Penuntun Jalan Kehidupan Bodhisatwa

Tib. J'ang-chub Sem-pa'i C'od-pa Nyid Jug-pa Zhug-so
Sanks. Bodhicharyavatara

Maha Guru India, Shantideva

Komentar oleh : Dzongsar Jamyang Kyentse Rinpoche

Transkriptor, Translator, & Penyelarasan Fonetik Bahasa Tibet : Junaidi
Naskah Bahasa Tibet berasal dari Library of Tibetan Works & Archives, Dharamsala, India
Semua kesalahan adalah murni akibat ketidak-telitian transkriptor, translator, & penyelaras fonetik

Jang-chub Sem-pa'i C'od-pa Nyid Jug-pa, penuntun jalan bodhisatwa, mirip penuntun hidup samurai, penuntun hidup para pejuang, istilah dalam dharma, j'ang-chub sem-pa merupakan kekuatan pejuang, keberanian; jadi inilah penuntun jalan para pejuang.

Anda mungkin sudah familiar dengan strategi perang Tsun Zu, jaman sekarang ini bahkan para politikus juga menggunakannya, strategi marketing, para pebisnis, para pemimpin, jadi kira-kira begitulah. Namun, ini adalah penuntun jalan para pejuang yang berbeda sama sekali, seorang pejuang yang berada dalam jalur untuk memperoleh kebahagiaan sejati, tidak hanya untuk diri sendiri saja, tapi untuk semua makhluk. Barangkali dari sudut pandang mahayana, ia adalah pejuang yang maha besar, kita bisa menjadi pejuang seperti itu, namun tidak perlu terlahir dalam keluarga pejuang, hal demikian akan dijelaskan di bagian awal dari naskah ini, yaitu pada bab pertama.

Kita mampu menjadi seorang bodhisatwa (j'angchub sempa), bahkan secara tiba-tiba, perbedaanya hanya terletak pada cara berpikir, tetapi, seorang pejuang sangat banyak tugas, seorang pejuang harus pergi ke medan perang, harus mengetahui strategi perang, perlu memiliki berbagai keterampilan agar jangan jatuh ke dalam masalah dan pada saat bersamaan menyelamatkan orang lain dari masalahnya, selain itu banyak tawanan perang yang harus diselamatkan, tawanan perang yang sangat banyak, kita tidak membicarakan satu atau dua orang tawanan, selain itu tebusan juga sangat tinggi. Uang tebusan yang ditawarkan sangat tinggi, dan medan perang juga sangat luas, keadaan demikian, kondisi sangat mencekam, suasana hati juga cukup tertekan, namun seorang pejuang yang sangat ingin pergi ke medan perang ini, apabila mereka betul-betul terlatih dan diberikan berbagai latihan khusus bagi pejuang, dalam hal ini bukan latihan seperti anggar, baris-berbaris; tetapi mereka diberi pelatihan batin, ini bukan hanya suatu tugas yang sangat sulit namun juga disertakan suka cita dalam berpartisipasi dalam kegiatan perjuangan ini.

Seandainya anda mengharapkan sebuah upacara, sejenis upacara untuk meng-anugerahkan anda sebagai seorang pejuang, maka kita boleh melakukannya, sebelum itu, barangkali anda harus mendengarkan tiga bab pertama terlebih dahulu, setelah itu kita boleh melakukan upacara, j'anchub sempa tonpa len, upacara ini merupakan upacara untuk masuk dan menjadikan anda sebagai seorang prajurit, seorang pejuang.

Tenang saja, itu upacara sederhana kok, tentu saja upacara ini harus dimotivasi oleh batin welas asih dan kebaikan hati. Walaupun itu hanya sementara saja, tapi tetap bermanfaat.

Ada sebuah kisah indah dari Buddha Shakyamuni, bagaimana ia melakukannya, bagaimana pada pertama kalinya Ia memulainya, suatu ketika Buddha Shakyamuni adalah seorang makhluk biasa, karena sangat biasa, ia terlahir ke alam neraka, sebagai akibat karma buruk, ia terlahir ke alam neraka, ia harus menarik sebuah roda besi yang sangat besar, dan diawasi oleh pengawas neraka, mereka berdua, dua orang makhluk neraka yang bersusah payah menarik roda besi besar, Buddha yang pada saat itu adalah seorang makhluk penghuni neraka, temannya itu sangat lemah dan hampir tidak mampu menarik roda besi itu, Ia sangat sedih melihat temannya yang sangat lemah, kemudian ia memohon kepada pengawas neraka, “Biarkanlah temanku istirahat, biarkanlah saya sendiri yang menarik dua roda”, pengawas neraka sangat murka dan memukulnya hingga mati, sesaat itu juga, dengan kematiaan sesaat itu, berlandaskan welas asih dan pemahaman, ia telahir ke Tushita.

Setelah banyak kehidupan berlalu, secercah welas asih inilah yang membawa ia menelusuri jalur bodhicitta, terlahir kembali lagi di bumi ini, ia sangat miskin sekali, ia tidak memiliki apapun, kemudian ia bertemu dengan Buddha Dimpamkara, pada saat itu Buddha Dipampakara masih seorang bodhisatwa dan ia merupakan seorang tukang pot, Buddha Shakyamuni yang pada saat itu adalah orang miskin tersebut mendekatinya untuk memohon ajaran bodhicitta, kemudian Bodhisatwa bilang, 'Kita butuh suatu upacara, bagian dari upacara ini, anda harus mengorbankan sesuatu, anda harus memberikan persembahan kepada saya', tapi orang miskin itu tidak memiliki apapun, namun ia mempersembahkan waktunya, tenaganya, untuk memberikan tanah liat untuk kebutuhan pot.

Jika anda betul-betul ingin sebuah upacara setelah mendengar tiga bab pertama, kita bisa melakukan upacaranya, tapi saya akan meletakkan ini diurutan kedua, orang Bhutan senang sekali dengan upacara, saya yakin apabila anda diberi kesempatan untuk mengadakan upacara ini, anda pasti akan melakukannya dengan sangat meriah, sebelum bercerita jauh-jauh, apa manfaatnya menjadi seorang pejuang? Menjadi seorang bodhisatwa? Banyak sekali, bahkan tak terhitung.

Suatu ketika saya berada di Bodhgaya bersama guru saya, H.H. Dilgo Kyentse Rinpoche, kita di sana, dan beliau memberikan pidatonya kepada kita, beliau berkata “Seandainya ada sebuah kereta yang didalamnya penuh oleh Arhat, Arhat adalah makhluk yang mempunyai realisasi cukup tinggi, dalam tradisi Sravakayana Arhat adalah yang tertinggi bagi mereka, seadainya kereta ini berisi 500 orang arhat, namun tidak ada kuda menarik kereta itu, Buddha akan datang dan tanpa berpikir panjang untuk menarik kereta itu, namun ada satu orang makhluk biasa, ia bahkan tidak memiliki bodhicitta, namun ia telah pernah mendengar kata bodhicitta, tiba-tiba orang itu melompat ke atas kereta itu, Buddha bilang, ia harus menarik kereta itu dengan lehernya sendiri, jadi jalur ini, jalur bodhisatwa sangat diagungkan, yaitu bodhicitta. Barangkali inilah yang akan anda dengarkan dari Shantideva, hingga akhir, semoga saja kita bisa menyelesaikan semua syairnya, sebuah naskah yang sangat panjang sekali.

Ini merupakan naskah sangat popular berjudul chen jug, banyak komentar yang telah ditulis, bahkan semua institut buddhis, pusat dharma buddhis, mereka bahkan sudah memulai mempelajari naskah ini sejak awal, j'angchub sempa'i chenjug. Umumnya naskah ini dipelajari selama 2 atau 3 bulan, penjelasan setiap hari, karena jaman modern seperti ini, kita tidak punya banyak waktu, kita akan berderap cepat melewati semua syair, saya yakin anda semua sangat familiar dengan konsep dasar buddhisme, tentu saja anda tidak akan kesulitan dalam memahaminya.

Mengerti bodhicitta, terutama bodhicitta relatif seharusnya tidak sulit, yaitu memiliki bodhicitta, apabila menjadikan bodhicitta betul-betul bersatu dengan diri anda, ini yang sulit dan akan memakan waktu.

Itulah 'bodhicitta', ketika kita berbicara tentang bodhicitta, kita menyebutnya j'angchub gyi sem, kadang istilah ini merujuk pada sikap orientasi batin filantropik (sangat dermawan atau dengan rela berbuat sesuatu demi kebaikan semua makhluk), atau suatu orientasi welas asih, sebuah kebaikan hati, saya kira inilah istilah yang biasa digunakan kebanyakan orang. Sebetulnya tidak bisa sepenuhnya salah, yah kadang kita bilang dia adalah seorang j'angchub sempa, dia adalah seorang bodhisatwa, orang lain entah mengapa cenderung mengidentikkan dengan orang yang selalu tersenyum, orang yang tidak cepat marah, orang yang lemah lembut, barangkali itu aspek kecilnya, saya juga tidak bisa bilang bahwa anda salah, tapi satu hal yang bisa saya tegaskan, definisi anda tidak lengkap!

Jadi pengertian anda tidak lengkap tentang bodhicitta, bodhicitta tidak hanya simpatik, sejenis sikap simpatik atau filantropik, pada dasarnya bodhicitta sangat sederhana dan mudah diterapkan, bodhicitta terbentuk dari 2 hal, Welas Asih dan Arif Bijaksana, jadi sangat penting untuk men-camkan dua hal ini dalam kepalamu, bukan Arif bijaksana saja, namun kita membutuhkan arif bijaksana karena arif bijaksana lebih penting daripada welas asih, kebaikan hati, moralitas dan sejenisnya. Anda mengerti ini ketika kita telah sampai pada bab sebilan.

Mungkin awal-awal ini, kita akan banyak berbicara latar belakang, dan tahukah anda alasan mengapa bodhicitta memiliki dua komponen? Thab-dang Sye-rab, yaitu arif bijaksana dan upaya-kausalya, atau kebijaksanaan dengan metode.

Banyak penganut buddhis yang cenderung melupakan kebijaksanaan, hal ini wajar, karena menurut saya, batin manusia pada umumnya hanya berpikir tentang agama, celakanya buddhisme selalu dimasukkan dalam kelompok agama, mengapa? Karena kalau kita berbicara tentang agama, kita selalu mengaitkan dengan moralitas, sanksi perbuatan, berbuat kebaikan dan menghindari perbuatan salah, dengan menerapkan metode seperti ini, anda akan mencapai tujuan tertentu seperti terlahir di surga, dan sebagainya. Buddhisme tidak hanya seperti itu saja, sesungguhnya buddhisme cukup rumit.

Suatu ketika, Siddharta diam-diam kabur dari istana dan setelah menghabiskan waktu selama enam tahun di dekat tepian sungai Neranjana, akhirnya ia mencapai pencerahan sempurna, dan ia mengajarkan dharma di Varanasi, beliau sungguh tidak tertarik untuk menciptakan suatu aturan ketat yang bersifat mengikat, sungguh penting bagi anda untuk mengetahui hal itu, saya ingin mengaris-bawahkan hal ini, lihatlah, bagi beliau, menemukan kebenaran sejati begitu penting, beliau bilang mengapa kita begitu menderita? Alasan mengapa kita begitu gelisah, mengapa begitu banyak ketakutan. Ketika saya berbicara tentang penderitaan, kita tidak hanya merujuk pada penderitaan kasar, penderitaan yang tertampak oleh mata seperti duduk tak berdaya di kursi roda, saya bicara semua jenis penderitaan, orang kaya menderita karena penderitaan tidak tahu harus memilih antara BMW atau Mercedesh Benz tadi pagi, kaum miskin menderita karena ketidaktahuan harus melakukan apa, darimana bisa dapat makanan.

Pada dasarnya ada lapisan 'selimut' ketidakpastian atas kehidupan, sama sekali tidak pasti, tentu saja kita memiliki banyak ketidakpastian, bahkan kita abaikan begitu saja. Saya bisa saja membicarakan hal ini, tapi saya pribadi tidak pernah berpikir hal demikian setiap waktu, saya yakin akan tetap hidup sampai tanggal 17 ini, saya yakin bahwa saya akan sampai selamat di Bangkok, kemudian saya akan yakin bahwa pesawat transit saya akan menunggu kedatangan saya, semuanya telah dikonfirmasikan, saya yakin ketika tiba di tempat tujuan akan ada orang yang datang menjemput, dan sebagainya dan seterusnya. Sesungguhnya saya lebih buruk, bahkan lebih buruk daripada anda, mengapa? Karena saya sudah buat rencana sampai bulan april 2008, sungguh luar biasa buruknya saya, karena saya mengabaikan total atas ketidakpastian itu, kepastian akan kehidupanku. Ini adalah ketidakpastian konstan, tidak ada satu hal pun yang bisa anda yakin dengan pasti. Teman anda, musuh anda, situasi anda, tidak ada satupun yang pasti, ini hanya satu aspek dari kehidupan kita.

Apa yang dikatakan Siddharta? Apa yang beliau temukan? Inilah yang beliau temukan, beliau menemukan bahwa semua gelisah, semua penderitaan, semua ini disebabkan oleh ketidaktahuan tentang kebenaran sejati. Sangat sederhana bukan? Jika anda ada kesempatan untuk membaca beberapa sutra dari Buddha, atau shastra murid Buddha, maka anda akan menyadari bahwa para murid Buddha sungguh adalah para terpelajar dan pintar, semua fenomena yang terbentuk adalah tidak kekal, semua hal yang terbentuk tidak kekal, semua barang yang dibuat akan hancur perlahan-lahan, ini adalah ilmu sains, betulkah? Tidak ada orang yang bisa menyangkal teori Buddha, tidak ada satu orang pun, bahkan dari jaman Buddha pertama kali mengajarkan hal ini hingga jaman sekarang, tidak ada orang yang mampu menyangkalnya, dan tidak mungkin fenomena yang terbentuk itu tadi bisa tiba-tiba entah bagaimana menjadi kekal, sungguh kebenaran sejati, beliau tidak hanya mengajarkan kebenaran sejati itu saja, masih banyak lagi, seperti Empat Kebenaran Mulia, Empat Segel Utama, masih banyak lagi.

Oke, barangkali satu lagi, apa yang disabdakan oleh Buddha? Segala sesuatu, segala emosi yang berasal dari rasa melekat kuat pada 'ego' atau sang 'aku' adalah penderitaan. Sekali lagi, itu benar, sungguh benar! Selama anda memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan sikap mementingakan diri sendiri atau melekat kuat pada diri anda sendiri, ujung-ujungnya akan menjadi penderitaan. Sunguh kebenaran sejati, dan sekali lagi, ilmu sains murni! Tidak ada kandungan relijius kan di bagian itu, tidak ada dogmatik di bagian itu, tidak ada moralitas di bagian itu, sungguh sederhana bukan?

Sebetulnya Buddha bisa saja menulis buku tentang kupu-kupu tertentu memiliki sistem pencernaan khusus, Buddha bisa saja menulis buku demikian, Buddha bisa membuat penemuan yang kita sebut sebagai penemuan mutakhir yang bisa membuatnya memenangkan hadiah Nobel, tentu saja beliau bisa, tapi apa yang ada dalam pikiran Buddha tentang hal itu? Semua itu tak berguna, apa manfaatnya belajar sistem pencernaan kupu-kupu, karena apa? Karena tidak akan bisa menyelesaikan masalah-masalah di dunia, beliau langsung menuju pada akar permasalahan; Oke, dengan melakukan penelitian tentang sistem pencernaan kupu-kupu mungkin bisa bermanfaat bagi, satu, dua, atau bahkan ratusan atau ribuan kupu-kupu, cuman itu saja, sampai disitu saja, bagaimana dengan yang lainnya? Bagaimana dengan sistem pencernaan manusia? Buddha tidak tertarik pada sistem pencernaan kupu-kupu, beliau langsung menunjuk akar permasalahan.

Oke, sekarang apa yang menjadi akar permasalahan setiap manusia? Buddha sampai pada kesimpulan, akar permasalahan manusia adalah manusia sampai pada kesimpulan bahwa ada sesuatu yang kekal, padahal segala sesuatu itu tidak kekal, jadi apa yang kita lakukan? Semua itu tidak akan berlangsung selamanya, suatu ketika anda mengerti bahwa tidak hanya secara intelektual saja, namun anda mengalaminya sendiri, dan ketika anda mengerti berarti anda sudah siap untuk menerima kabar buruk!

Seandainya anda bisa pergi untuk belajar filosofi buddhis, setahap demi setahap, anda tidak akan menemukan kaitan budaya, anda akan belajar bahwa semua fenomena yang terbentuk tidak kekal, teori seperti ini tidak ada kaitan sama sekali dengan budaya, biarpun anda pergi ke Bhutan, Cina, India, Tibet, semuanya sama, tidak ada perbedaan antara ketidakkekalan masyarakat Bhutan dengan ketidakkekalan masyarakat Cina, bahkan ketidakkekalan dinasti Tang sekalipun, atapun ketidakkekalan Gupta apalagi, semuanya sama!

Unik bukan? Secara personal saya pernah berpikir hal ini, saya bukanlah seorang penganut buddhis murni, saya hanya seorang relijius buddhis garis keras, orang seperti saya ini senang membuat semua manusia di muka bumi ini menjadi pengikut buddhis, tentu saja ini tindakan tidak benar, saya juga tahu itu tidak benar, tapi apabila saya memberikan kesempatan, YAH, itulah yang saya inginkan.

Tapi, saya sangat frustasi, karena, apabila saya ingin melakukan demikian, jika saya benar-benar ingin mentransformasi seluruh dunia menjadi pengikut buddha, saya harus me-reformasi buddhisme, dengan me-reformasi buddhisme, maka saya akan membuat buddhisme semakin buruk, kemudian dengan terpaksa saya harus bilang, semua penganut buddhis tidak boleh makan daging ayam, sesuatu seperti itu, setiap penganut buddhis harus selalu mengenakan kaos kaki, semua penganut buddhis harus minimal satu kali pergi ke Bodhgaya, sesuatu seperti itu, semua pengganut buddhis harus.......menutupi hidungnya, apa sajalah terserah, saya tidak tahu.....

Lantas, saya yakin akan mendapatkan banyak pengikut, karena kita berbicara demokrasi, tapi dari lubuk hati paling dalam, kita sangat senang apabila ada seseorang yang datang dan memberitahu kita harus berbuat apa, tahu kenapa? Karena kita bangga jika menjadi anggota klub tertentu, klubbing sangat penting, di Bhutan begitu banyak klub, bahkan di komunitas buddhis, klub ini, klub itu, klub-klub apa lagi, Klubbbbb! Saya adalah anggota dari klub ini, sungguh penting bagi mereka, dan di dalam klub itu ada peraturan dan aturan khusus, celakanya kita sangat bangga dengan aturan-aturan itu, bukankah begitu??

Mengapa Buddha menyuruh pada muridnya untuk mencukur habis rambut di kepala, mengenakan jubah warna merah, dan sejenisnya? Beliau bukanlah menolak metode-metode demikian, ingat bodhicitta, arif bijaksana, dan welas asih, metode, upaya-kausalya? Arif bijaksana adalah mengerti bahwa semua fenomena yang terbentuk dari berbagai faktor adalah tidak kekal, mengerti itu saja sudah termasuk kebijaksanaan, tapi demi untuk membangun kebijaksanaan seperti itu dalam sistem kita, tentu saja itu akan menjadi tantangan tersendiri, mengapa? Karena selama berabad-bada lamanya, kehidupan demi kehidupan, kebiasaan (habit) kita yang tidak menerima bahwa segala sesuatu tidak bisa berdiri sendiri, bayangkan saja sendiri.

Tahukan anda bagaimana aturan upacara pernikahan dalam buddhis? Tahukah anda bahwa tidak pernah ada upacara pernikahan dalam buddhis? Jika ada seorang biksu disini, mereka hanya melafalkan beberapa sutra sebagai pertanda baik saja, sekali lagi, tidak ada upacara pernikahan dalam buddhis yang diajarkan oleh Buddha, Buddha bukanlah seseorang yang mandeg dalam sistem budaya. Seandainya ada tertulis upacara pernikahan, Buddha barangkali akan bilang demikian, “Oke, kalian berdua akan menikah, tapi tahukah anda bahwa ini tidak akan berjalan seperti yang kita inginkan”, barangkali ini yang akan beliau katakan, tapi Buddha begitu welas asih, jika beliau hanya berorientasi pada kebijaksana saja (wisdom-oriented), maka beliau akan bilang begini, “Oke, ini tidak akan berhasil, jadi anda tidak perlu menikah!” tapi beliau tidak mengatakan demikian! Beliau cuman bilang, “Baiklah, kalian berdua akan menikah, mungkin ini tidak akan berhasil, tapi marilah kita adakan sebuah upacara yang baik, mari saling menaburkan bunga, tukar cincin, atau apa sajalah....”

Inilah metode, upaya-kausalya, dua hal ini tidak bisa dipisahkan, arif bijaksana dan metode, terutama dalam pernikahan, bahkan seseorang memunculkan konsep perceraian, di Bhutan kalian sebut itu Tengen (bad omen) atau pertanda buruk, bagaimana anda bisa bicara tentang perceraian pada di hari yang sangat bahagia ini?

Jadi kita kembali lagi kepada bodhicitta, bodhicitta terdiri atas 2 aspek, arif bijaksana dan welas asih; atau kebijaksanaan dengan upaya-kausalya. Welas asih dengan upaya-kausalya secara dasar sama saja. Batin itulah yang harus muncul. Apabila anda adalah seorang bodhisatwa, kita sedang mencoba membangkitakan batin seperti ini, kita sedang mencoba melestarikan batin seperti ini, kita sedang mencoba untuk mempropagandakan batin seperti ini, mereka yang mengikuti prinsip demikianlah yang kita sebut sebagai bodhisatwa.



J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researchs
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. Jang-chub Sem-pa'i Cod-pa Nyid-Jug-pa Zhug-so; Ing. The Guide to the Bodhisattva Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva


Get your email and more, right on the new Yahoo.com __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke