Namo Buddhaya,

Ego oh ego (jadi teringat posting Sdr Witjong). Saya turut prihatin atas
kondisi kakak Sdr Ningsih.
Selama Ego masing2x masih kuat, tentu tidak ada jalan keluarnya. Bisa salah
satu pihak mengalah, akan tetapi biasanya tentu jadi tidak sehat dimana
mereka akan bertentangan dengan hati mereka dengan berpindah agama. atau
sama-sama mengalah biarlah mereka saling menghormati keyakinan
masing-masing. Yang lebih dipentingkan agamanya atau kebaikannya ? Selama
berbeda agama tetapi tetap saling menghormati dan bahagia tentu lebih baik
daripada dipaksa pindah agama dan tidak bahagia sama sekali.
Disini perlu direview ulang lagi, apakah suaminya mencintainya ? Jika iya,
cinta itu bisa menerima, tidak merubah seseorang menjadi seperti yg
dikehendaki. Seharusnya dia bisa menerima istrinya apa adanya tanpa harus
berubah dengan berpindah agama.

Metta,
Sumedho

On 1/31/07, ningsih kurniawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

namo budhaya,

saya ingin meminta sedikit pendapat mengenai perbedaan agama antara suami
dan istri dalam ssebuah keluarga,

Kakak saya seorang Kristiani dan istrinya seorang budhis, selama ini kakak
saya dan istrinya sering bertengkar karna istrinya menolak untuk ikut ke
gereja,
dan kemarin mungkin adalah puncak permasalahan ketika kakak saya mengancam
istrinya, jika istrinya tidak mendukung ( tidak seiman ) dengan dirinya, dia
akan menceraikannya dan tidak akan mau menanggung biaya atau tunjangan
apapun untuk istri dan 4 orang anaknya,
dan untuk informasi, ketika mereka mengucapkan sumpah janji setia satu
sama lain hingga maut memisahkan mereka, mereka lakukan dalam prosedur
pernikahan agama buddha.

jadi, sya minta pendapat dan masukkan dari temen2 di milis dharmajala,
semoga pendapat anda2 sekalian dapat berguna untuk kakak saya maupun
istrinya,

thank's,
ningsih.


------------------------------
Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai perlindungan terbaik terhadap
spam.
http://id.mail.yahoo.com/<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.mail.yahoo.com/>


Kirim email ke