Justru karena menyadari betapa 'urgent-nya' utk meluruskan hal paling fundamental, yaitu mental dan cara berpikir, kemudian segera menerapkan dalam kehidupan, dengan berlatih meditasi, menerapkan langsung dan dibimbing oleh mereka (guru) yg bisa diandalkan utk membimbing kita, oleh karena itu-lah saya jauh-jauh pergi ke India utk belajar dan berlatih.
memang anda bisa berdalih, loh di Indonesia kan banyak guru-guru mahir, berkualitas, spektakuler, de el el........iya saya akan belajar dgn semua orang, namun bahasa tibet dan filosofi mahayana seperti yg saya pelajari sekarang ini, sudah punah sejak sepeninggalan Jowo Atisa kembali ke India dan Tibet, filosofi mahayana telah terkubur sejak meninggalnya Maha Guru Serlingpa Dharmakirti, berikut keruntuhan Kerajaan Sriwijaya.
Saya tidak-lah sehebat teman-teman lain, bisa berlatih sendiri tanpa belajar dengan orang lain atau tanpa ber-Guru pada seorang Guru spiritual (para guru besar, guru meditasi, guru filosofi, mereka yg telah memiliki realisasi tinggi), saya tidaklah sehebat mereka yg bisa "bergumul sendiri, terus tiba-tiba mencapai jhana, kesucian, arhat, bahkan pencerahan sempurna", saya sungguh bodoh, bodoh sekali, maka itu, saya butuh bantuan dan kebaikan hati para guru spiritual, saya butuh secercah kemurahan hati para sahabat dharma untuk saling berbagi hasil studi, hasil latihan, hasil pencapaian.
contoh lagi, jika mau ke India, kita perlu mempelajari bbrapa aspek fundamental yg penting terlebih dahulu, contoh letak India, di arah mana, kendaraan yg bisa kita gunakan utk kesana, ongkos, perlengkapan, dan beberapa informasi lainnya. Bila perlu, kita memohon seseorang yg telah pernah ke India utk menemani kita, itu juga boleh, terserah anda. setelah dpt informasi cukup lengkap, tapi kita tetap bermalas-malasan, santai-santai, kembali berdalih, tenang saja, saya masih bisa hidup 50 tahun lagi, nanti setelah tua saja baru pakai informasi tadi utk pergi ke India, padahal kematian bisa terjadi besok atau bahkan detik ini juga. tidak belajar dan berlatih sekarang juga, sudah terlambat.
Kata para sesepuh Kadampa, "Engkau harus sadar bahwa sangat urgent utk belajar dan berlatih dlm spiritual, dlm dharma sekarang juga, bagaikan rambut di kepala anda sedang kebakaran, kita harus segera melakukan sesuatu"
Jika, informasi India saja kita tidak punya, yakinkan dengan rute perjalanan anda ke India? seharusnya India berada di Barat Daya, tapi kita menuju arah Selatan, sampaikah kita ke India? O well, siapa tahu nyasar terus tiba-tiba nongol di India....tentu saja bagus, itu namanya hokkie :).....yg paling penting adalah mengandalkan metode utk ke India, kalau hanya mengandalkan hokkie....saya tidak berani jamin akan sampai ke India...:) dan saya bukan tipe spekulatif, yg hanya mengalkan hokkie, saya juga tidak berani jamin bahwa mengandalkan hokkie adalah jalan efektif dan efisien....tapi jika itu pilihan anda, silakan, monggo.....
sekian sharing saya, saya menulis ini adalah demi melatih batin saya, demi memperkuat pemahaman saya tentang ajaran Buddha, bukanlah demi berdebat menang atau kalah, juga bukan karena ego semata (walau saya masih punya 'ego' sangat besar, msh punya segudang kekotoran batin,dan kecenderungan negatif tak terbatas), semoga tidak tambah binggung, tapi kalau memang binggung, ya sudah, lupakan saja tulisan ini.
semoga bermanfaat, semoga tetap semangat belajar, berlatih, dan berbagi kehidupan berkesadaran.
Salam dari Dharamsala, India
--- In [email protected], Ika Polim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Dearest Bros & Sis,
>
> Anda Seorang Buddhis Teoritis Yang Baik.
>
> Akan Jauh Lebih Indah Seandainya Anda Mendapatkan Kalimat2 Itu Dari Hasil "Pergumulan Anda Sendiri" Via Praktik Bhavana & Meditasi Ketimbang TextBook Minded Hasil Pikiran Orang Lain.
>
>
> with metta, ika.
>
> junaidi anwar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> --- In [email protected], Ika Polim <ika_polim@> wrote:
> >
> > Dearest Bros & Sis,
> >
> > Saya Tertarik Dgn Contoh "Lapar" Itu.
> >
> > Kalau Anda "Lapar", Apa Atau Siapa Yang "Lapar" Dari Diri Itu ?
> >
> > Kalau Saja Anda Pernah Mempunyai Pengalaman Ttg "Lapar" & "Rasa Lapar" Dan "Rasa Kelaparan" Itu "Tiba2" Lenyap Di Dalam "Kedalaman" Praktik Bhavana, Tentunya Bro Jun Tidak Memilih Itu Sbg Contoh!
>
> Pada level konvensional (analisa dgn cara panca indera, baik itu secara visual, perasaan, kulit, hidung, dll, dan analisa batin yaitu proses mental, logika, dll) memang kita merujuk pada saya yang lapar dan memiliki rasa lapar, walau lenyap dalam praktik bhavana..lapar tetap eksis, dan perut bro Ika tetap kosong, dan harus makan. tapi entahlah siapa tahu anda memiliki kekuatan ajaib, terus tidak perlu makan hingga bertahun-tahun karena praktik bhavana, o well, I don't know :)
>
J u n a i d i
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researches
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a
"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib. J'ang.chub.sem.pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing. Guide to the Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva
Get your email and see which of your friends are online - Right on the new Yahoo.com __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
