kita pelajari juga berbagai macam obat dan penyakit supaya gak
'dikibulin' oleh dokter yg tidak rasional...
beruntunglah mereka yg punya akses internet reguler, karena
bisa mendapat banyak pengetahuan seputar masalah2 ilmiah...
justru yg prihatin utk mereka yg jarang membaca literatur2
medik, sehingga bisa sering menjadi korban anarkisme dokter
dan diperdaya terus menerus.
dokter juga manusia biasa, bisa berbuat salah, bisa khilaf, dan
bisa rakus...
jadi sebagai dokter, tetaplah di jalur misi
KEMANUSIAAN...karena memang itu panggilan nuraninya.
--- In [email protected], "Hendarwin \(Jakarta\)"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya sependapat dgn pendapat semua rekan2 SEHAT disini
(dr. windarti,
> black eagle, henry)dan termasuk penulis email tsb (pak
daniel).
> Masalah medis di indonesia ini memang sudah jadi rantai
setan (pasien
> irasional, dokter irasional, pabrik obat promosi tanpa etis,
pemerintah
> tidak perduli) yg memutuskannya seperti memakan buah
simalakama.
>
> Apa harus menuntut semua pasiennya pinter2 spt para Smart
Parents
> dimilis ini (atau milis SEHAT nya dr. Waty)? Khan tdk semua
org
> terexpose dgn internet. Merekapun juga punya kebutuhan
spesialisasi
> masing2, yg jadi insinyur harus belajar mendalam ttg teknik,
trus harus
> belajar lagi ttg medik, yg enak sih yg bidangnya medik dong,
cukup satu
> bidang keilmuan aja dia kaji. Belum lagi mereka harus mikirin
kerja cari
> uang dijaman susah begini, punya waktu utk main dgn anak
istri aja udah
> bersyukur, tambah harus meluangkan waktu luang (apa
masih ada?) utk baca
> ttg medis kayaknya berat juga
>
> Apa harus menuntut pemerintah peduli? Harusnya begitu, krn
siapa yg bisa
> kontrol intervensi tidak etis dari pabrik obat selain pemerintah?
Siapa
> yg bisa mengesahkan standarisasi sertifikasi para dokter kalo
tidak ada
> endorse dari pemerintah? (btw apa sudah ada belum
sertifikasi para
> dokter sblm mereka berhak utk mpraktek?)
> Tapi khan katanya pemerintah skrg lagi pusing dgn masalah
busung lapar,
> kemiskinan, penanganan pengungsi bencana alam, outbreak
DBD, flu burung,
> yaa mungkin juga mrk tidak punya cukup resource utk
menangani masalah
> ini?
> Saya malah bermimpi adanya badan pengawanan praktek
medis di negara ini,
> termasuk badan pengawasan penggunaan antibiotik, seperti
cerita dr. Waty
> yg ada di US sana, jadi kalo dokter sini mau kasih antibiotik
level 3,
> minta izin dulu dong ke mereka.. Jadi ada mekanisme control
disini.
>
> Apa harus menuntut para dokter agar RASIONAL, mau
meng-educate pasien?
> Nah inilah satu-satunya solusi yg paling tepat. Mau apa lagi,
wong ente2
> yg dididik 5 th di bangku kedokteran, tambah 3 tahun(?)
sekolah
> spesialisasi, lha kok masih mendiagnosa dan kasih obat
tidak rasional?
> Halooooo para dokter...
> Asumsikanlah anda memang tidak punya banyak waktu utk
meng-educate
> pasien, tapi anda khan tetap bisa meresepkan obat yg
rasional... Kalo
> pasien ngeyel minta puyer, kasih aja tablet isi gula sama vit. C
> (placebo)... Biasanya yg ngeyel begini toh enggak bakalan
sadar juga
> kalo yg dia terima Cuma placebo.
>
> Bahkan saya berani anda tantang begini. Saya keahliannya
dibidang
> pengeboran minyak, namun saya bisa menjelaskan kepada
seorang dokter yg
> belum pernah lihat rig bagaimana proses pengeboran minyak
dilakukan, dgn
> ilustrasi sederhana dan bahasa yg simple, hanya dlm waktu
10 menit, dan
> anda bisa bercerita didepan kelas dgn narasi yg sama seperti
saya.
> Sekarang tantangan saya kepada para dokter: Bisakah anda
dalam waktu 10
> menit menerangkan kepada setiap pasien anda, apa dan
bagaimana penyakit
> yg dialami, dan apa langkah RASIONAL yang harus dijalani,
dan kenapa
> anda memberikan atau tidak memberikan obat dlm bahasa
simplifikasi dan
> edukatif ? Jika anda tidak bisa pasti krn anda tidak
menguasainya. Krn
> sbgmn pepatah: "Seorang ahli mampu membuat Masalah
Sulit tampak Mudah,
> sedang seorang pembual membuat masalah Mudah tampak
Sulit."
>
> Apa kita harus minta pemerintah utk melakukan resertifikasi
keahlian
> ulang utk para dokter? Kalo melihat perkembangan sekarang
tampaknya
> begitu.
> Mohon maaf saja buat para dokter, semenjak saya kenal dr.
Waty (fyi
> beliau adalah ahli hepatology yg menjadi wakil WHO disini
sbg pelopor
> gerakan RUD, pencetus website sehatgroup dan milis SEHAT
) dan belajar dari beliau, tingkat kepercayaan saya kepada
dokter kita turun cuma tinggal 10% saja.
>
> Artinya apa yg dijelaskan oleh seorang dokter pasti akan saya
recheck ke
> internet entah ke AAP, FDA, CDC, atau web2 medis lainnya.
> Artinya konsekuensinya ada waktu saya yg terbuang utk
belajar ttg
> sesuatu yg harusnya sudah ada ahlinya yg menanganinya.
Dan ini namanya
> pemborosan, ineffisiensi.
>
> Akhir kata, mohon maaf kalau ada kata saya yg keras, saya
hanya bisa
> berharap kepada para dokter disini, termasuk dokter windarti,
ayo
> tunjukkan bahwa anda layak digelari "the docter" bukan "the
cheater".
> Ditangan andalah beban amanah memberikan wawasan
medis kepada para
> pasien anda. Untuk itulah anda sekolah nyaris 10 tahun
lamanya, dan
> untuk itulah anda diberi gelar panggilan kehormatan 'dokter' di
depan
> nama anda.
> Seperti yg dibilang Spiderman (movie): "There comes greater
power, comes
> greater responsibility" (Mereka yg dikaruniai kelebihan
kemampuan disaat
> yg sama juga dibebani tanggung jawab yg lebih besar dari
orang2 yg
> awam).
>
> Very Best Regards for RUD docters and Smart Parents here,
> Hendarwin
>
SPONSORED LINKS
| Health and wellness | Health wellness product | Health care |
| Health and wellness program | Diet fitness health nutrition wellness | Health promotion and wellness |
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "dokter_umum" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

