Kompas, Kamis, 21 September 2006
Soal Perubahan Suara di IMF
Binny Buchori
Pertemuan tahunan Bank Dunia-IMF di Singapura telah berakhir dengan keputusan yang banyak mengundang kritik: disetujuinya kuota lebih besar untuk China, Turki, Meksiko, dan Korea Selatan.
Lebih mengecewakan lagi, keputusan ini didukung 90,6 persen suara di IMF (Jakarta Post, 19/9/2006) meski beberapa negara berkembang, seperti Brasil, Argentina, India, Indonesia, dan Malaysia, diberitakan bersikap skeptis atas usulan peningkatan kuota yang diusulkan executive board ini (International Herald Tribune, 16/9/2006).
Dengan formula hak suara yang ada kini: yaitu suara terbanyak dipegang negara kaya (Amerika Serikat pemegang suara terbesar), tidaklah terlalu sulit bagi negara- negara kaya untuk mengegolkan usulan ini. Jadi, protes dan kritik dari negara miskin dan kalangan ornop atas formula itu, karena antara lain akan menyebabkan negara-negara Afrika kehilangan suaranya sebesar 2,5 persen (Jakarta Post, 15/9/ 2006), adalah teriakan yang tidak digubris.
Kritikan dan kecaman yang datang dari ornop, negara berkembang, dan akademisi terpusat pada kenyataan, perubahan kuota ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah ketimpangan kekuasaan antara negara miskin dan negara kaya di IMF. Dengan suara begitu besar yang dimiliki negara-negara kaya, aneka keputusan IMF pasti diwarnai kepentingan negara-negara kaya.
Berdasar kuota
Besar kecilnya suara di IMF ditetapkan berdasar kuota. Sedangkan besar kecilnya kuota sebuah negara dinilai dari kaya/miskinnya negara itu, seperti besarnya PDB, besarnya cadangan, dan keadaan perdagangan. AS adalah negara anggota dengan kuota terbesar (55,1 miliar dollar AS) dan yang terkecil adalah Palau (4,6 miliar dollar AS) (IMF Quota; Fact Sheet, IMF, September 2006). Seluruh negara berkembang kini hanya memiliki suara 38 persen dari seluruh suara di IMF. Besarnya suara di IMF ditentukan seberapa besar iuran negara itu pada IMF.
Besar kecilnya kuota inilah yang menentukan hubungan negara anggota dengan IMF, termasuk besar iuran, besarnya hak suara, dan luasnya akses terhadap pembiayaan. Seluruh anggota IMF memiliki hak suara dasar ditambah berapa besar kuota yang dimiliki. Jadi, lagi-lagi AS memiliki suara terbanyak dan Palau memiliki suara terkecil.
Formula kuota tidak mencerminkan keadaan kekuatan ekonomi sesungguhnya suatu negara. Hal ini menyebabkan negara-negara sebesar Brasil, Meksiko, dan Korea Selatan dengan jumlah penduduk lebih besar, kegiatan ekonomi lebih aktif memiliki kuota jauh lebih kecil daripada PDB mereka. Sebaliknya, Belgia dan Swiss memiliki kuota jauh lebih besar daripada PDB mereka. Karena itu, banyak ahli mengusulkan penentuan kuota diubah dengan mempertimbangkan kekuatan daya beli negara bersangkutan (Improving the Voice of Developing Countries in the Governance of International Financial Institution, Stephanie Griffith Jones, 2003).
Tanpa perubahan sistem kuota, akses negara-negara yang memerlukan fasilitas IMF amat terbatas. Stephanie Griffith Jones mengusulkan agar kekuatan lebih berimbang, IMF perlu menambah kursi untuk negara Afrika karena kini 45 negara Afrika hanya diwakili dua direktur eksekutif.
Respons IMF untuk mengubah sistem pengambilan suara sebenarnya merupakan upaya lembaga raksasa ini untuk mempertahankan legitimasinya karena lembaga ini dinilai gagal dalam memberi resep pemulihan ekonominya, terutama dalam menangani krisis finansial Asia. Legitimasi IMF menjadi kian terancam saat Independent Evaluation Office, unit independen dalam tubuh IMF, dalam laporannya tahun 2003 mengakui berbagai kekeliruan yang dibuatnya.
Keliru analisis
Kekeliruan dan kesalahan menganalisis situasi ekonomi negara berkembang dan berbuntut pada pemberian "obat yang salah" tidak bisa dilepaskan dari tidak adanya keseimbangan kekuatan antara negara kaya dan miskin yang antara lain ditunjukkan dalam sistem pengambilan keputusan yang tidak adil dalam tubuh IMF sendiri.
Perubahan hak suara tentu merupakan salah satu jalan untuk mengoreksi hal ini, tetapi seperti kritikan yang telah diungkapkan berbagai kalangan, formula yang diusulkan IMF masih jauh dari memadai untuk mengoreksi tidak adanya keseimbangan kekuasaan antara negara miskin dan negara kaya di tubuh IMF.
Keseimbangan tidak bisa dicapai hanya dengan mengotak-atik formula kuota dan menghitung berapa suara yang akan didapatkan sebuah negara, selama penetapan besar kecilnya kuota ditetapkan berdasarkan besar/kecilnya PDB, besar/kecilnya cadangan, alias tergantung pada kaya/miskinnya negara itu.
Perubahan yang lebih radikal diperlukan, 40 ornop Eropa mengusulkan agar ada restrukturisasi menyeluruh di tubuh IMF, termasuk (a) mengubah tata kelola IMF agar sesuai dengan standar akuntabilitas di tingkat nasional (kini tidak jelas pertanggungjawaban executive board); (b) pengambilan keputusan harus didasarkan double majority voting system, yaitu keputusan baru sah bila didukung mayoritas anggota dan mayoritas suara; (c) agar jabatan managing director IMF tidak selalu dipegang negara-negara Eropa Barat. (Bretton Woods Project Update, 11 September 2006)
Bila Indonesia berkeberatan dengan usulan itu, maka menarik untuk mengetahui apakah dalam pengambilan keputusan di Singapura kemarin, Indonesia menolak atau menyetujui usulan perubahan kuota ini.
Sayang, kita tidak tahu sikap Indonesia, dan tidak akan pernah tahu, selama lembaga raksasa IMF masih tidak mempraktikkan prinsip-prinsip akuntabilitas pada publik, seperti melaporkan hasil keputusan Dewan Direktur dan Dewan Gubernur serta proses pengambilan suara, termasuk siapa yang mendukung dan yang menolak.
Binny Buchori
Direktur Eksekutif Perkumpulan PraKarsa
 


Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small Business. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke