Saya sependapat dgn pendapat semua rekan2 SEHAT disini (dr. windarti,
black eagle, henry)dan termasuk penulis email tsb (pak daniel).
Masalah medis di indonesia ini memang sudah jadi rantai setan (pasien
irasional, dokter irasional, pabrik obat promosi tanpa etis, pemerintah
tidak perduli) yg memutuskannya seperti memakan buah simalakama.

Apa harus menuntut semua pasiennya pinter2 spt para Smart Parents
dimilis ini (atau milis SEHAT nya dr. Waty)? Khan tdk semua org
terexpose dgn internet. Merekapun juga punya kebutuhan spesialisasi
masing2, yg jadi insinyur harus belajar mendalam ttg teknik, trus harus
belajar lagi ttg medik, yg enak sih yg bidangnya medik dong, cukup satu
bidang keilmuan aja dia kaji. Belum lagi mereka harus mikirin kerja cari
uang dijaman susah begini, punya waktu utk main dgn anak istri aja udah
bersyukur, tambah harus meluangkan waktu luang (apa masih ada?) utk baca
ttg medis kayaknya berat juga

Apa harus menuntut pemerintah peduli? Harusnya begitu, krn siapa yg bisa
kontrol intervensi tidak etis dari pabrik obat selain pemerintah? Siapa
yg bisa mengesahkan standarisasi sertifikasi para dokter kalo tidak ada
endorse dari pemerintah? (btw apa sudah ada belum sertifikasi para
dokter sblm mereka berhak utk mpraktek?)
Tapi khan katanya pemerintah skrg lagi pusing dgn masalah busung lapar,
kemiskinan, penanganan pengungsi bencana alam, outbreak DBD, flu burung,
yaa mungkin juga mrk tidak punya cukup resource utk menangani masalah
ini?
Saya malah bermimpi adanya badan pengawanan praktek medis di negara ini,
termasuk badan pengawasan penggunaan antibiotik, seperti cerita dr. Waty
yg ada di US sana, jadi kalo dokter sini mau kasih antibiotik level 3,
minta izin dulu dong ke mereka.. Jadi ada mekanisme control disini.

Apa harus menuntut para dokter agar RASIONAL, mau meng-educate pasien?
Nah inilah satu-satunya solusi yg paling tepat. Mau apa lagi, wong ente2
yg dididik 5 th di bangku kedokteran, tambah 3 tahun(?) sekolah
spesialisasi, lha kok masih mendiagnosa dan kasih obat tidak rasional?
Halooooo para dokter...
Asumsikanlah anda memang tidak punya banyak waktu utk meng-educate
pasien, tapi anda khan tetap bisa meresepkan obat yg rasional... Kalo
pasien ngeyel minta puyer, kasih aja tablet isi gula sama vit. C
(placebo)... Biasanya yg ngeyel begini toh enggak bakalan sadar juga
kalo yg dia terima Cuma placebo.

Bahkan saya berani anda tantang begini. Saya keahliannya dibidang
pengeboran minyak, namun saya bisa menjelaskan kepada seorang dokter yg
belum pernah lihat rig bagaimana proses pengeboran minyak dilakukan, dgn
ilustrasi sederhana dan bahasa yg simple, hanya dlm waktu 10 menit, dan
anda bisa bercerita didepan kelas dgn narasi yg sama seperti saya.
Sekarang tantangan saya kepada para dokter: Bisakah anda dalam waktu 10
menit menerangkan kepada setiap pasien anda, apa dan bagaimana penyakit
yg dialami, dan apa langkah RASIONAL yang harus dijalani, dan kenapa
anda memberikan atau tidak memberikan obat dlm bahasa simplifikasi dan
edukatif ? Jika anda tidak bisa pasti krn anda tidak menguasainya. Krn
sbgmn pepatah: "Seorang ahli mampu membuat Masalah Sulit tampak Mudah,
sedang seorang pembual membuat masalah Mudah tampak Sulit."

Apa kita harus minta pemerintah utk melakukan resertifikasi keahlian
ulang utk para dokter? Kalo melihat perkembangan sekarang tampaknya
begitu.
Mohon maaf saja buat para dokter, semenjak saya kenal dr. Waty (fyi
beliau adalah ahli hepatology yg menjadi wakil WHO disini sbg pelopor
gerakan RUD, pencetus website sehatgroup dan milis SEHAT ) dan belajar dari beliau, tingkat kepercayaan saya kepada dokter kita turun cuma tinggal 10% saja.

Artinya apa yg dijelaskan oleh seorang dokter pasti akan saya recheck ke
internet entah ke AAP, FDA, CDC, atau web2 medis lainnya.
Artinya konsekuensinya ada waktu saya yg terbuang utk belajar ttg
sesuatu yg harusnya sudah ada ahlinya yg menanganinya. Dan ini namanya
pemborosan, ineffisiensi.

Akhir kata, mohon maaf kalau ada kata saya yg keras, saya hanya bisa
berharap kepada para dokter disini, termasuk dokter windarti, ayo
tunjukkan bahwa anda layak digelari "the docter" bukan "the cheater".
Ditangan andalah beban amanah memberikan wawasan medis kepada para
pasien anda. Untuk itulah anda sekolah nyaris 10 tahun lamanya, dan
untuk itulah anda diberi gelar panggilan kehormatan 'dokter' di depan
nama anda.
Seperti yg dibilang Spiderman (movie): "There comes greater power, comes
greater responsibility" (Mereka yg dikaruniai kelebihan kemampuan disaat
yg sama juga dibebani tanggung jawab yg lebih besar dari orang2 yg
awam).

Very Best Regards for RUD docters and Smart Parents here,
Hendarwin

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of windarti isminarsih
Sent: Thursday, April 27, 2006 10:52 AM
To: [email protected]
Subject: Balasan: Re: Fwd: [sehat] Fw: VOOT INFO Fw: [Dokter Umum]
Memanusiakan Dokter

jangan memandang bhw kesalahan medis hanya oleh seorang dokter saja.
banyak faktor yg lain jg. jgn memandang bhw UU Kedokteran hanya utk
malpraktek & mengatur dokter saja............Klo ada KLB di negara ini
siapa jg yg b'ush m'cegahnya?g hanya pemerintah & warga jg kan? Tapi jg
dokter...
  So jgn cepat b'prasangka buruk thd dokter..Kita sllu b'ush yg terbaik
bwt pasien..utk tmn sejawat maju trs! ViVa MEDIKA!!

black eagle <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
  ya namanya juga manusia, mau disumpah seribu kalipun ya kalau
tergantung manusianya.liat saja itu pejabat..disumpah tapi ya banyak yg
korupsi dll yg terlibat kejahatan, mau dibikin UU yg bagus bagus kalau
manusianya brengsek ya tetep aja brengsek,lupa deh sama namanya
UU,Sumpah dan etika profesi.
Duit..duit dan duit saja yg sll ada di pikiran manusia-manusia yg
berpendidikan tinggi tapi bermental rendah seperti itu Maaf.

Donkey Kong <[EMAIL PROTECTED]> menulis:    Selamat siang,
 
Saya sependapat dengan saudara moderator. Pepatah mengatakan "karena
nila setitik, rusak susu sebelanga". Karena kelalaian seseorang, seluruh
anggota terkena getahnya akibatnya. Janganlah kita menghakimi (men-cap)
semua dokter juga akan bertindak lalai hanya karena kelalaian seseorang.
Bayangkan, kalau semua dokter dicap jahat, sedangkan kita butuh
perawatan,kemana kita mencari pertolongan? Saya pribadi percaya, masih
banyak dokter yang baik (bertindak sesuai dengan prosedur yang baku).
  Apalagi dengan adanya UU Praktek Kedokteran, baik dokter maupun pasien
sama-sama mempunyai hak dan kewajiban yang harus dipatuhi.
 
  Untuk saudara Daniel (penulis surat Memanusiakan Dokter), terima kasih
atas sharing Anda. Kami belajar banyak dari pengalaman Anda.
  Semoga Anda tidak kapok (jera) "berurusan" dengan dokter.
 
  Henry A.
      imho,
 
  dokter itu punya sumpah dokter, etika profesi dan uu praktek
  kedokteran, kalo semua itu dijalankan dengan benar, saya rasa tidak
  ada yang perlu ditakutkan...
  --
  I Made Cock Wirawan
 
  Neysa NR quotes,
 
  NN> Untuk info saja. Aku kok jadi serem membaca ini.
  NN> Bagaimana nanti ketika kita berpraktek sebagai dokter,
  NN> apakah ada pasien yang merasa dirugikan seperti ini?
  NN> Lalu tindakan apa yg akan & harus kita ambil ya?
 
  -end quotes-
 
  milis kesehatan umum : [EMAIL PROTECTED]
 
  Send instant messages to your online friends
http://au.messenger.yahoo.com
   










SPONSORED LINKS
Health and wellness Health wellness product Health care
Health and wellness program Diet fitness health nutrition wellness Health promotion and wellness


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke