Jadi judul posting saya yang terdahulu mestinya berjudul:
ajaran Islam menentang negara teokrasi dan bukan Islam agama
sekuler.
Sasis bener, saya salah ngasi judul.
Mahap.
Penjelasannya: saya begitu demen membaca ayat al-Qur'an yang
saya maksudkan itu, makanya saya jadi bernafsu.
Dan neyerocos cepet-cepet!
Ya, omongannya jadi salah.
Jadi sekali lagi mahap.
Nah yang bikin saya jingkrak-jingkrak kayak kacang satu yang
direbus, adalah karena saya membaca surah Al-Ghasiyah, ayat
21, 22 yang berbunyi:
"Ingatkanlah. Tugas engkau (Muhammad) hanyalah untuk
menyampaikan (wahyu Allah) dan bukan untuk memerintah".
Jadi, Muhammad itu adalah Rasullullah semata dan bukan
Kalifah.
Sesungguhnya, kalifah itu hanyalah nabi Adam dan nabi Daud,
sedangkan Mumhammad - jelas dari ayat ini - tidak.
Jadi, bendang bak bersuluhkan matahari, menurut ayat ini,
al-Qur'an itu memisahkan urusan agama dari urusan politik, jadi
juga - dengan sendirinya - dari urusan negara, negara yang
adalah salah satu sistem politik.
Nabi Muhammad juga tidak menunjuk penggantinya, karena memang
hanya dialah yang dituruni dan yang menyampaikan wahyu dan dia
juga memang bukan kalifah yang perlu diganti.
Kalifah baru ada setelah nabi Muhammand meninggal, jadi
hasil pikiran orang Arab yang tidak berdasarkan kepada al-Qur'an.
Agar jelas: kalifat itu adalah bahagian dari sejarah Arab dan
bukan bahagian dari ajaran Islam yang perlu diturutkan.
Dan bukan hanya itu: memperjuangkan negara teokrasi Islam
jadinya juga bertentangan adanya dengan al-Qur'an.
Tambahkanlah argumen ini ke argumen yang saya sampaikan
kemarin, dan akan kelihatan bahwa tuntutan sebahagian orang
Islam di Indonesia untuk mendirikan negara Islam adalah
tuntutan yang bertentangan dengan al-Qur'an.
Jusfiq Hadjar gelar Sutan Maradjo Lelo =
======================================
To unsubscribe send a message to [EMAIL PROTECTED] with in the
message body the line:
unsubscribe demi-demokrasi