkinkah itu yang menjadi penyebab begitu "berbeda"-nya isi
kedua ceramah itu? Dengan kata lain, JK secara spontan menyesuaikan diri dengan
audience yg dihadapinya, dan tidak ada kaitannya dengan keadaan batinnya yg
aktual? Bagaimana menurut pendapat Anda?
***
Mungkin saja kedua kemungkinan itu memang terjadi bersama-sama, bukan
either-or. Namun kedua-duanya mendorong JK untuk samapi pada "lenyapnya aku
seutuhnya", sesuatu yg final dan ultimate.
Mungkin pula "lenyapnya diri" adalah pengalaman mistikal tertinggi yang
universal, tapi setiap orang sampai ke situ melalui proses yang berbeda-beda,
tergantung pada pengertian awal yang ada di dalam kesadarannya. BR melalui dua
tahap: lenyapnya "ego", kemudian lenyapnya "diri". Buddha & para arahat siswa
beliau tidak membedakan antara 'ego' dan 'diri', sehingga tidak mengalami
seperti yang dialami oleh BR, terutama tidak mengalami kebutuhan akan "market
place" di mana si kontemplatif harus "membuktikan ketiadaan 'ego'-nya" dulu.
Namun, lenyapnya diri dalam Buddhisme itu pun tercapai melalui 4 tahap, mulai
dengan lenyapnya 'ide tentang aku' di mana masih ada 'keinginan' dan
'ketidaksenangan'--dengan kata lain, masih ada 'ego'--sampai lenyapnya
'keinginan untuk ada', lenyapnya 'rasa aku' ("kesombongan", mana), dan
lenyapnya pikiran (yang dualistik) (lenyapnya kegelisahan: uddhacca) dan
lenyapnya 'ketidaktahuan' (avijja).
Tapi bagaimana dengan BR? Anda sudah baca ketiga bukunya semua? Bagaimana bisa
orang yg mengaku telah "lenyap dirinya" bisa mengatakan bahwa "Kristus adalah
apa yg tinggal setelah diri ini lenyap" dan bahwa "Ekaristi (hostia) adalah
tubuh Kristus yg abadi". Ditambah lagi beberapa pernyataan eksklusif dan
"pemaksaan" memahami ajaran Buddha menurut pengalamannya sendiri, dengan
mengatakan bahwa "Buddha tentu mengalami penyatuan Atmannya dengan Brahman
SEBELUM mencapai tahap Anatman." :-)
Tentang UG Krishnamurti, saya masih baca "The Myth of Enlightenment".
Rekan-rekan lain yg mau ikutan diskusi masalah yg rumit ini disilakan dengan
senang hati.
Salam,
Hudoyo
PS: Anda mau bermeditasi bersama saya seminggu?
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/
<<attachment: d72227.jpg>>
