Namo Buddhaya untuk Bro dan Sis sekalian,

Kalo boleh saya ikutan bicara, ttg poligami itu baik atau tidak, hendaknya kita renungkan dahulu beberapa hal.
Pertama sekali, apa sih motivasi kita / seseorang dari menikah ? apakah kepuasan birahi, tuntutan sosial (orang tua), mengikuti kebiasan manusia pada umumnya, untuk memiliki keturunan, cinta kasih / ikatan bathin yang sudah sedemikian kuat dengan pasangan, demi hari tua atau karena hal lainnya.

Sang Buddha tidak menyalahkan orang yang berpoligami, tapi Beliau tidak menyarankan, spt dalam sigalovada sutta :
  "O putra kepala keluarga, dalam lima cara seorang istri harus diperlakukan
   oleh suaminya seperti arah Barat: dengan menghormati; dengan bersikap
   ramah-tamah; dengan kesetiaan; dengan menyerahkan kekuasaan rumah
   tangga kepadanya; dengan memberi barang-barang perhiasan kepadanya."

Maksudnya untuk seorang pria yang berpoligami, apakah bisa menjaga kesetiaannya pada istri pertama ? atau pada istri2 nya yang lain ?
Bisakah ia memenuhi kebutuhan materi dan non materi untuk istri2nya secara adil, juga untuk anak2nya ?
Juga, keluarga2 / mertua / ipar2nya dari semua istri2nya, apakah ia bisa menjaga hubungan yang baik di antara mereka ?

Sang Buddha tidak menyarankan, karena di dalam berpoligami itu, bila orang2 yang terlibat di dalamnya tidak bisa menyikapinya dengan bijak, bisa melahirkan berbagai masalah sosial yang bisa menyebabkan seseorang dan orang lain terjatuh ke dalam jurang Lobbha, Dosa, dan Moha, yang ujung2nya akan menyebabkan penderitaan.

Dalam kasus tertentu, mungkin poligami terlihat baik baik saja. Spt temannya kakak saya, yang hidup dikeluarga poligami, sang ayah dan kedua istrinya bisa hidup rukun, juga diantara anak2 kedua istri tsb (mungkin pernah ada masalah, namun tidak menjadi besar, dan tentu saja saya tidak tahu banyak ttg hal tsb).

Tapi dalam kasus2 lainnya yang tidak bisa saya sebutkan, poligami bisa melahirkan masalah2 yang pelik, dan berujung pada penderitaan.

Nah... jadi baik atau buruk tergantung yang menjalani. Tapi, kita yang tahu bahwa Poligami atau segala sesuatu yang diniati oleh pemuasan nafsu belaka akan mengakibatkan dukkha, sebaiknya menyarankan pada teman2 / sodara2 kita untuk tidak melakukannya, dan tentu saja tidak melakukannya sendiri.

Sukkhi Hottu,
-CFR-

sampah_batin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
kepada irwan,

anda menulis:
> > Dalam ajaran Sang Buddha sendiri kalau tidak salah pernah di
bahas, bahwa poligami itu tidak melanggar sila, hanya melanggar bagian
laku batin yang disebut lobha atau serakah, tapi, saya juga tidak
berani mencap demikian, kenapa, ya, karena itu tadi, ukurannya hati,
ukurannya niatan dalam melakukan itu, apakah niatnya sekedar pemenuhan
nafsu indriya atau murni ingin memberikan kebahagiaan dan juga bantuan
atas keterbatasan hidup.

respon saya:
atas dasar apa anda mencap ajaran Buddha dengan "ukurannya hati",
"ukurannya niatan" ?
apa anda sudah membuktikan pandangan anda tersebut?
atau anda hanya meminjam pandangan dari buku maupun pandangan orang lain?
apakah untuk memberikan kebahagiaan dan juga bantuan atas keterbatasan
hidup harus dengan berpoligami?
apakah tidak bisa dengan cara lainnya?
kalo bisa, apa bedanya sama poligami?

Kepada Tirta,

anda menulis:
> Selama yang terlibat suka en mau plus ikhlas....koq yang gak kesangkut
> jadi repot sih?.....katanya 'ada' karma....kalo karmanya begitu apa
kudu
> dilarang? Menyalahi karma dong jadinya!:-)

Respon saya:
Memang kalo mau ikut repot kenapa?
bukankah tanda kepedulian?
kalo memang ternyata bisa lebih baik dengan ikut repot bagaimana?
soal karma mang sapa yang nentuin karma?
bukankah karma itu sebab akibat?
bukankah akibat di saat ini disebabkan oleh masa lalu?
bukankah akibat di masa depan disebabkan oleh saat ini?
siapa yang menjalankan saat ini?
yang menjalankan bisa menentukan akibat masa depan dong?

salam,

si kotor

--- In [EMAIL PROTECTED]ups.com, "Tirta D. Arief" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Numpang 'guyon' ah.....
> Selama yang terlibat suka en mau plus ikhlas....koq yang gak kesangkut
> jadi repot sih?.....katanya 'ada' karma....kalo karmanya begitu apa
kudu
> dilarang? Menyalahi karma dong jadinya!:-)
>
> salam,
> tda
>
> On Tue, 31 Oct 2006, BCL T wrote:
>
> > Seorang sahabat, N, bertanya ke saya via japri soal Poligami dan
saya kira dengan masih cukup maraknya diskusi soal ini, mungkin
jawaban saya ke sahabat itu bisa dijadikan sebagai suatu bacaan yang
ikut memperkaya pandangan.
> >
> > Mungkin memang dalam ajaran Buddha tidak ada satu sutta yang
secara specifik menjabarkan itu, mungkin juga ada tepatnya saya tidak
ingat sutta yang mana, namun yang masih jelas dalam ingatan saya bahwa
sekitar akhir tahun 1989 - awal 1990, soal poligami itu pernah di
diskusikan di kalangan umat buddha waktu itu dan saya ikut
mendengarkan, jadi yang saya tuliskan di bawah ini adalah bagian dari
diskusi yang saya dengar itu. Sangat mungkin, pandangan itu merupakan
hasil interpretasi saja dari ajaran yang ada, namun, kembali lagi,
soal poligami ini kelihatannya tetap merupakan persoalan yang tidak
sederhana.
> >
> > Jadi, saya sekedar memforward bagian dari jawaban saya, sisanya
terserah anda masing-masing.
> >
> > salam
> > irwan
> >
> > ===
> > Rekan N,
> >
> > Saya tidak mengikuti diskusi soal poligami itu dengan lengkap,
malah saya juga tidak terlalu mengikuti diskusi di milis-milis itu
semua, yang saya baca dan amati dengan teliti itu cuma tulisan dari
beberapa orang saja, dan itu juga tidak semua topik. Bisa habis waktu
kita kalau semua topik dan masalah kita tanggapi dan baca, sahabat.
> >
> > Coba anda bayangkan, kalau misalnya anda itu ke supermarket,
carrefourlah, mungkin kalau semua barang yang ada di sana anda amati
dengan teliti, sehari saja tidak cukup waktu untuk mengamati itu,
bukan? Atau kalau ke kebun raya bogorlah, semua rumput, daun dan
tanaman anda amati dan telusuri, habis dong waktunya.
> >
> > Kita tidak bisa mengamati semuanya yang ada diluar kita, dan itu
juga bukan kewajiban kita, yang perlu dan berguna bagi kitalah yang
kita ambil, yang tidak, tentu tidak usah.
> >
> > Nah, kalau anda bertanya ke saya, silahkan semua uneg-uneg,
pandangan dan keluh kesah anda itu boleh dituliskan, agar saya bisa
dapat gambaran apa sih yang anda pikirkan dan apa yang anda butuh
untuk dijawab, jadi, diskusinya tentu akan lebih mudah.
> >
> > Tentang poligami sih, itu tergantung kebudayaannya dan tergantung
pandangan pribadi masing-masing dan tergantung jamannya. Boleh
dikatakan juga tergantung agamanya. Di islam itu ajaran yang
mengatakan seorang pria itu boleh memiliki istri lebih dari satu, ASAL
istri pertamanya mengijinkan dengan rela/ikhlas. Ini kan sebetulnya
kalimat yang paradoksal atau kalimat berkait, mana ada sih wanita yang
100% ikhlas mereka di madu. Jadi sebenarnya hampir tidak mungkin atau
hanya sedikit sekali wanita yang bisa dengan ikhlas di madu. Mungkin
ada, entah itu karena kebudayaannya begitu atau si wanita itu
memandang pernikahan itu bukan sebagai suatu bentuk kepemilikan suami
atau fungsi seksual semata, tapi lebih pada tanggung jawab sebagai
ibu, sebagai salah satu tiang keluarga.
> >
> > Berspiritual itu ukurannya hati, jadi, kita musti bisa melihat
hati-hati para manusia yang terlibat di dalamnya, apakah ada kerelaan
dan kebahagiaan murni atau tidak, kita mestilah bisa melihat dengan
jernih....
> >
> > Dalam ajaran Sang Buddha sendiri kalau tidak salah pernah di
bahas, bahwa poligami itu tidak melanggar sila, hanya melanggar bagian
laku batin yang disebut lobha atau serakah, tapi, saya juga tidak
berani mencap demikian, kenapa, ya, karena itu tadi, ukurannya hati,
ukurannya niatan dalam melakukan itu, apakah niatnya sekedar pemenuhan
nafsu indriya atau murni ingin memberikan kebahagiaan dan juga bantuan
atas keterbatasan hidup.
> >
> > Kita bisa melihat, kan ada saja wanita dan daerah yang miskin
atau terbatas kaum pria nya dan juga saking miskinnya, para wanita
banyak yang menjual diri. Tentu dari pada menjual diri, menjadi istri
resmi dari satu orang, merupakan pilihan yang lebih baik, asal semua
pihak saling mengasihi dan saling mengisi dalam kehidupan.
> >
> > Karena ukurannya hati, dan hati itu tidak bisa diukur dengan
meteran atau alat ukur, makanya dikatakan yang bisa mengukur itu
adalah Tuhan, dan karenanya kita sebagai manusia itu tidak berhak
untuk mengukur, menilai apa lagi sampai menghakimi.... ukurannya
apa???? Orang - orang yang diberikan kemampuan untuk bisa melihat
dengan jelas niat dan isi hati orang lain, pun diberikan kebijaksanaan
untuk tidak sembarangan membuka rahasia ini.... agar, tatanan
kehidupan tidak menjadi rusak, agar semua bisa belajar untuk bisa
mendengar sendiri suara hatinya dan menemukan kebenaran darinya.
> >
> > Oh ya, pelajaran pertama dari guru saya dulu itu adalah bagaimana
bertanya yang benar. Bertanya yang benar itu akan membuat kita
memperoleh jawaban yang benar, yang tentunya akan berguna dalam
kemajuan batin kita.... semoga ini bisa dilatih dan sedikit sudah saya
share di atas.
> >
> > Semoga berguna.
> > salam
> >
> > irwan
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Get your email and see which of your friends are online - Right on
the new Yahoo.com
>



What will the world find in 2020?
Leave a part of your 2006 in the Yahoo! Time Capsule. Contribute now! __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke