Salam Metta,
Mantap juga artikelnya, liat kerjaan lagi suntuk baca email, jadi santai2 aja 
kasih opininya ok

* menurut artikel itu Pak F. Surya adalah "bhikk(s)hu" , tapi punya Istri dan 
menjalin hubungan dengan Ibu Aris,karena dia menikah maka oleh pihak2 terkait 
langsung di katakan bukan beliau bukan bhikk(s)hu

Opini :
sejak kapan bhikk(s)hu menikah????seseorang menjadi bhikk(s)hu untuk 
meninggalkan semuanya demi mencapai tujuan akhir yaitu nibbana dengan 
melepaskan semua kemelekatan
untuk menjadi bhikk(s)hu seseorang harus melaksanakan yg sejumlah aturan2 yang 
dinamakan Vinaya, aturan2 ini mungkin untuk beberapa sekte ada penambahan, 
tetapi yg utama adalah 227 aturan yang membuat seorang bhikk(s)hu menjalani 
hidup layaknya para bangsawan yang terhormat dan terjaga tingkah lakunya dan 
dari aturan tersebut ada 4 aturan dasar (parajika) yang menyebabkan seseorang 
langsung kehilangan status ke bhikk(s)huannya seketika tanpa perlu sidang lagi 
yaitu berhubungan seks, mencuri, menghalangi seseorang untuk hidup serta 
mengaku telah mencapai tahap tertentu dalam latihannya padahal belum 
mencapainya.
Pak F.Surya apakah sudah melakukan pelanggaran2 tersebut ? kita tidak tahu 
pasti, tetapi jika ia menikah setelah menjadi bhikk(s)hu tentu itu adalah 
pelanggaran, maka bagaimanapun statusnya adalah bukan sebagai bhikk(s)hu lagi
Dari aturan2 bhikk(s)hu juga ada 13 macam aturan lain yang bisa ikut terlanggar 
oleh Pak F.Surya ini, jika ia tidak melakukan hubungan seks, pelanggaran yg 
mungkin di lakukannya adalah dengan sengaja menggoda wanita dengan pikiran 
nafsu, menyentuh anggota tubuh wanita/lawan jenisnya dengan sengaja, untuk 
jenis pelanggaran inilah seseorang harus disidang oleh sangha, pada persamuan 
sangha dan ia hukumannya akan di tentukan oleh sangha yang hadir pada persamuan 
tersebut dan akan tinggal dalam pengawasan dan bimbingan oleh bhikkhu senior 
hingga masa hukumannya selesai dan dia jg harus berjanji tidak akan melakukan 
perbuatan tersebut lagi, dan melanjutkan prakteknya untuk mencapai tujuan akhir
di negara2 buddhis, bhikk(s)hu yang melanggar salahsatu dari 4 parajika 
biasanya langsung di hakimi oleh masyarakat , bahkan akan lsg di tangkap oleh 
polisi untuk disidang sesuai dengan aturan masyarakat karena bhikk(s)hu 
tersebut sudah kehilangan statusnya sebagai seorang bhikk(s)hu secara otomatis

Rinpoche itu sama sperti seorang pandita, tetapi apakah dia seorang bhikk(s)hu??
silahkan saja liat apakah dia melaksanakan dhamma vinaya berdasarkan sekte yang 
di ikutinya

* ada pendapat yang menyatakan bahwa Pak F Supra bukan seorang bik(s)u. Opini 
publiklah yang telah membentuknya menjadi seorang bik(s)u.

Opini : 
Ini adalah kesalahan bersama, tidak hanya di tubuh sangha, tetapi kita juga 
sebagai umat selalu diingatkan untuk selalu mempraktekan dhamma, kl anggota 
sangha mempraktekan dhamma vinaya ;p
karena itu kita jika melihat seseorang bhikk(s)hu telah melakukan kesalahan 
harus memberitahukannya kepada sangha/ bhikkhu senior agar bhikk(s)hu tersebut 
di tegur dan dapat memperbaiki tingkah lakunya
janganlah kita saling menyalahkan tentu ada baiknya kita saling tolong menolong 
dalam hal ini, jika sehari-hari bhikk(s)hu tersebut membantu kita dengan 
mengajarkan teori2 dhamma kepada kita semua, mengapa kita juga tidak sebaliknya 
mengingatkan kembali dhamma2 yang telah di ajarkan kepada kita kepada 
bhikk(s)hu tersebut, jika tidak ada laporan dari masyarakat bahwa bhikk(s)hu 
tersebut melanggar peraturan bhikk(s)hu , anggota sangha yang lain tidaklah 
mengetahui pelanggaran bhikk(s)hu tersebut, karena dari itu kita jg haruslah 
memahami peraturan2 yg dilaksanakan oleh para bhikk(s)hu

*Salah satu sifat tidak baik umat awam buddhis dewasa ini, terutama di 
Indonesia, adalah terlalu mendewa-dewakan Sangha. Emangnya Sangha itu dewa? 
Trus, emang ngga bisa memperlakukan Sangha secara wajar, layak, dan manusiawi? 
Karena memang begitulah cara memperlakukan Sangha yang
baik dan benar. Ingat, kita memperlakukan Sangha dengan wajar, layak, dan 
manusiawi karena kita sayang dan hormat pada Sangha, sehingga kita tidak mau 
menjerumuskannya, tidak mau merusak latihannya/disiplin nya

Opini :
Sejak kapan sangha itu jadi dewa ??? sakti betulll ;p berarti bukan sangha dong 
kl dewa ;p
sangha itu masih manusia juga, kecuali yg udah arahat ;p tp tubuh jasmaninya 
masih manusia jg kok ;p
hayo.... siapa tuh yang perlakuin sangha seperti itu????
sekedar pertanyaan aja yah, emang kalian melihat para bhikk(s)hu itu dari apa 
sih??
gantengnya?jubahnya?suaranya? atau apanya???
saya sendiri terus terang melihat seorang bhikk(s)hu dari sila(aturan) yang 
dilaksanakannya, saya memberi penghormatan ( namaskara ) karena orang tersebut 
(bhikk(s)hu) melaksanakan sila lebih banyak dari saya, jadi jika saya tidak 
namaskara jg bukan berarti bhikk(s)hu tersebut tidak melaksanakan vinaya dengan 
baik juga , binggung kan jadinya ;p gak usah di pikirin lah masalah ini ;p
jika kalian ingin menghormati bhikk(s)hu tersebut lakukan saja terlepas dari 
semuanya, karena penghormatan itu bisa jg menjadi sebagai ingatan bagi 
bhikk(s)hu tersebut alasannya menjadi bhikk(s)hu
bagi umat juga janganlah menggoda anggota sangha, mereka sudah berusaha 
meninggalkan kemelekatan janganlah kita justru berusaha mengikatnya

Emangnya gampang jadi bhikk(s)hu???
mulai dari minta ijin kepada orang tua, kepada sanak saudara (istri dan anak 
kalo ada), memastikan kesejahteraan mereka, sudah di tabhis masih harus belajar 
dhamma & vinaya, eh malah di godain sama umatnya biar balik lagi nambah 
kemelekatannya

Masalah dana pemberian umat kepada anggota sangha, kita pake kata2 anggota 
sangha aja biar gak rancu dengan seseorang individu yang mengenakan jubah, tapi 
secara keseluruhannya.
anggota sangha pasti menerima saja pemberian dana dari umat, sangat tidak logis 
jika menolak pemberian dana dari umat, kasian kan umat yg niat memupuk karma 
baik eh malah di tolak, nah yang jadi masalah adalah dana itu selanjutnya 
digunakan untuk apa itu yang menjadi tanda tanya besar ;p
contohnya HP, memang tidak ada aturan yang jelas apakah seorang anggota sangha 
bole membawa hp atau tidak, jika tidak punya hp, umat mengaku kesulitan 
menghubungi anggota sangha tersebut untuk diminta berceramah, atau keperluan 
lainnya lagi, tapi mungkin saja ada anggota sangha tersebut menggunakannya 
untuk keperluan lainnya, kita tidak tahu hal itu, mungkin saja jika hp tersebut 
di serahkan kepada dayaka ( pendamping/penyokong) anggota sangha tersebut jadi 
jika ingin menghubungi anggota sangha tersebut harus melalui dayaka tersebut 
baru di beritahu kepada anggota sangha yang bersangkutan, jadi tidak terikat 
juga
memang kadang2 umat itu lucu juga sih, ada jg umat yang berdana shampo kepada 
anggota sangha ;p
saya sering menemui hal tersebut sewaktu masih di jakarta, entah sekarang masih 
seperti itu atau tidak sekarang ini , sudah lama tidak kembali menetap lama di 
jakarta

Jika ada yang salah mohon di koreksi, dah lama jg soalnya di pegunungan dan 
pinggir pantai terus di kalimantan, jadi dah lama juga gak baca2 buku tentang 
dhamma, jadi cuma bisa meditasi aja itu aga jarang skr frekuensinya, di ganguin 
sama yg di gunung
Mari kita sama2 menjaga singasana dhamma ini dan kemurniannya

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke