Dearest Bros & Sis,
 
Anda Seorang Buddhis Teoritis Yang Baik.
 
Akan Jauh Lebih Indah Seandainya Anda Mendapatkan Kalimat2 Itu Dari Hasil "Pergumulan Anda Sendiri" Via Praktik Bhavana & Meditasi Ketimbang TextBook Minded Hasil Pikiran Orang Lain.
 
 
with metta, ika.

junaidi anwar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
--- In [EMAIL PROTECTED]ups.com, Ika Polim <[EMAIL PROTECTED].> wrote:
>
> Dearest Bros & Sis,
>    
>   Saya Tertarik Dgn Contoh "Lapar" Itu.
>    
>   Kalau Anda "Lapar", Apa Atau Siapa Yang "Lapar" Dari Diri Itu ?
>    
>   Kalau Saja Anda Pernah Mempunyai Pengalaman Ttg "Lapar" & "Rasa Lapar" Dan "Rasa Kelaparan" Itu "Tiba2" Lenyap Di Dalam "Kedalaman" Praktik Bhavana, Tentunya Bro Jun Tidak Memilih Itu Sbg Contoh!

Pada level konvensional (analisa dgn cara panca indera, baik itu secara visual, perasaan, kulit, hidung, dll, dan analisa batin yaitu proses mental, logika, dll) memang kita merujuk pada saya yang lapar dan memiliki rasa lapar, walau lenyap dalam praktik bhavana..lapar tetap eksis, dan perut bro Ika tetap kosong, dan harus makan. tapi entahlah siapa tahu anda memiliki kekuatan ajaib, terus tidak perlu makan hingga bertahun-tahun karena praktik bhavana, o well, I don't know :)

contoh lagi sebuah gelas (pada tingkat pemahaman konvensional), gelas bisa kita visual dan telah kita beri label (sama seperti pelabelan atas sosok manusia bernama Ika Polim). itu bisa diterima secara umum, dan buddhis juga menganggap itu salah satu kebenaran.

kebenaran sejati pada tingkat pemahana tertinggi, yaitu gelas terbuat dari berbagai faktor, ada elemen pembentuk gelas, kalau di pecahkan, maka label terhadap gelas itupun berubah atau hilang, mungkin kita akan sebut gelas pecah, tumupukan kaca, atau sejenisnya.

inti dari contoh sang 'aku' lapar, maupun contoh pe-label-an gelas adalah 'membunuh' kemelekatan pada badan jasmani maupun kemelekatan terhadap gelas, dan semua fenomena dunia, karena kemelekatan pada fenomena akan membuat kemerosotan batin, dan menciptakan keadaan mental buruk, kemelekatan-kemelekatan yg sangat byk ini yg membuat kita menderita dan kembali terus terlempar ke alam rendah, of course dgn kombinasi dgn faktor-faktor lain yg tdk saya sebutkan semua.


Bahkan Buddha saja merasa lapar dan harus makan, utk tetap mempertahankan agar badan jasmaninya stabil dan bertenaga utk tetap mengajar.

Tujuan dari makan adalah utk mempertahankan tubuh agar bisa meneruskan spiritual, mengakumulasi kebajikan, menyempurnakan diri, dll.


>    
>   Ada Contoh Lain,: (diambil dari kisah saudara muslim),:
>    
>   Didalam Peperangannya Salah Satu Pimpinan Pasukan Islam Terkena Anak Panah Musuh.
>   Para Kerabat Menyarankan Untuk Segera Mencabut & Mengobati Lukanya, Namun Beliau Menolak Sampai Beliau "Masuk Waktu Sholat", : Katanya, : "Tolong Cabut Anak Panah Ini Dari Tubuhku Saat Aku TENGAH Melakukan Sholat"!
>   Kerabat Melakukan Perintah Itu & Mendapati Beliau TIDAK Merasakan Kesakitan Saat proses Pencabutan Anak Panah Tsb!!!
>    

walaupun sakit, tapi bisa saja saya bilang tidak sakit (one point).
point kedua, bisa saja memang betul2 terlalu konsentrasi penuh sehingga sakit pun berkurang, bahkan tidak merasa sakit, itu bisa terjadi, dan terbukti oleh sains, karena stimulus otak atau mental yg sangat kuat, atau dlm konsentrasi penuh pada sholat atau pada meditasi bhavana tertentu. so tdk kontradiksi atau bertolak belakang :)


>    
>   Semoga Kita Lebih "Mengerti" & Lebih Maju Dalam Praktik Bhavana.
>    
>    
>   with metta, ika.
>

Semoga sudah jelas dan tidak ada salah paham, semoga bermanfaat, dan tentu saja semakin semangat dan maju dalam spiritual.


Salam dari Dharamsala, India



J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy

Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researches
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a

"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. J'ang.chub.sem.pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing. Guide to the Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva

Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail.


Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business. __._,_.___

** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **

** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **

** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **

** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari,  membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **




Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Kirim email ke