Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu'alaikum wr.wb. Kesepakatan tentang khilafat... Dari keterangan yang diberikan Kwaja Kamaluddin dan pengumuman yang dikeluarkannya atas nama Sekretaris Anjuman Ahmadiyah, nyatalah bahwa semua Ahmadi ketika itu telah sepakat untuk menegakkan khilafat berdasarkan isi Al-Wasiat dari Hazrat Masih Mau'ud a.s. Semua orang tanpa kecuali, termasuk Sadr Anjuman yang anggota-anggotanya disebutkan namanya dalam pengumuman itu melakukan bai'at ditangan Hakim Nuruddin, sebagai Khalifatul Masih I. Dengan demikian pada waktu pengangkatan Hazrat Hakim Nuruddin sebagai Khalifatul Masih I semua orang yang menjabat sadr Anjuman Ahmadiyah mengakui bahwa mereka bukanlah yang dimaksud sebagai kudrat kedua oleh Masih Mau'ud dan bahwa kudrat kedua ialah khilafatul masih. Tetapi sebagaimana dikatakan sebelumnya, beberapa orang itu kemudian engkar akan pengakuan mereka sendiri. Ini terbukti dengan tindakan mereka beberapa bulan setelah Hazrat Hakim Nuruddin menjalankan tugasnya, mereka mulai merongrong kewibawaan beliau. Mereka menyebarkan pendapat bahwa Sadr Anjuman adalah pewaris sah dari Masih Mau'ud a.s. dan Khalifah hanya bertugas menerima bai'at dan menjadi imam shalat. Mereka mengumpulkan tanda tangan orang-orang Ahmadi untuk memperkuat pendirian mereka itu. Gerakan mereka ini menimbulkan reaksi pada pihak lain yang tidak menyetujui apa yang mereka nyatakan itu. Pihak ini juga berusaha mengumpulkan sejumlah tanda tangan untuk menyokong pendirian bahwa khilafat adalah penganti sah dari Masih Mau'ud a.s. dan setiap Ahmadi haruslah memberikan kepatuhan tidak bersyarat serta kesetiaan penuh kepada khalifah. Karena pertentangan-pertentangan pikiran yang terdapat dalam Jemaat ini maka Hazrat Khalifatul Masih I memanggil seluruh kaum Ahmadi untuk menghadiri suatu pertemuan yang ditetapkan pada tanggal 31 Januari 1909 di Masjid Mubaraq, Qadian. Dalam pertemuan ini beliau berpidato sambil menerangkan hakikat khilafat dan tugas seorang khalifah. Selama beliau memberikan uraian tentang khilafat dalam Islam, terdengarlah berbagai suara sedih yang menyesali pihak-pihak yang telah menentang khilafat. Lebih lanjut Hazrat Khalifatul Masih I bersabda: "Ada dikatakan bahwa pekerjaan, fungsi, maksud dan tugas seorang khalifah ialah hanya untuk menjadi imam shalat di masjid. Ini adalah pekerjaan yang bisa dilakukan oleh mullah biasa. Untuk melakukan ini tidak diperlukan adanya seorang khalifah. Untuk khilafat semacam itu meludah saja saya anggap sudah terlalu baik. Bai'at sejati haruslah disertai oleh ithaat yang segera tidak bersyarat, tanpa bantahan apapun." Pada akhir pidato itu Hazrat Khalifatul Masih I memerintahkan Kwaja Kamaluddin dan Maulwi Muhammad Ali supaya memperbarui bai'atnya kembali. Hal ini dituruti oleh kedua orang itu, kendatipun dengan hati yang penuh kedongkolan. Sejak saat itulah dalam hati kedua orang itu tertanam rasa permusuhan terhadap Hazrat Khalifatul Masih I. Mereka merasakan bahwa mereka telah diberi malu, karena harus melakukan bai'at ulang yang juga disaksikan kaum Ahmadi yang hadir pada peristiwa itu. Tetapi dengan mengikuti perintah bai'at itu, mereka sesungguhnya mengakui juga bahwa bai'at atau patuh dan setia kepada seorang khalifah adalah hal yang sewajarnya. Dengan demikian hati mereka membenarkan seorang pemimpin apalagi seorang khalifah haruslah dipatuhi seratus persen . Hal ini terungkap belakangan hari dalam tulisan-tulisan Muhammad Ali sendiri. Dalam suatu khutbahnya Muhammad Ali berkata: " Dasar suatu organisasi hanya satu: Dengar dan patuhilah. Kalau jiwa ini tidak ditumbuhkan; kalau semua orang tidak melatih diri untuk menyambut dan melaksanakan suatu perintah dengan bersatu segera; kalau semua orang tidak menjalankan kepatuhan yang sama tingkat dan kwalitasnya, maka kemajuan hampir-hampir tidak mungkin dicapai. ".....(Paigham-i-Sulh, 27 Februari 1937). Bahkan dalam majalah Paigham-i-Sulh tanggal 7 Februari 1937, yang dipimpin Muhammad Ali itu, dia berkata: "Jika kendali pimpinan tidak dipegang oleh seorang pemimpin yang kepadanya kaum berjanji memberikan pengorbanan keuangan, pikiran dan lain-lainnya maka kemajuan yang permanen dan langgeng tidak mungkin bisa dicapai. Ini hanya dapat diperoleh bila kendali semua urusan Jemaat diletakkan pada tangan seorang yang kepadanya semua orang berjanji akan patuh. Semua anggota harus segera bertindak bila pemimpin sudah memberikan tanda. Semua mata harus tetap terpaku pada bibir pemimpin . Pada saat bibir itu bergerak memberikan perintah maka semua orang harus cepat-cepat melaksanakannya. ..(Paigham-i-Sulh, 7 Februari 1937)...dikutip dari Majalah Sinar Islam, Aman 1358 HS). Ucapan-ucapan diatas dikemukakan oleh Muhammad Ali , kemudian setelah beliau sebagai pemimpin dari Gerakan Ahmadiyah (aliran) Lahore ia tidak didengar lagi, bahkan mendapat tantangan dari orang-orang yang sebelumnya menjadi sekutunya menentang khilafat / Hazrat Hakim Nuruddin . Dulu Muhammad Ali berserta kawan-kawannya itu merongrong kewibawaan Hazrat Khalifatul Masih I , tetapi kini ia sendiri yang dirongrong oleh kawan-kawannya itu. Ini suatu yang tragis sekali. Tragedi ini berlangsung terus sampai pada waktu Muhammad Ali meninggal dunia. Bahkan sebelum dia meninggal dunia ia berpesan kepada keluarganya agar jenazahnya jangan sampai disentuh dan dishalat jenazahkan oleh tujuh orang yang dianggapnya musuh-musuhnya, terutama sekali Maulwi Sadrudin. Tetapi tragedi ini tidak berakhir menyusul wafatnya Muhammad Ali, bahkan sesudah itu terjadilah puncak tragedi dimana Maulwi Sadruddin itu sendiri kemudian dipilih menjadi Amir, menggatikan kedudukan Muhammad Ali yang sangat membencinya itu... Ithaat absolut .... Dalam pidato beliau tanggal 31 Januari 1909 yang terkenal itu, Hazrat Khalifatul Masih I bukan saja bertindak tegas terhadap orang-orang yang telah melakukan berbagai perbuatan merongrong kewibawaan khilafat , tetapi beliau juga memberlakukan sanksi dan hukuman terhadap orang- orang yang telah berusaha mempertahankan kedudukan Khilafat dengan mengumpulkan tanda tangan orang-orang yang menyokong khilafat. Golongan itu digerakkan dan dipimpin oleh Sheikh Yakub Ali dan Hazrat Khalifatul Masih I juga marah kepada golongan ini, karena mereka telah melakukan suatu usaha mengenai khilafat tanpa izin dari Khalifah. Lebih lanjut Hazrat Hakim Nuruddin menjelaskan bahwa beliau sama sekali tidak memerlukan bantuan orang lain untuk mempertahankan kedudukan beliau, karena beliau sendiri mampu menumpas gerakan penentangan itu bila saja beliau merasa perlu. Untuk itu beliau juga memerintahkan Sheikh Yakub Ali mengulangi bai'atnya kembali. Ia ini dengan penuh keikhlasan mengerjakan bai'at ulang itu. Jadi Hazrat Khalifatul Masih I bukan saja menekankan kepada setiap anggota Jemaat supaya patuh sepatuh-patuhnya kepada khilafat dan segera mengerjakan barang sesuatu yang diperintahkan kepada mereka . Selain dari pada itu mereka juga dilarang keras melakukan barang suatu yang akan menurunkan kewibawaan dan kebesaran seorang khalifah. Bahkan menceritakan kepada orang lain suatu hal yang sudah dilarang seorang khalifah untuk menceritakannya adalah suatu perbuatan yang menodai wibawa khalifah. Berkata Hazrat Khalifatul Masih I pada suatu khotbah Idul Fitri : "Akhirnya saya ulangi sekali lagi, bahwa dalam hubungan diantara kamu sendiri buanglah sifat dengki dan permusuhan. Kalau suatu hal yang mengembirakan atau mengejutkan sampai ketelingamu , janganlah kamu menyampaikannya sembarangan kepada orang biasa"....(Badr, 21 Oktober 1909). Jadi yang dikatakan ithaat , bukan saja melakukan segera apa yang sudah diperintahkan seorang Khalifah tetapi juga menutup mulut serapat- rapatnya barang sesuatu yang menurut Khalifah harus dirahasiakan . Melanggar kerahasiaan itu adalah fitnah dan pemfitnah adalah pembunuh paling kejam, berdasarkan ayat Al-Qur'an, " Al-fitnatu asyaddu minal qatli (fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan".... Dan memang, fitnah inilah yang banyak digunakan oleh Muhammad Ali dan kawan-kawannya terhadap Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. yang kemudian dipilih sebagai Khalifatul Masih II untuk menggantikan Hazrat Khalifatul Masih I yang wafat pada tahun 1914. Sesudah Hazrat Khalifatul Masih II terpilih, Muhammad Ali mengobah banyak pendirian dan pengakuannya, baik mengenai ajaran Ahmadiyah yang dibawa Hazrat Masih Mau'ud a.s. maupun pandangannya terhadap Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad. Perobahan pendirian itu terjadi sebagai penggantian siang dengan malam . Dalam melakukan perobahan itu fitnah adalah alat yang mudah digunakan. Dengan fitnah apa yang tidak ada bisa diadakan , yang putihpun bisa dihitamkan dan yang baik bisa diburukkan. Inilah yang digunakan oleh Muhamamad Ali dan kawan-kawannya dalam perlawanan mereka terhadap Jemaat Ahmadiyah dan silsilah khilafatnya. Bersambung Wassalamu'alaikum wr.wb. Nadri Saaduddin Jalan Rambutan B-32, Telp. (+62-0765) 93s072 Duri 28884 Riau Daratan IINDONESIA ----------------------------------------------------s-- [EMAIL PROTECTED] ------------------------------------------------ Love for all, hatred for none.....! Hearken! The Messiah Has Come, The Messiah Has Come..... For further detail contact Ahmadiyya Mission over the world. ------------------------------------------------
