Dari: "Br. Andreas Gatot Yudo Anggono SCJ" <[EMAIL PROTECTED]>
>Marcus:
>*Nah, terus terang, saya tidak tahu apakah saya mengalami kemajuan,
>kemandekan, atau kemunduran. Saya tidak tahu. Yang jelas saya rasakan adalah
>bahwa saya makin tidak begitu peduli dengan berbagai macam dogma, berbagai
>macam teori, berbagai macam ajaran. Kalau boleh saya katakan, saya hanya
>berhadapan dengan keheningan. Itu saja.
--------------
Gatotscj:
Keprihatinan saya terhadap anak jaman adalah sulitnya untuk mengalami
keheningan. dan sadara markus telah mampu mengalami keheningan. bagi saya
ini suatu hal yang luar biasa.
>Marcus:
>*Oh ya tentang kaitan meditasi dengan terkabulnya keinginan (entah duniawi
>entah rohani), saya tidak membuat kaitan di antara keduanya. Dalam keyakinan
>pribadi saya, (saya Katholik) kalau saya butuh sesuatu, ya saya katakan saja
>kepada Tuhan. Selesai. Saya tidak mau Tuhan menganugerahkan sesuatu karena
>saya melakukan sesuatu. Menurut saya, Tuhan kalau mau memberi, ya memberi
>saja; demikian pula, kalau kita meminta, ya meminta saja. Kalau kita menjadi
>baik, itu bukan supaya kita mendapat anugerah, melainkan karena memang sudah
>begitu seharusnya. Saya juga tidak tahu apakah pandangan saya ini benar atau
>salah. Yang jelas, seperti itu yang saya lakoni.
--------------
Gatotscj:
Sering kali orang berdoa / bermeditasi karena mengharapkan suatu ketenangan
/ kedamaian / atau dikabulkan doa-doanya. itu bukan motivasi yang salah,
namun ada motivasi yang paling tepat menurut saya, berdoa atau bermeditasi
bertujuan untuk semakin mengalami Sang Agung dalam hidup kita.
Ketenangan/keheningan/terkabulnya doa-doa kita adalah anugerah Sang Agung
semata (buah-buah dari meditasi).
Ada seorang pertapa yang memberi nasehat demikian:
"Berhati-hatilah saat merumuskan doa-doamu, karena kalau kamu minta kekuatan
Tuhan akan memberikan cobaan; kalau kamu minta kedamaian, Tuhan akan
memberikan kericuhan; kalau kamu minta cinta, Tuhan akan membrikan
orang-orang yang menderita. Karena kekuatan hanya akan berkembang dalam
cobaan, kedamaian akan muncul kalau kericuhan teratasi, dan cinta akan
tumbuh kalau ada kepedulian pada orang-orang yang menderita."
Mungkin Tuhan tidak mengabulkan doa-doa kita tapi Dia pasti memberikan apa
yang kita butuhkan.
Tuhan memberikan matahari untuk semua orang, baik yang jahat maupaun yang
baik. Kebaikan perilaku kita memang sudah seharusnya kita 'lakoni' karena
cinta kasih Yang Agung sudah kita nikmati tanpa batas. Boleh di kata, kita
berbuat baik memang sudah seharusnya demikian, bukan dengan pamrih agar Yang
Agung mengabulkan permohonan kita. Kalau Dia menganugerahi 'sesuatu' pada
kita, itu adalah karunia Dia dan cinta kasih Dia semata, dan bukan karena
jasa-jasa' kita.
So.... saya sangat setuju dengan anda, saudara Markus....
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya
maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman
hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta
kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami
secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas
dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas
asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,
membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan
kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua,
para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/Dharmajala/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/