Humaniora
Jumat, 27 Oktober 2006
Kenikmatan Makan Bukan di Perut, tetapi di Kepala
Ukuran dan ketentuan soal makan biasanya ditentukan oleh pihak yang bernama perut.
Perut selama ini diyakini sebagai pihak yang berwenang menentukan rasa lapar atau tidak. Walau begitu, menurut para peneliti Amerika Serikat (AS), kenikmatan makan tidak berada di perut, melainkan di kepala.
Hasil penelitian para pakar AS yang cukup mengagetkan ini dipublikasikan melalui Jurnal Investigasi Klinis, Kamis (19/10). Penemuan itu resmi dipublikasikan setelah tim yang dipimpin Dr Tamas Horvath dari Fakultas Kedokteran Universitas Yale, Connecticut, AS, melakukan uji coba pada serangkaian tikus.
Uji coba itu menunjukkan, hormon perangsang nafsu makan yang disebut ghrelin lebih bereaksi ketika berada di dalam reseptor "kesenangan" di kepala, tepatnya di otak si tikus.
Di tubuh tikus, ghrelin memicu saraf yang sama, yaitu saraf yang digunakan untuk merasakan segala kenikmatan, mulai dari makanan hingga seksual, bahkan obat-obatan yang bersifat rekreatif.
"Tepatnya, saraf yang menyediakan sensasi kesenangan dan harapan untuk mendapat kesenangan itu. Dan, semua saraf itu ada di kepala, bukan di perut," kata Horvath.
Seluruh saraf itu, lanjut Horvath, memproduksi dopamine dan berada di salah satu wilayah otak yang disebut area >h 9735m,0<>w 9735m<>f 602h 9736m,0<>w 9736m<>f 601< (VTA).
Tim yang dipimpin Horvath menemukan bahwa ghrelin itu sendiri baru ditemukan di dekade terakhir ini.
Ghrelin bertindak seperti struktur molekul di sel otak yang disebut reseptor ghrelin untuk pertumbuhan reseptor hormon secretagogue 1 yang biasa disingkat sebagai GHSR.
Ketika hormon ini dimasukkan ke dalam area VTA di otak tikus, mereka lalu akan makan dengan sangat rakus seolah tidak diberi makan selama tiga hari.
Ghrelin sebenarnya diproduksi di dalam usus, tetapi ia kemudian memicu otak untuk meningkatkan nafsu makan.
Beberapa hormon yang dikenal memengaruhi nafsu makan biasanya jika disatukan akan berefek pada peningkatan berat badan si tikus.
Walau begitu, Horvath mengakui, mengubah perilaku makan seseorang jauh lebih sulit.
Namun, ia yakin penemuan ini akan sangat membantu para peneliti lain dalam menemukan pola diet terbaik.
"Mungkin nantinya akan lahir rancangan obat baru yang bisa memengaruhi GHSR sehingga dapat membantu orang yang memiliki problem kesulitan makan," ujar Horvath. (REUTERS/RIE)


Get your email and more, right on the new Yahoo.com __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke