Namo Buddhaya,

Sdr Yendrik,

Sebenarnya didalam Buddhism
yang lebih penting adalah cara pikirnya. Apakah melekat pada hal-
hal pemuasan
indria. yah tentu saja kemewahan tersebut bisa membuat kita jadi lebih
mudah melekat.
Tidak melekat adalah hidup apa adanya, melihat apa adanya. Mau dikasih
barang mewah ataupun sederhana,
semua diterima tanpa menolak/benci ataupun suka/melekat. Itu semua hanya
sekadar alat untuk melangsungkan kehidupan.

Metta,
Sumedho

On 2/12/07, yendrik gunawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Namobuddhaya,
saya mau nanya sesuatu yang mengganjal di pikiran saya nich!
saya pernah melihat kegiatan Pindapatta di suatu tempat yang gak bisa saya
sebutkan dimana tempatnya. Pindapatta kan merupakan suatu kegiatan dimana
para Bik(s)u keluar dari Vihara untuk mencari makanan dari umat yang mau
berdana. jadi kalau umat yang datang ke Vihara tersebut dengan membawa
barang yang mewah - mewah apakah itu bisa dikatakan terlalu memanjakan
bik(s)u yang akan melakukan kegiatan tersebut? dan apakah bik(s)u tersebut
harus menerima hasil pembelian tersebut yang bisa di katakan fasilitas yang
mewah? kan ajaran Buddha tidak mengajarkan hidup dalam kemewahan tapi hidup
dengan apa adanya! kalau kata - kata saya ada yang kurang tepat tolong
dikoreksi ya. terima kasih sebelumnya.

*Dayapala <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:

Di bawah ini ada sebuah artikel yang sangat menarik perhatian dan
cukup membuat saya TERGETAR. Bersumber dari majalah buddhis triwulan
nasional DHARMA PRABHA edisi ke-50 (edisi emas)hal 48-51. Mudah2-an
dapat menarik perhatian anda juga.

Meskipun cukup panjang, BACALAH !!! dan mungkin anda akan TERGETAR....
RRRRRRR.... RRRRRRR...... RRRRRRRR...... ^_^

Bik(s)u juga Manusia Biasa

Menurut gosip-gosip tetangga, Ibu Aris akhir-akhir ini menjalin
hubungan dengan Bapak F Supra (bukan merek motor, lho). Herannya lagi
bagi para tetangga, Pak F Supra ini kepalanya gundul. Kadang-kadang
pake selendang merah. Usut punya usut, ternyata kepala gundulnya itu
merupakan bagian dari disiplin "profesi"-nya, demikian pula dengan
selendang merahnya. Ya, Pak F Supra ini ternyata, konon katanya,
berprofesi sebagai bik(s)u.

Kabar miring tersebut membuat sebagian orang kebakaran jenggot dan
merah telinganya, sampai-sampai mengadakan konferensi pers pula.
Dengan kemampuan ilmu komunikasinya, mulailah dicari segala dalih
untuk menutup aib tersebut, di antaranya dengan mengatakan bahwa yang
bersangkutan, Pak F Supra, bukan seorang bik(s)u. "Seorang bik(s)u
tidak boleh menikah, tetapi yang bersangkutan, Pak F Supra, menikah.
Jadi, dia bukan seorang bik(s)u." Begitulah salah satu cara mereka
bersilat lidah.

Jika demikian argumennya, lalu apakah seorang presiden yang korupsi
atau melanggar konstitusi, bukan lagi seorang presiden saat itu juga
ketika presiden tersebut dikatakan demikian? Kenyataannya tidak
seperti itu, karena sang presiden harus diberhentikan dari jabatannya
sebagai presiden dalam sidang MPR. Setelah itu, barulah gelar
eks-presiden dapat dipakainya. Belum pernah ada istilah bahwa orang
tersebut otomatis bukan presiden sama sekali karena sudah melanggar.

Analogi lain adalah pada seorang ayah. Walaupun terdapat seorang ayah
yang tidak bertanggung jawab pada keluarganya, ia tetaplah seorang
ayah. Akan tetapi, dia disebut: bukan ayah yang baik. Demikian juga
seharusnya pada kasus Pak F Supra. Ya, akui sajalah kalau memang dia
adalah seorang bik(s)u. Seharusnya ia disebut bik(s)u yang telah
melanggar sila dan/atau vinaya, dan sudah selayaknya dipecat sesuai
aturan yang ada, yang kemudian barulah dia dapat disebut bukan bik(s)u
lagi.

Alih-alih mengakui `there is something wrong' dalam tubuh Sangha,
orang-orang ini justru berusaha menutup-nutupi dengan pikiran bahwa,
dengan demikian, mereka telah melindungi kemuliaan Sangha. Mereka alpa
berpikir bahwa justru kemuliaan Sangha sejatinya ditegakkan dengan
mengoreksi kesalahan yang ada; dan untuk mengoreksi sebuah kesalahan,
harus diakui dulu bahwa kesalahan itu ada. Kalau tidak diakui ada
kesalahan, apa yang mau dikoreksi? Kalau tidak ada yang dikoreksi,
kemajuan apa yang didapat dalam memecahkan masalah tersebut?

Jika mengikuti argumen di atas, berarti dapat disimpulkan bahwa semua
bik(s)u yang ada sekarang, selain Pak F Supra, menjalankan semua sila
dan/atau vinaya secara sempurna, murni dan konsekuen, tanpa
pelanggaran, tanpa cela. Karena bila tidak, argumen mereka di atas
menimbulkan kontradiksi di dalam dirinya sendiri, alias tidak
konsisten. Penjelasannya begini; kita tahu bahwa dalam kenyataannya,
barangkali saat ini tidak ada satupun bik(s)u Indonesia yang
menjalankan semua sila dan/atau vinaya secara sempurna, murni dan
konsekuen, tanpa pelanggaran, tanpa cela. Kalau demikian halnya,
mereka semua bukan bik(s)u lagi; karena, berdasarkan logika yang
dipaparkan di atas, seseorang yang telah dilantik menjadi bik(s)u,
bukan bik(s)u lagi pada saat begitu dia melakukan pelanggaran sila
dan/atau vinaya.

Jika demikian halnya, berarti saat ini di Indonesia barangkali tidak
ada seorang pun bik(s)u. Nyatanya, mereka masih diakui sebagai
bik(s)u, tepatnya bik(s)u yang telah melakukan sejumlah pelanggaran,
namun tetap sebagai bik(s)u. Nah, di sinilah letak
ketidakkonsistenannya. Karena, bila hendak konsisten, berarti Pak F
Supra pun, dengan pelanggarannya, masih adalah seorang bik(s)u, yakni
bik(s)u yang melanggar (sila dan/atau vinaya). Diperlukan adanya
prosedur/tata cara tertentu untuk "memecatnya" dari Sangha, barulah ia
dapat disebut bukan bik(s)u lagi. Sebenarnya terdapat sejumlah aturan
dalam vinaya bagi bik(s)u yang melanggar vinaya.

Selain itu, ada pendapat yang menyatakan bahwa Pak F Supra bukan
seorang bik(s)u. Opini publiklah yang telah membentuknya menjadi
seorang bik(s)u. Kalo memang demikian halnya, mengapa sampe sekarang
baru diklarifikasi? Mengapa dari dulu dibiarkan saja tanpa
klarifikasi? Mengapa baru sekarang diklarifikasi, di saat dia telah
memiliki banyak umat dan telah berbuat salah? Mengapa dalam berbagai
acara dia selalu diposisikan sebagai seorang bik(s)u (contohnya pada
acara Waisak di Borobudur, dan sebagainya)? Mungkin mereka akan
berdalih bahwa dalam semua ini Pak F Supra tidak pernah disebut
bik(s)u secara nyata-nyata. Bahwa opini publik dan berbagai macam
acara menghadirkan dia sebagai sesosok bik(s)u, itu bukan urusan dan
tanggung jawab mereka dan bukan berarti atas persetujuan mereka. Nah,
apalagi konon (konon sih… menurut infotainment tertentu di layar
kaca) Pak F Supra ini telah pernah menerima penahbisan sebagai seorang
rinpoche di Swiss. Memang benar rinpoche belum tentu seorang bik(s)u,
tetapi hal ini tidaklah memberi kesimpulan bahwa seorang rinpoche
PASTI bukanlah seorang bik(s)u sama sekali.

Jika demikian halnya, lagi, apakah ketika semua orang sudah menganggap
Anda sebagai seorang pria, masih diperlukan pernyataan resmi bahwa
Anda itu pria, barulah orang-orang mengakui Anda adalah seorang pria?
Apakah cara memutuskan seseorang itu pria atau wanita dengan jalan
seperti itu? Dengan cara tidak meyakini opini umum dan harus melalui
pernyataan resmi yang berdasarkan penglihatan atas "alat bukti"-nya?
(ente ngerti sendiri deh...)

Dengan semua hal di atas, bukan berarti kita tidak menghormati Sangha.
Sederhana saja, jangan mendewakan seorang bik(s)u. bik(s)u juga
manusia. Terlepas dari benar tidaknya gosip di atas, disadari bahwa
perlu ada pengawasan, transparansi, keterbukaan, accountability,
checks and balances terhadap Sangha.

Salah satu sifat tidak baik umat awam buddhis dewasa ini, terutama di
Indonesia, adalah terlalu mendewa-dewakan Sangha. Emangnya Sangha itu
dewa? Trus, emang ngga bisa memperlakukan Sangha secara wajar, layak,
dan manusiawi? Karena memang begitulah cara memperlakukan Sangha yang
baik dan benar. Ingat, kita memperlakukan Sangha dengan wajar, layak,
dan manusiawi karena kita sayang dan hormat pada Sangha, sehingga kita
tidak mau menjerumuskannya, tidak mau merusak latihannya/disiplinnya.

Kecenderungan cara kita memperlakukan Sangha selama inilah yang
mendukung rendahnya perilaku sejumlah bik(s)u. Perilaku bik(s)u
sekarang yang miring juga disebabkan oleh perlakuan umat yang terlalu
menganakemaskan Sangha, yang berbuntut pada "mencelakakan" bik(s)u
bersangkutan pada khususnya, dan komunitas Sangha pada umumnya.
Cobalah lirik kehidupan Sangha di beberapa tempat lain, bagaimana
perlakuan umat di sana terhadap mereka. Singkat kata, di banyak
tempat, bik(s)u tidak semudah itu mendapatkan uang dan "servis"
seperti di sini.

Contoh nyatanya, ya, Mr. F Supra ini; umat sebelumnya telah pernah
mendengar kabar, gosip atau apapun namanya bahwa dia beristri
(lagi-lagi menurut "kabar-kabari" infotainment di atas, yang katanya
merupakan hasil wawancara dengan seorang petinggi sebuah federasi
organisasi buddhis yang pernah mengenal dia), tetapi tidak ada yang
berani mempertanyakan hal tersebut. Mengapa? Karena bik(s)u itu,
tingggiiii…., seperti, dewa, takut dosa ahh… kalau meragukannya,
mending cari selamat aje…

Kita juga sering melihat, ehm, bik(s)u yang memakai telepon selular
berkamera, dengan bentuk yang langsing singset pula, yang tentu
harganya sangat mahal. Yup, bik(s)u dengan berbagai peralatan canggih
dan mewah di tangannya. Kalau dipikir-pikir (dengan akal sehat), untuk
apa semua itu? Umat awam saja ga begitu perlu, apalagi seorang
bik(s)u. Contoh lain adalah dalam hal penyediaan fasilitas makanan,
akomodasi, dan transportasi bagi anggota Sangha jika diundang dalam
suatu kegiatan. Kita begitu terlena untuk memberikan mereka fasilitas
yang terbaik. Begitu juga kita dengan setianya menyediakan makanan
kesukaan si bik(s)u yang kita ingat jenis makanan kesukaannya. Lebih
parahnya lagi, kadang-kadang si bik(s)u mengeluh tentang fasilitas
yang telah disediakan, misalnya makanan yang menunya itu-itu saja.
Ingat! Tujuan seseorang memakai jubah adalah untuk melepaskan
kemelekatan, bukan menambah kemelekatan; untuk melepaskan keterikatan
terhadap HaPe-HaPe berkamera dengan bentuk langsing singset dan
teknologi berujung tinggi (baca: high end) di sekitarnya, bukan malah
lebih melekat. Atau jangan-jangan, ia jadi bik(s)u demi mendapatkan
fasilitas-fasilitas tersebut? Hikss…

Seorang bik(s)u biasanya menjawab, "Itu kan pemberian umat." Betul,
tepat sekali! Itu adalah pemberian umat. Tetapi toh, bik(s)u tersebut
bisa menolaknya secara halus. Menerima atau menolak adalah pilihan,
bukan? Dan, pilihan tersebut ada di tangan si bik(s)u. Kalau dikatakan
bik(s)u harus menerima segala pemberian umat, mengapa sikap menerima
tidak ada pada bik(s)u jenis ini untuk menerima hal yang tidak
menyenangkan dia? Jika demikian, untuk selanjutnya, atau setelah yang
satu itu, si bik(s)u bisa memberikan penjelasan bagaimana cara berdana
yang baik dan benar, pemberian dana apa yang pantas, dan untuk apa dia
menjadi bik(s)u. Kasus mengenai hal ini merupakan unsur perusakan dari
umat, tetapi di sisi lain bik(s)u juga merusak dirinya sendiri dengan
terlena akan pemberian umat tersebut.

Argumen "Zaman sekarang ini tidak ada uang mana bisa berbuat apa-apa"
atau "Saya menjadi bik(s)u juga harus mengurus organisasi dan hal itu
tidak terhindarkan. Dan tentunya itu semua juga membutuhkan uang.
Tanpa uang ga bisa bergerak" juga merupakan tameng beberapa oknum
bik(s)u. Jika menjadi bik(s)u masih butuh ini-itu, harus sibuk
mengurus organisasi, menyelenggarakan acara, hingga menjadi event
organizer segala, sampai membuang sebagian besar waktu untuk hal
tersebut, praktiknya kapan? Bila sampai sebegitu melekatnya terhadap
segala ini-itu, apakah tidak lebih baik lepas jubah menjadi umat
perumahtangga saja? Menjadi umat perumahtangga lebih bebas untuk
melakukan hal-hal tersebut. Sebagai umat biasa, mereka juga bisa
sambil praktik. Sebenarnya, orang memilih menjadi bik(s)u karena
dengan menjadi bik(s)u ia mendapatkan kemudahan untuk berpraktik,
terutama dalam hal waktu. Ia mendapatkan kesempatan untuk lebih total
dan fokus pada praktiknya.

Ada contoh yang baik untuk hal ini, yaitu Ajahn Chah, seorang bik(s)u
hutan yang tidak punya uang tetapi bisa berbuat sesuatu yang
bermanfaat. Beliau juga pernah diundang sampai ke negara-negara Eropa
dan telah memiliki banyak sekali murid Eropa, walau tanpa uang.sepeser
pun.

Yang tak kurang parahnya adalah cara kita berdana kepada seorang
bik(s)u. Kita berpikir bahwa kita akan mendapat karma baik istimewa
jika berdana kepada seorang bik(s)u. Kalau tidak berdana, kita akan
takut mendapat karma buruk. Jadi, lebih baik cari aman, ujung-ujungnya
egois, karena cari aman untuk diri sendiri, peduli setan apakah dengan
demikian Sangha menjadi rusak/terjerumus atau tidak. Benarkah di sutta
dikatakan bahwa berdana kepada bik(s)u dapat karma baik istimewa, atau
sebenarnya berdana kepada orang yang benar-benar menjalankan sila?
Berdana yang baik kepada penjalan profesinya atau kepada pelaksana
sila yang benar? Kita sering salah akan hal ini. Kita seharusnya
berdana kepada seorang bik(s)u yang menjalankan sila dan/atau vinaya
dengan baik, bukan kepada sembarang bik(s)u. Sudah saatnya pula para
umat melepaskan mitos bahwa berdana pada seorang bik(s)u mendapatkan
pahala istimewa.

Jika kita menemukan ada bik(s)u yang melanggar sila dan/atau vinaya,
apa yang harus kita perbuat? Apa kita perlu memotretnya atau merekam
kejadiannya untuk dijadikan bukti?

Sangha/bik(s)u juga manusia. Mereka adalah manusia-manusia yang
mencoba berlatih lebih keras daripada kebanyakan dari kita. Mereka
punya komitmen yang lebih dibanding yang lainnya. Mereka juga manusia,
yang bisa terlena dan terjerumus bila didewa-dewakan,
disanjung-sanjung, dan dijauhkan dari realitas. Salah satu alasan
Buddha menetapkan vinaya karena sebelumnya memang terjadi pelanggaran
akan suatu hal. Untuk menghindari pelanggaran tersebut, Buddha
menetapkan vinaya untuk dipatuhi para siswa-Nya yang mengambil jalan
sebagai seorang bik(s)u. Semua itu adalah demi kebaikan bersama.

Inga-inga, Buddha pernah mengatakan bahwa suatu saat ajaran-Nya akan
lenyap karena ulah para bik(s)u yang tidak mematuhi vinaya! Janganlah
mencari pembelaan diri demi kesenangan diri ketika menjadi seorang
bik(s)u dengan melonggarkan vinaya yang telah ditetapkan Buddha.

Sudah seharusnya kita menaruh hormat kepada Sangha, tetapi bukan
dengan cara dimanjakan dan disanjung-sanjung terus-menerus karena ini
bisa membuat mereka terlena dan terjerumus—acap kali secara tanpa
sadar. Jadilah umat yang baik dengan tidak mencelakakan bik(s)u demi
keterjaminan karma baik istimewa kita sendiri. Marilah kita bertindak
dan berpikir secara bijaksana.[red.][dharma prabha]

NB: Kisah di atas hanya fiktif belaka. Jika terdapat kesamaan alur
cerita, tempat, maupun tokoh, itu hanyalah kebetulan belaka.


------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! 
Indonesia<http://sg.rd.yahoo.com/mail/id/footer/def/*http://id.yahoo.com/>yang 
baru!


Kirim email ke