|
Siapa yang tidak ingin menjadi besar dan
berpengaruh? Siapa yang tidak menginginkan posisi strategis? Tentu tidak
ada. Namun yang mengejar perkara-perkara di atas, akan banyak menemui
sandungan dan keputus asaan. Sebab, untuk meraihnya pasti banyak tekanan
dan tantangan dari pelbagai pihak. Tetapi, tidak sedikit orang pula yang
rela melakukan tipu daya untuk mendapatkannya.
Sebagai manusia, Daud mengadapi gejolak jiwa yang
dahsyat. Keinginan manusiawi untuk mencapai puncak, merupakan tuntutan
jiwanya. Namun ia segera menyadari dan mengatakan di hadapan Allah:
“Tuhan, …aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau
hal-hal yang terlalu ajaib bagiku….aku telah menenangkan dan
mendiamkan jiwaku..(Maz.131:1-2). Walaupun ia seorang raja terbesar di
antara segala raja di bumi pada waktu itu, tetapi keinginan untuk lebih
besar dan ajaib terus mengganggu jiwanya. Ia lelah dan akhirnya
menyadarinya. Ia menikmati apa yang harus menjadi jatahnya.
Kita pun seharusnya bisa bertindak seperti Daud
bertindak. Meski secara manusia (kedagingan) seringkali tantangan untuk
melakukan segala sesuatu demi tujuan tertentu terus menggoda, tetapi iman
kita harus tetap teguh. Jangan pernah berharap dan melakukan sesuatu yang
sebenarnya tidak mampu kita jangkau. Walaupun firman Tuhan menegaskan
“tiada yang mustahil bagi Dia”, tetapi hikmat Tuhan hendaknya
selalu digunakan. Bukankah tak mungkin manusia bisa terbang? Apakah kita
akan mencobanya dengan menjatuhkan diri melalui gedung tinggi?
Sebagai hamba Tuhan, kita hendaknya selalu
bersyukur dengan karunia yang Tuhan berikan dalam pelayanan. Jangan kita
mengingini hal-hal yang besar yang di luar batas-batas kemampuan kita.
Tetapi lakukan pelayan itu sesuai dengan kadar karunia yang Tuhan berikan.
Jangan kita meminjam atau mengambil karunia orang lain, demi ambisi untuk
besar. Bukankah Alkitab menegaskan agar kita selalu setia dengan perkara
kecil, sehingga pada waktunya kelak Tuhan mempercayakan perkara besar dalam
pelayanan kita. (AS)
|