Mau kasih pendapat nih dari seorang pria yang belum nikah. 1. Sebelum menikah masing masing pihak sudah tahu masing - masing berbeda agama, kenapa sudah punya 4 anak sekarang jadi masalah? Saat menikah,apakah kedua pihak sudah membuat kesepakatan mengenai agama yang akan dianut suami/istri dan anak. Apakah pindah agama adalah salah satu dari kesepakatan tersebut. Menurut saya pernikahan beda agama perlu kedewasaan yang lebih, karena beda agama itu berarti beda pandangan dan beda pola pikir, ini tidak mudah.
2. Sebenarnya apa iya alasan kakak anda mengancam kakak ipar anda cuma karena beda agama ( dari dulu juga udah tahu beda agama ), atau ada kemungkinan juga kakak anda berubah jadi fundamentalis, atau bisa juga ada motif/alasan lain. 3. Perbuatan kakak anda yang mengancam istri dengan tidak mau menanggung biaya atau memberikan tunjangan untuk istri maupun keempat anaknya adalah SANGAT MEMALUKAN, BIADAB dan TIDAK BERTANGGUNG JAWAB. Kalau perbedaan tidak dapat dicairkan, tidak dapat hidup bersama lagi kalaupun terpaksa harus cerai. hak dan kewajiban suami-istri-anak, pembagian aset, setahu saya di atur di undang - undang. Pasalnya dan ayatnya dimana bisa tanyakan ke pengacara atau lihat UU perkawinan. Khusus mengenai anak. Anak itu adalah hasil kerja suami&isteri, walaupun cerai kedua pihak punya tanggung jawab terhadap anak. Orang tua ribut anak jangan sampai jadi korban. Terlihat jelas sekali kakak anda tidak mau tanggung jawab. Tanyakan ke kakak anda, apakah melepas tanggung jawab akan keempat anaknya adalah ajaran si yesus ? Terus terang saja saya prihatin dan simpati sama kakak ipar anda. Dalam kasus begini umumnya wanita di pihak yang tertekan/lemah. 4. Mengenai janji setia satu sama lain hingga maut memisahkan mereka, tapi belakangan ribut, saya tidak begitu bisa menjelaskan secara buddhis (jarang belajar dharma), mungkin teman - teman yang lain bisa menjelaskan. 5. Salah satu tujuan menikah menurut saya adalah menjadi lebih bahagia bagi suami , istri juga anak. Dengan adanya percekcokan tersebut semua pihak tidak bahagia. Kalau mau langgeng yah harus ada win - win solution, jangan satu pihak dikorbankan. Jangan pernikahan diteruskan tapi salah satu pihak suami atau istri harus menanggung derita batin. Saya paling tidak suka konsep salah satu pihak harus ngalah, menurut saya semua pihak harus saling ngalah. Kalau tidak ada solusi yang bisa diterima semua pihak kenapa pernikahan harus dilanjutkan. Kalau dengan berpisah/bercerai si suami , si istri , dan si anak juga akhirnya bahagia, mengapa tidak? yah segitu pendapat saya tnawi --- ningsih kurniawati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > namo budhaya, > > saya ingin meminta sedikit pendapat mengenai > perbedaan agama antara suami dan istri dalam ssebuah > keluarga, > > Kakak saya seorang Kristiani dan istrinya seorang > budhis, selama ini kakak saya dan istrinya sering > bertengkar karna istrinya menolak untuk ikut ke > gereja, > dan kemarin mungkin adalah puncak permasalahan > ketika kakak saya mengancam istrinya, jika istrinya > tidak mendukung ( tidak seiman ) dengan dirinya, dia > akan menceraikannya dan tidak akan mau menanggung > biaya atau tunjangan apapun untuk istri dan 4 orang > anaknya, > dan untuk informasi, ketika mereka mengucapkan > sumpah janji setia satu sama lain hingga maut > memisahkan mereka, mereka lakukan dalam prosedur > pernikahan agama buddha. > > jadi, sya minta pendapat dan masukkan dari temen2 di > milis dharmajala, > semoga pendapat anda2 sekalian dapat berguna untuk > kakak saya maupun istrinya, > > thank's, > ningsih. > > > > ________________________________________________________ > > Lelah menerima spam? Surat Yahoo! mempunyai > perlindungan terbaik terhadap spam. > http://id.mail.yahoo.com/ ____________________________________________________________________________________ TV dinner still cooling? Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV. http://tv.yahoo.com/
