Hehehe.....yang namanya air itu ya air....air minum ato air mandi ato air 
suci ato air WC.....semua ya air....begitu juga yang namanya manusia.... 
manusia suci ato gembel ato penjahat ato pejabat....ya manusia! hanya 
'mereka' yang silau en terpesona sama atribut alias 'bungkus' bin 'kemasan'
yang mudah 'dibodohi'.....Maka kudu ati-ati, karena penglihatan pun bisa 
'menipu' lho!:-)

salam,
tda

On Mon, 12 Feb 2007, Dayapala wrote:

> Di bawah ini ada sebuah artikel yang sangat menarik perhatian dan
> cukup membuat saya TERGETAR. Bersumber dari majalah buddhis triwulan
> nasional DHARMA PRABHA edisi ke-50 (edisi emas)hal 48-51. Mudah2-an
> dapat menarik perhatian anda juga.
>
> Meskipun cukup panjang, BACALAH !!! dan mungkin anda akan TERGETAR....
> RRRRRRR.... RRRRRRR...... RRRRRRRR...... ^_^
>
>
> Bik(s)u juga Manusia Biasa
>
> Menurut gosip-gosip tetangga, Ibu Aris akhir-akhir ini menjalin
> hubungan dengan Bapak F Supra (bukan merek motor, lho). Herannya lagi
> bagi para tetangga, Pak F Supra ini kepalanya gundul. Kadang-kadang
> pake selendang merah. Usut punya usut, ternyata kepala gundulnya itu
> merupakan bagian dari disiplin "profesi"-nya, demikian pula dengan
> selendang merahnya. Ya, Pak F Supra ini ternyata, konon katanya,
> berprofesi sebagai bik(s)u.
>
> Kabar miring tersebut membuat sebagian orang kebakaran jenggot dan
> merah telinganya, sampai-sampai mengadakan konferensi pers pula.
> Dengan kemampuan ilmu komunikasinya, mulailah dicari segala dalih
> untuk menutup aib tersebut, di antaranya dengan mengatakan bahwa yang
> bersangkutan, Pak F Supra, bukan seorang bik(s)u. "Seorang bik(s)u
> tidak boleh menikah, tetapi yang bersangkutan, Pak F Supra, menikah.
> Jadi, dia bukan seorang bik(s)u." Begitulah salah satu cara mereka
> bersilat lidah.
>
> Jika demikian argumennya, lalu apakah seorang presiden yang korupsi
> atau melanggar konstitusi, bukan lagi seorang presiden saat itu juga
> ketika presiden tersebut dikatakan demikian? Kenyataannya tidak
> seperti itu, karena sang presiden harus diberhentikan dari jabatannya
> sebagai presiden dalam sidang MPR. Setelah itu, barulah gelar
> eks-presiden dapat dipakainya. Belum pernah ada istilah bahwa orang
> tersebut otomatis bukan presiden sama sekali karena sudah melanggar.
>
> Analogi lain adalah pada seorang ayah. Walaupun terdapat seorang ayah
> yang tidak bertanggung jawab pada keluarganya, ia tetaplah seorang
> ayah. Akan tetapi, dia disebut: bukan ayah yang baik. Demikian juga
> seharusnya pada kasus Pak F Supra. Ya, akui sajalah kalau memang dia
> adalah seorang bik(s)u. Seharusnya ia disebut bik(s)u yang telah
> melanggar sila dan/atau vinaya, dan sudah selayaknya dipecat sesuai
> aturan yang ada, yang kemudian barulah dia dapat disebut bukan bik(s)u
> lagi.
>
> Alih-alih mengakui `there is something wrong' dalam tubuh Sangha,
> orang-orang ini justru berusaha menutup-nutupi dengan pikiran bahwa,
> dengan demikian, mereka telah melindungi kemuliaan Sangha. Mereka alpa
> berpikir bahwa justru kemuliaan Sangha sejatinya ditegakkan dengan
> mengoreksi kesalahan yang ada; dan untuk mengoreksi sebuah kesalahan,
> harus diakui dulu bahwa kesalahan itu ada. Kalau tidak diakui ada
> kesalahan, apa yang mau dikoreksi? Kalau tidak ada yang dikoreksi,
> kemajuan apa yang didapat dalam memecahkan masalah tersebut?
>
> Jika mengikuti argumen di atas, berarti dapat disimpulkan bahwa semua
> bik(s)u yang ada sekarang, selain Pak F Supra, menjalankan semua sila
> dan/atau vinaya secara sempurna, murni dan konsekuen, tanpa
> pelanggaran, tanpa cela. Karena bila tidak, argumen mereka di atas
> menimbulkan kontradiksi di dalam dirinya sendiri, alias tidak
> konsisten. Penjelasannya begini; kita tahu bahwa dalam kenyataannya,
> barangkali saat ini tidak ada satupun bik(s)u Indonesia yang
> menjalankan semua sila dan/atau vinaya secara sempurna, murni dan
> konsekuen, tanpa pelanggaran, tanpa cela. Kalau demikian halnya,
> mereka semua bukan bik(s)u lagi; karena, berdasarkan logika yang
> dipaparkan di atas, seseorang yang telah dilantik menjadi bik(s)u,
> bukan bik(s)u lagi pada saat begitu dia melakukan pelanggaran sila
> dan/atau vinaya.
>
> Jika demikian halnya, berarti saat ini di Indonesia barangkali tidak
> ada seorang pun bik(s)u. Nyatanya, mereka masih diakui sebagai
> bik(s)u, tepatnya bik(s)u yang telah melakukan sejumlah pelanggaran,
> namun tetap sebagai bik(s)u. Nah, di sinilah letak
> ketidakkonsistenannya. Karena, bila hendak konsisten, berarti Pak F
> Supra pun, dengan pelanggarannya, masih adalah seorang bik(s)u, yakni
> bik(s)u yang melanggar (sila dan/atau vinaya). Diperlukan adanya
> prosedur/tata cara tertentu untuk "memecatnya" dari Sangha, barulah ia
> dapat disebut bukan bik(s)u lagi. Sebenarnya terdapat sejumlah aturan
> dalam vinaya bagi bik(s)u yang melanggar vinaya.
>
> Selain itu, ada pendapat yang menyatakan bahwa Pak F Supra bukan
> seorang bik(s)u. Opini publiklah yang telah membentuknya menjadi
> seorang bik(s)u. Kalo memang demikian halnya, mengapa sampe sekarang
> baru diklarifikasi? Mengapa dari dulu dibiarkan saja tanpa
> klarifikasi? Mengapa baru sekarang diklarifikasi, di saat dia telah
> memiliki banyak umat dan telah berbuat salah? Mengapa dalam berbagai
> acara dia selalu diposisikan  sebagai seorang bik(s)u (contohnya pada
> acara Waisak di Borobudur, dan sebagainya)? Mungkin mereka akan
> berdalih bahwa dalam semua ini Pak F Supra tidak pernah disebut
> bik(s)u secara nyata-nyata. Bahwa opini publik dan berbagai macam
> acara menghadirkan dia sebagai sesosok bik(s)u, itu bukan urusan dan
> tanggung jawab mereka dan bukan berarti atas persetujuan mereka. Nah,
> apalagi konon (konon sih… menurut infotainment tertentu di layar
> kaca) Pak F Supra ini telah pernah menerima penahbisan sebagai seorang
> rinpoche  di Swiss. Memang benar rinpoche belum tentu seorang bik(s)u,
> tetapi hal ini tidaklah memberi kesimpulan bahwa seorang rinpoche
> PASTI bukanlah seorang bik(s)u sama sekali.
>
> Jika demikian halnya, lagi, apakah ketika semua orang sudah menganggap
> Anda sebagai seorang pria, masih diperlukan pernyataan resmi bahwa
> Anda itu pria, barulah orang-orang mengakui Anda adalah seorang pria?
> Apakah cara memutuskan seseorang itu pria atau wanita dengan jalan
> seperti itu? Dengan cara tidak meyakini opini umum dan harus melalui
> pernyataan resmi yang berdasarkan penglihatan atas "alat bukti"-nya?
> (ente ngerti sendiri deh...)
>
> Dengan semua hal di atas, bukan berarti kita tidak menghormati Sangha.
> Sederhana saja, jangan mendewakan seorang bik(s)u. bik(s)u juga
> manusia. Terlepas dari benar tidaknya gosip di atas, disadari bahwa
> perlu ada pengawasan, transparansi, keterbukaan, accountability,
> checks and balances terhadap Sangha.
>
> Salah satu sifat tidak baik umat awam buddhis dewasa ini, terutama di
> Indonesia, adalah terlalu mendewa-dewakan Sangha. Emangnya Sangha itu
> dewa? Trus, emang ngga bisa memperlakukan Sangha secara wajar, layak,
> dan manusiawi? Karena memang begitulah cara memperlakukan Sangha yang
> baik dan benar. Ingat, kita memperlakukan Sangha dengan wajar, layak,
> dan manusiawi karena kita sayang dan hormat pada Sangha, sehingga kita
> tidak mau menjerumuskannya, tidak mau merusak latihannya/disiplinnya.
>
> Kecenderungan cara kita memperlakukan Sangha selama inilah yang
> mendukung rendahnya perilaku sejumlah bik(s)u. Perilaku bik(s)u
> sekarang yang miring juga disebabkan oleh perlakuan umat yang terlalu
> menganakemaskan Sangha, yang berbuntut pada "mencelakakan" bik(s)u
> bersangkutan pada khususnya, dan komunitas Sangha pada umumnya.
> Cobalah lirik kehidupan Sangha di beberapa tempat lain, bagaimana
> perlakuan umat di sana terhadap mereka. Singkat kata, di banyak
> tempat, bik(s)u tidak semudah itu mendapatkan uang dan "servis"
> seperti di sini.
>
> Contoh nyatanya, ya, Mr. F Supra ini; umat sebelumnya telah pernah
> mendengar kabar, gosip atau apapun namanya bahwa dia beristri
> (lagi-lagi menurut "kabar-kabari" infotainment di atas, yang katanya
> merupakan hasil wawancara dengan seorang petinggi sebuah federasi
> organisasi buddhis yang pernah mengenal dia), tetapi tidak ada yang
> berani mempertanyakan hal tersebut. Mengapa? Karena bik(s)u itu,
> tingggiiii…., seperti, dewa, takut dosa ahh… kalau meragukannya,
> mending cari selamat aje…
>
> Kita juga sering melihat, ehm, bik(s)u yang memakai telepon selular
> berkamera, dengan bentuk yang langsing singset pula, yang tentu
> harganya sangat mahal. Yup, bik(s)u dengan berbagai peralatan canggih
> dan mewah di tangannya. Kalau dipikir-pikir (dengan akal sehat), untuk
> apa semua itu? Umat awam saja ga begitu perlu, apalagi seorang
> bik(s)u. Contoh lain adalah dalam hal penyediaan fasilitas makanan,
> akomodasi, dan transportasi bagi anggota Sangha jika diundang dalam
> suatu kegiatan. Kita begitu terlena untuk memberikan mereka fasilitas
> yang terbaik. Begitu juga kita dengan setianya menyediakan makanan
> kesukaan si bik(s)u yang kita ingat jenis makanan kesukaannya. Lebih
> parahnya lagi, kadang-kadang si bik(s)u mengeluh tentang fasilitas
> yang telah disediakan, misalnya makanan yang menunya itu-itu saja.
> Ingat! Tujuan seseorang memakai jubah adalah untuk melepaskan
> kemelekatan, bukan menambah kemelekatan; untuk melepaskan keterikatan
> terhadap HaPe-HaPe berkamera dengan bentuk langsing singset dan
> teknologi berujung tinggi (baca: high end) di sekitarnya, bukan malah
> lebih melekat. Atau jangan-jangan, ia jadi bik(s)u demi mendapatkan
> fasilitas-fasilitas tersebut? Hikss…
>
> Seorang bik(s)u biasanya menjawab, "Itu kan pemberian umat." Betul,
> tepat sekali! Itu adalah pemberian umat. Tetapi toh, bik(s)u tersebut
> bisa menolaknya secara halus. Menerima atau menolak adalah pilihan,
> bukan? Dan, pilihan tersebut ada di tangan si bik(s)u. Kalau dikatakan
> bik(s)u harus menerima segala pemberian umat, mengapa sikap menerima
> tidak ada pada bik(s)u jenis ini untuk menerima hal yang tidak
> menyenangkan dia? Jika demikian, untuk selanjutnya, atau setelah yang
> satu itu, si bik(s)u bisa memberikan penjelasan bagaimana cara berdana
> yang baik dan benar, pemberian dana apa yang pantas, dan untuk apa dia
> menjadi bik(s)u. Kasus mengenai hal ini merupakan unsur perusakan dari
> umat, tetapi di sisi lain bik(s)u juga merusak dirinya sendiri dengan
> terlena akan pemberian umat tersebut.
>
> Argumen "Zaman sekarang ini tidak ada uang mana bisa berbuat apa-apa"
> atau "Saya menjadi bik(s)u juga harus mengurus organisasi dan hal itu
> tidak terhindarkan. Dan tentunya itu semua juga membutuhkan uang.
> Tanpa uang ga bisa bergerak" juga merupakan tameng beberapa oknum
> bik(s)u. Jika menjadi bik(s)u masih butuh ini-itu, harus sibuk
> mengurus organisasi, menyelenggarakan acara, hingga menjadi event
> organizer segala, sampai membuang sebagian besar waktu untuk hal
> tersebut, praktiknya kapan? Bila sampai sebegitu melekatnya terhadap
> segala ini-itu, apakah tidak lebih baik lepas jubah menjadi umat
> perumahtangga saja? Menjadi umat perumahtangga lebih bebas untuk
> melakukan hal-hal tersebut. Sebagai umat biasa, mereka juga bisa
> sambil praktik. Sebenarnya, orang memilih menjadi bik(s)u karena
> dengan menjadi bik(s)u ia mendapatkan kemudahan untuk berpraktik,
> terutama dalam hal waktu. Ia mendapatkan kesempatan untuk lebih total
> dan fokus pada praktiknya.
>
> Ada contoh yang baik untuk hal ini, yaitu Ajahn Chah, seorang bik(s)u
> hutan yang tidak punya uang tetapi bisa berbuat sesuatu yang
> bermanfaat. Beliau juga pernah diundang sampai ke negara-negara Eropa
> dan telah memiliki banyak sekali murid Eropa, walau tanpa uang.sepeser
> pun.
>
> Yang tak kurang parahnya adalah cara kita berdana kepada seorang
> bik(s)u. Kita berpikir bahwa kita akan mendapat karma baik istimewa
> jika berdana kepada seorang bik(s)u. Kalau tidak berdana, kita akan
> takut mendapat karma buruk. Jadi, lebih baik cari aman, ujung-ujungnya
> egois, karena cari aman untuk diri sendiri, peduli setan apakah dengan
> demikian Sangha menjadi rusak/terjerumus atau tidak. Benarkah di sutta
> dikatakan bahwa berdana kepada bik(s)u dapat karma baik istimewa, atau
> sebenarnya berdana kepada orang yang benar-benar menjalankan sila?
> Berdana yang baik kepada penjalan profesinya atau kepada pelaksana
> sila yang benar? Kita sering salah akan hal ini. Kita seharusnya
> berdana kepada seorang bik(s)u yang menjalankan sila dan/atau vinaya
> dengan baik, bukan kepada sembarang bik(s)u. Sudah saatnya pula para
> umat melepaskan mitos bahwa berdana pada seorang bik(s)u mendapatkan
> pahala istimewa.
>
> Jika kita menemukan ada bik(s)u yang melanggar sila dan/atau vinaya,
> apa yang harus kita perbuat? Apa kita perlu memotretnya atau merekam
> kejadiannya untuk dijadikan bukti?
>
> Sangha/bik(s)u juga manusia. Mereka adalah manusia-manusia yang
> mencoba berlatih lebih keras daripada kebanyakan dari kita. Mereka
> punya komitmen yang lebih dibanding yang lainnya. Mereka juga manusia,
> yang bisa terlena dan terjerumus bila didewa-dewakan,
> disanjung-sanjung, dan dijauhkan dari realitas. Salah satu alasan
> Buddha menetapkan vinaya karena sebelumnya memang terjadi pelanggaran
> akan suatu hal. Untuk menghindari pelanggaran tersebut, Buddha
> menetapkan vinaya untuk dipatuhi para siswa-Nya yang mengambil jalan
> sebagai seorang bik(s)u. Semua itu adalah demi kebaikan bersama.
>
> Inga-inga, Buddha pernah mengatakan bahwa suatu saat ajaran-Nya akan
> lenyap karena ulah para bik(s)u yang tidak mematuhi vinaya! Janganlah
> mencari pembelaan diri demi kesenangan diri ketika menjadi seorang
> bik(s)u dengan melonggarkan vinaya yang telah ditetapkan Buddha.
>
> Sudah seharusnya kita menaruh hormat kepada Sangha, tetapi bukan
> dengan cara dimanjakan dan disanjung-sanjung terus-menerus karena ini
> bisa membuat mereka terlena dan terjerumus—acap kali secara tanpa
> sadar. Jadilah umat yang baik dengan tidak mencelakakan bik(s)u demi
> keterjaminan karma baik istimewa kita sendiri. Marilah kita bertindak
> dan berpikir secara bijaksana.[red.][dharma prabha]
>
> NB: Kisah di atas hanya fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan alur
> cerita, tempat, maupun tokoh, itu hanyalah kebetulan belaka.
>
>
>

Kirim email ke