Dear all,
 
Menarik sekali yang dipaparkan oleh Julie mengenai culture di tibet dimana wanita boleh memiliki suami lebih dari satu.
Budaya, lingkungan dan situasi yang keras telah membentuk wanita disana menjadi harus bertanggung jawab terhadap anak yang mereka lahirkan.
Tapi, coba deh di belahan dunia yang lain.....nggak usah jauh-jauh deh....di Jakarta aja.
Coba deh kalo punya suami lebih dari satu (bukan selingkuhan lho)
wah....g nggak yakin suami pertama bakalan bersikap seperti di tibet....
 
Perselingkuhan itu ibarat keserakahan...always wants more.
Our culture forbid us for this lobha....tapi nggak kalo cari uang sebanyak-banyaknya...
 
We as person..boleh memilih...bebas menentukan...dan bertindak sesuai dengan kehendak pribadi kita...
dengan mempertimbangkan dan memperhitungkan semua konsekuensi yang akan timbul.
 
So, do it sister.....
don't limit yourself with the border.....
don't judge yourself with the culture.....
we already have our own compass....
it is Dharma....
 
cheers,
 
Panna_gita
 
 
 
 
 
Re: Pembenaran Perselingkuhan, Teganya

Posted by: "julie_comic" [EMAIL PROTECTED]   julie_comic

Tue Aug 1, 2006 9:01 pm (PST)

Dear all,
Sekuntum teratai untuk Anda semua,para Bodhisattva, dan calon Buddha.

Kenapa dia berselingkuh? Kenapa...?Apa aku tidak cukup baik? Aku sudah
begitu sabar terhadapnya, tidak pernah membantah..Apa kekuranganku..?

Itulah suara dari si wanita, "korban" dari suami yang berselingkuh.
Dia selalu bertanya kenapa suaminya selingkuh..Yang pada ujungnya
selalu berakhir pada kemarahan, kekecewaan, sakit hati, kebencian,
bahkan memandang rendah dirinya sendiri.
Tapi jangan lupa tentang kehadiran anak-anak mereka. Mereka tahu apa
yang sedang terjadi antara orang tua mereka. Mereka merasa tertekan,
malu jika ada yg bertanya tentang keluarganya.

Jika kita berbicara tentang selingkuh, akan ada banyak pro dan kontra.
Bagi mereka yg pro: ini salah satu alasan favorit: "karena pasangan
saya tidak bisa memuaskan saya. Dia tidak bisa memahami saya".
Bagi mereka yang kontra: "pasangan memang tidak bisa dipercaya. Dia
tidak mengerti saya. saya sudah melakukan yang terbaik buat dia".

Sebenarnya apa sih arti dari "selingkuh"? Punya lebih dari satu
pasangan? Sedikit sharing ketika saya berada di Thailand, disitu ada
banyak teman dari negara2 berbeda, yg pasti punya budaya berbeda. Ada
2 temanku yang punya budaya menarik. Satu dari Tibet: wanita disini
sah-sah saja jika punya anak sebelum menikah, bahkan ketika suaminya
pergi, wanita berhak untuk menikah atau tidur dengan laki-laki lain.
Dan semua anak hasil hubungan akan dirawat oleh pihak wanita.
Satu lagi dari Nepal (India). Disini wanita/pria sah-sah saja punya
lebih dari satu pasangan.
Bahkan mereka bisa menikah dengan saudara iparnya. Dan masing-masing
tahu, malah mereka akur satu sama lain. Sampai ada kejadian, dimana
satu wanita ingin menceraikan suaminya, dengan alasan merasa berdosa
bersuamikan lebih dari satu. Tapi coba tebak, suaminya yg pertama
malah meminta supaya jangan menceraikan suaminya yang nomor dua.
Hahaha...Aku juga terkejut mendengarnya....
Disebut selingkuh kapan, sebelum kita mengetahuinya, atau selama
(during) hubungan itu berlangsung, atau setelah kita mengetahuinya?
Jadi selingkuh itu apa yah?

Dulu aku sangat jijik melihat perselingkuhan. Itu tak lebih dari
perilaku hewan tingkat rendah. Mereka yang berselingkuh tidak pantas
dilihat. Mereka adalah kotoran, tak lebih..

Begitu ekstrimnya "pandanganku" ..Haha...
Setelah mengikuti retret Dharmajala, setelah berkenalan dengan "hidup
berkesadaran", setelah bersentuhan dengan ajaran Y.A. Mahabhikshu
Thich Nhat Hanh, baru bisa melihat lebih jelas. Butuh waktu lama untuk
bisa mengubah "pandanganku". Sama sekali bukan hal yang gampang.
Pertama aku tidak siap untuk berpikir mengampuni mereka. Lambat laun
aku baru tau, sikap tidak siap itu adalah tidak berani alias takut.
Tapi setelah belajar untuk terbuka terhadap pikiran orang lain,
belajar mendengarkan secara mendalam, banyak mengikuti sharing,
mendengar sharing masa gelap dari seseorang. Perlahan aku mulai
belajar untuk berani menghadapi kasus ini. Dengan sedikit iming2
terhadap diri sendiri, paksaan, sedikit keberanian,& kebersamaan
sanghaku, aku mulai berjalan memasuki daerah orang "terhukum" yang
gelap dan penuh dengan tuduhan & makian. Begitu sesak dengan
kesedihan, dipenuhi dengan atmosfir kemarahan, kebencian, dan penolakan.

Sekarang siapkah bro & sis untuk bergandengan bersamaku, mencoba
memasuki area gelap ini?
Mencoba melihat dari sisi kerangkeng seorang "penyelingkuh". Aku tidak
sedang mencoba untuk membenarkan perselingkuhan, tapi bagaimana kita
menyikapi masalah ini.
Kita PERLU mengambil tindakan. Dikatakan Dharma adalah obat penawar
penderitaan. Nah, mengapa tidak kita coba saja? Buktikan benar gak sih
Dharma itu bisa membawa kedamaian?
Mengapa tidak kita coba pandang dari sisi Dharma? Mengapa tidak kita
coba untuk dengan sengaja dan dengan penuh kesadaran menarik benang
antara selingkuh dengan Dharma? Lihat apa yang bisa kita dapatkan dari
ajaran Buddha...?

Selalu ada pertanyaan untuk si pelaku:apa kekurangan dia?dia begitu
cantik, sabar, selalu tersenyum, lembut, perhatian, pengertian, sudah
"melahirkan" anak2 yang cerdas & "patuh", selalu menjaga rumah, setia.
Dia begitu cantik luar dalam, apa yang kurang? Apa yg membuatnya tidak
puas?

Tapi SADARKAH kita, berbagai pikiran ini muncul sebenarnya tidak
mengharapkan jawaban, lebih bernada menyudutkan. Pertanyaan ini muncul
SETELAH selingkuh itu terjadi.
Pernahkah kita benar-benar INGIN mengetahui hal apa yang mendorong hal
itu terjadi? Dan "menyelami" selama (during) perbuatan itu dilakukan?
Tidak, yang langsung kita nilai, kita lihat adalah setelah selingkuh
terjadi.

Sekarang jika selingkuh sudah terjadi, apa yang harus dia lakukan? Apa
yang harus kita lakukan?
Bagaimana jika dia merasa sedih? Tertekan, putus asa, menyesal, bingung?
Ingin mengakui kelemahannya, tapi tidak berani berbicara? Ingin
berubah, tapi takut?
Bagaimana jika dia juga merasa sangat bersalah? Dan berdosa? Sekarang
apa yang harus kita lakukan?
Sekarang setelah kita mengetahui dia selingkuh, itu berarti harus ada
langkah yang diambil.

Mungkinkah pada awalnya dia merasa tidak mampu berkomunikasi, lantas
bertemu dengan orang yg bisa "nyambung"? Dan mungkinkah hal ini
menolongnya untuk tetap "waras" dan memperlakukan anak2nya dengan
baik? Mungkinkah yang kita sebut sebagai selingkuhan itu justru
membantu dia menyembuhkan "luka" emosinya, yang tidak terjamah oleh
pasangannya? MUNGKINKAH?

Lalu bagaimana jika hubungan ini menghasilkan anak? Apakah kita akan
selalu menghukum, menyalahkan, dan menulikan telinga kita, membutakan
mata kita? Apakah anak itu mesti diaborsi, dibunuh? Seberapa berani
kita membahas selingkuh ini sampai tuntas? Tidak hanya berhenti pada
penghakiman, karena menghakimi terlalu mudah. Simple.
Beranikah kita untuk menghadapi (to confront) masalah selingkuh ini
melampaui "judgement"?

Seberapa tahan kita untuk masuk ke area orang terhukum ini?
Akan lebih gampang bagi kita untuk mengerti posisi "korban". Tapi kita
jelas tau, sebenarnya yang sedang berteriak minta tolong tanpa suara
adalah si "penyebab".
Seberapa efektif kita membantu dia untuk menyadari? Seberapa sabar dan
tahan kita untuk bersamanya dan membantu dia untuk berubah?

Mungkin sajakan yang kita sebut "korban" sebenarnya adalah "penyebab"?
Mungkin saja mereka yg disebut sebagai "pelaku" adalah "korban"?
Mungkin saja mereka yg disebut orang ketiga adalah orang yang
posisinya terjepit, korban, yang terjebak karena situasi, yg tidak
paham..?
Bagaimana jika "pelaku" juga merintih menderita & kesakitan? Akankah
kita berucap : itu memang pantas kau terima? Kata-kata ini juga
terpatri dalam kepalaku dulu.

Kita selalu berpikir bahwa mereka yang melakukan perselingkuhan adalah
orang dewasa.
Kita sering lupa bahwa "orang dewasa" ini juga pernah mengalami "masa
anak2", pernah menjadi seorang anak kecil yang begitu rapuh, sangat
gampang terluka. Mungkinkah dia trauma?
Kita lupa semua itu...
Sudah cukup tuduhan yang dilayangkan..Sudah cukup makian yang
dilontarkan..Sudah cukup banyak jari yang ditudingkan...
Sekarang beranikah kita menawarkan sesuatu yang dia dambakan?
Pengertian, pengampunan, empati, kebijaksanaan, kesabaran, kelembutan,
kedamaian..dan pengertian yang benar?

Orang yang tenggelam tak akan mampu untuk naik ke permukaan sendiri,
dia akan butuh pertolongan dari tangan yang terulur, bukan lemparan
batu atau galah yang ditusukkan..
Seberapa luas teori kita tentang Dharma? Sudah cukup mengertikah kita
ajaran Buddha?

Saya yakin bro & sis pasti pernah membaca cerita "Angulimala". Si
pembunuh yang mengumpulkan seratus jari. Berikut saya kutip dari buku
"Jalur Tua Awan Putih", karya Y.A. Mahabhikshu Thich Nhat Hanh.
Saat dia bertemu Buddha, dia terkesima. Karena biasanya orang akan
lari ketakutan. Tapi Buddha menatapnya bagai sahabat atau saudara.
Saat itu Angulimala juga merasa putus asa, tidak mungkin kembali ke
jalan yang benar. Tapi Buddha meyakinkannya, bahwa Buddha akan
melindunginya jika dia bersedia untuk "memulai lembaran baru", untuk
belajar dan melatih diri.

Apa yang sedang dilakukan Buddha sebenarnya? Apakah tindakan ini
membuat Buddha membenarkan pembunuhan? Kenapa Buddha memberikan
Angulimala kesempatan untuk bertobat? Seandainya Buddha tidak menerima
pertobatannya, apa yang akan terjadi? Jika BUddha tidak ingin
menolongnya, memberikan pengertian benar padanya, apa yang akan
terjadi padanya?
Kita melihat MEMANG Angulimala telah berbuat salah, membunuh, tapi
kemudian dia menjadi bhikshu.
Apa yang terlihat disini? Perubahan bukan? Seseorang yang berani untuk
memulai lembaran baru bukan? Dia juga pada awalnya merasa takut bukan?
Apakah Buddha menghakimi Angulimala? Apakah Buddha menghukumnya?

Terkadang kita begitu terinspirasi ketika membaca cerita Jataka,
cerita tentang Buddha, yang berhasil menyadarkan si pembunuh, untuk
kembali ke jalan yg benar. Tapi ketika kita menghadapinya sendiri,
kita seolah-olah tidak mau memberikan kesempatan untuk berubah. Kita
ingin menghukum mereka. Apakah kita perlu menunggu sampai kejadian
ekstrim seperti ini baru berani mengampuni? Atau kita perlu menunggu
hingga kita menjadi Buddha untuk mengampuni?

Seberapa siap kita, seberapa berani & kuat kita, seberapa besar rasa
hormat kita kepada Buddha guru kita, untuk mempraktikkan ajaranNya,
bersama-sama dengan mereka yang kita anggap kotor & berdosa, untuk
melihat mentari pagi, tanda hadirnya sebuah hari yang baru?
Seberapa lapang dada ini untuk memeluk & mengajak mereka tersenyum
kembali bersama dengan kita?
Mampukah kita membantu mereka bertransformasi menjadi manusia yang
lebih baik, baik seperti anggapan kita selama ini? Seberapa besar
kasih sayang kita untuk membalut dan membasuh luka borok mereka?

Silakan bagi bro & sis yang juga ingin berbagi / menanggapi..Selalu
terbuka untuk berbagi... Hehee....
Feel free to share with us.... disini kita belajar, berlatih, dan
berbagi hidup berkesadaran bersama.

always with metta,
Julie
 
__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **





YAHOO! GROUPS LINKS




__,_._,___

Kirim email ke