LOJONG : Melatih Pikiran

H.H. Dalai Lama

Diterjemahkan oleh : Hendy Hanusin

 

Pikiran Valid dan Pikiran Tidak Valid

 

            Ketika kita merujuk pada keadaan pikiran, saya seharusnya memberitahu pembaca bahwa kata untuk “pikiran” seharusnya diterjemahkan menjadi “pikiran/hati.” Satu kenyataan alami – saya kira seseorang dapat mengatakan “hukum psikologi” – dari pengalaman subyektif bentuk-bentuk pikiran dan emosi adalah dua bentuk-bentuk pikiran atau emosi yang saling berlawanan tidak dapat muncul bersama dalam waktu bersamaan. Dari pengalaman biasa sehari-hari, kita tahu bahwa bentuk-bentuk pikiran ini dapat dikelompokkan menjadi valid dan yang lain invalid. Contohnya, bila sebuah bentuk pikiran tertentu cocok dengan realita, yaitu, bila ada sebuah kecocokan antara sebuah keadaan urusan di dunia dan persepsi seseorang pada hal itu, maka orang itu dapat menyebutnya sebuah bentuk pikiran valid atau pengalaman valid. Tapi kita juga mengalami bentuk-bentuk pikiran dan emosi yang benar-benar berlawanan dengan cara semua fenomena eksis. Dalam beberapa kasus, itu mungkin adalah sebuah bentuk berlebihan, tapi dalam kasus lain itu mungkin sama sekali bertentangan dengan cara semua fenomena eksis. Bentuk-bentuk pikiran dan emosi-emosi ini dapat dipahami sebagai invalid dan tanpa landasan.

            Teks-teks Buddhis, khususnya yang berhubungan dengan filsafat, menarik perbedaan antara bentuk-bentuk pikiran dan emosi valid dan invalid untuk dijadikan diskusi pengertian valid atau pemahaman sejati dan hasil-hasilnya atau buah-buah. Poin yang ingin saya buat di sini adalah supaya sebuah usaha keras sukses dan membawa pada pencapaian sebuah tujuan, ini membutuhkan bentuk-bentuk pikiran dan emosi-emosi valid.

            Dalam teks-teks Buddhis, pencapaian pembebasan spiritual tertinggi, nirvana dan pencerahan, dikatakan adalah buah dari bentuk-bentuk pikiran dan emosi-emosi valid. Contohnya, menurut ajaran Buddhis, faktor utama yang menunjang pencapaian pencerahan atau kebuddhaan dikatakan sebagai wawasan pemahaman yang benar akan hakikat realita. Wawasan pemahaman yang benar akan hakikat realita adalah sebuah cara valid mengetahui fenomena, seperti hakikat dunia dan seterusnya. Lebih lanjut, bila kita melihat pada banyak faktor yang saling melengkapi seperti welas asih, altruisme, dan aspirasi untuk mencapai kebuddhaan untuk manfaat kepentingan semua makhluk hidup (bodhicitta), ini semua berlandaskan bentuk pikiran valid. Walaupun altruisme dan welas asih lebih merupakan sebuah emosi daripada bentuk pikiran memahami, proses yang membawa pada pencapaian welas asih universal dan bodhicitta melibatkan usaha membandingkan antara kebenaran dan kesalahan. Ini adalah sebuah proses memupuk cara-cara valid dalam melihat dan mengalami semua hal. Maka, kita dapat mengatakan bahwa kebuddhaan sendiri adalah sebuah konsekuensi dari bentuk-bentuk pikiran dan emosi-emosi valid. Secara kontras, kita dapat melihat pengalaman tak tercerahkan (samsara) sebagai produk dari cara-cara invalid dalam mengalami dan melihat.

            Contohnya, menurut Agama Buddha, akar fundamental dari keberadaan tak tercerahkan dan penderitaan kita dikatakan sebagai kebodohan (avidya). Karakteristik utama dari kebodohan ini adalah cara salah dalam memahami dunia dan diri kita sendiri. Sekali lagi, bentuk-bentuk pikiran dan emosi-emosi invalid, cara-cara invalid dalam melihat dan mengalami semua hal dan diri sendiri, adalah sumber mutlak penderitaan dan keadaan tak tercerahkan kita. Poin utama, dalam analisa akhir, adalah ada hubungan antara bentuk-bentuk pikiran valid dan emosi valid dan kebahagiaan dan pembebasan spiritual, dan antara bentuk-bentuk pikiran invalid dan emosi invalid dan penderitaan dan keadaan tak tercerahkan.

            Dalam praktek latihan pikiran Buddhis, atau disiplin mental, penekanan diberikan pada melakukan sebuah metode atau sebuah proses di mana bentuk-bentuk pikiran valid dan emosi valid dapat dikembangkan, dimajukan dan disempurnakan, dan di mana bentuk-bentuk invalid dinetralkan, dikurangi, dan akhirnya dihapuskan. Sesuatu yang harus kita mengerti dan hargai ketika melakukan pendekatan pada sebuah tehnik seperti latihan pikiran Buddhis adalah kompleksitas tugas yang kita hadapi. Naskah Buddhis menyebutkan 84.000 tipe bentuk-bentuk pikiran negatif dan merusak, yang berhubungan dengan 84.000 pendekatan berbeda atau antidotenya. Maka penting untuk tidak mempunyai pengharapan tidak realistis bahwa dengan suatu cara, di suatu tempat, kita akan menemukan kunci ajaib yang akan menolong kita menghapus semua hal negatif ini.

            Maka, kita memerlukan kebulatan tekad yang besar dan kesabaran. Adalah salah untuk berharap satu kali anda mulai praktek Dharma, anda akan menjadi tercerahkan dalam suatu periode waktu singkat, mungkin dalam satu minggu. Ini tidak mungkin dan tidak realistis.

            Saya ingin merujuk pada sebuah ungkapan indah yang dibuat Nagarjuna ketika beliau berbicara tentang perlunya kesabaran dan penghargaan akan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk benar-benar terlibat dalam sebuah proses latihan pikiran atau disiplin mental. Nagarjuna berkata bila – melalui latihan mental dan disiplin, melalui wawasan pemahaman dan penggunaan trampilnya – anda dapat mengembangkan suatu rasa ketentraman dan percaya diri, sebuah ketentraman yang benar-benar berakar dalam pijakan pasti kokoh, waktu yang dipakai tidak menjadi masalah. Berlawanan dengan sudut pandang Nagarjuna, dari pengalaman pribadi kita, waktu menjadi masalah. Bila kita sedang mengalami sebuah kejadian kesengsaraan tak tertahankan, bahkan untuk waktu singkat, kita ingin keluar darinya secepat mungkin.

           

 

__._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke