Sekuntum teratai juga untuk anda dan semua sahabat, para calon Buddha,
Sebagai pembuka, saya bukan biksu hahahaha....jadi no comment [titik]
okeh selesai........just kidding, karena katanya kalau tidak keberatan....mau koementar seorang biksu, entahlah ada biksu atau tidak di milist ini, semoga saja ada, jadi bisa ikut sharing idea dengan kita.
semoga tidak keberatan yah :) ini komentar bukan dari seorang biksu.
sebelum melantur kemana-mana dulu, Bro Yamin udah kasih komentar singkat, kalau dilihat sepintas memang melanggar sila Pancasila Buddhis yang pertama, karena membunuh dirinya sendiri, dan ini menurut penjelasan dari Hinayana (Lesser Vehicle Philosophy) [CMIIW]; namun menurut Mahayana terdapat sedikit perbedaan atau penjelasan lebih dalam.
faktor yg membuat suatu proses pembunuhan menjadi komplit adalah:
1. Subyek (makhluk lain, selain diri senditi)
2. Faktor mental (motivasi berupa tiga racun: ketidaktahuan, amarah, dan kemelekatan)
3. Proses (mengunnakan alat, cara, tindakan, dsb)
4. perampungan
point pertama sudah membuat tindakan bunuh diri tidak bisa dikategorikan proses pembunuhan komplit sesuai dengan sila pertama pancasila buddhis.
point kedua, biksu tersebut bunuh diri karena ketidaktahuan [ignorant, kilesha, kebodohan, kegelapan batin], karena tidak mengerti sepenuhnya tentang artinya badan jasmani yg mulia dan berharga ini, ia terbutakan oleh kebodohan, dan tidak memiliki kebiksanaan dan pengetahuan itu.
sebagaimana yg disebutkan dlm Bodhicaryavatara [Shantideva], "Anda telah mendapatkan badan jasmani yang mulia ini, sangat beruntung sekali, bagaikan sebuah perahu yang akan membawa anda terbebas dari samudera samsara, menyeberangi semua lautan derita, dunggu sekali jika engkau tidak memanfaatkannya"
point ketiga, prosesnya adalah dgn menyiramkan bahan bakar dan membakar dirinya, sehingga ia menemui ajalnya.
point ke empat adalah perampungan, dalam kasus ini sang pembunuh adalah dirinya sendiri, dari point pertama, pembunuh dan yg dibunuh seharusnya berlainan, dan obyek yg dibunuh harus mati terlebih dahulu, jika tidak, point perampungan juga tidak lengkap. umumnya setelah melakukan sesuatu kita puas, senang, bangga, dsb.
memang dilihat dari sisi sila (yg paling sederhana saja yaitu pancasila buddhis) hal itu sudah sangat berat, apalagi seorang biksu atau sramanera, yang memiliki vinaya dan sekiya. itu adalah karma buruk berat sekali.
walaupun komposisi faktor tersebut tidak lengkap, ia bisa terlahir ke alam lebih rendah (kemungkinan sangat besar), bisa terlahir ke alam manusia, tapi memiliki kecenderungan utk bunuh diri, atau terlibat dalam proses bunuh diri lagi, dan kalau ada karma penunjang lainnya yg memberatkan, ia bisa langsung terlahir ke neraka, atau lebih parah lagi ke avicci.
hal yg paling memberatkan adalah karena seorang sramanera maupun biksu telah mengambil komitmen, jadi ini membuat kondisi semakin berat jika berbuat karma buruk demikian.
untuk menghindari hal demikian, kita perlu studi, merenung, dan meditasi, studi bagaikan lampu penerang, merenung utk menjadikan bagian dalam diri kita, dan tahap meditasi adalah menjadikan ia spontan dalam kehidupan kita, perenungan dan meditasi adalah bagian yg mana kita menerapkan kehidupan nyata.
ini penjabaran singkat saja.
salam dari jauh,
--- In [email protected], Yamin Prabudy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Menurut saya sih:
> Monk nya melanggar sila pertama dari Pancasila ....
> karena dia membunuh dirinya sendiri yang juga makhluk hidup....
>
> with metta
>
> yamin
>
> ----- Original Message ----
> From: Felicia Shan <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Wednesday, October 11, 2006 12:18:08 PM
> Subject: [Dharmajala] Mengorbankan diri kepada Buddha??
>
> A Lotus for You, A Buddha to be...
>
>
>
> Siang ini seusai ujian saya iseng2 browsing di
>
> internet, lalu menemukan berita yang cukup mengagetkan
>
> saya...
>
> Bagaimana pendapat teman2 tentang berita ini, kalau
>
> tidak keberatan, saya juga mau minta pendapat Bhante.
>
> Hehe..
>
> Karena berita ini cukup mengherankan saya..
>
> Terima Kasih sebelumnya..
>
> Namo Buddhaya
>
>
>
> Monk burns himself to death
>
> AAP, October 10, 2006
>
>
>
> Phnom Penh, Cambodia -- A BUDDHIST monk in Cambodia
>
> burned himself to death as a sacrifice to Buddha,
>
> police said today.
>
> The 20-year-old monk was at a pagoda on top of a
>
> mountain when he doused himself with five litres of
>
> petrol on Saturday and set fire to himself, Battambang
>
> province deputy police chief So Sam An said.
>
>
>
> "The monk completely believed in religion he sat
>
> cross-legged and poured gas over himself and burned to
>
> death in order to sacrifice his body to Buddha," So
>
> Sam An said to AFP.
>
>
>
> Other monks and nuns at the pagoda told police that
>
> the monk, Yin Keo, who had been in the monastery for
>
> three months, had repeatedly said he would die in a
>
> religious sacrifice.
>
>
>
> (sumber: Buddhist Channel)
>
>
>
> ____________ _________ _________ _________ _________ __
J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researchs
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a
"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. Jang-chub Sem-pa'i Cod-pa Nyid Jug-pa Zhug-so; Ing. The Guide to the Bodhisattva Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva
Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small Business. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
