|
Hari ini ada sebuah peristiwa besar yang kita
peringati, yaitu “Hari Sumpah Pemuda”. Dalam konteks
nasionalisme, ini merupakan momen untuk merefleksikan kembali apa yang
menjadi cita-cita dari para pemuda di masa itu.
Sebagai orang Kristen, khususnya para pemuda, apa
yang bisa kita pahami tentang peristiwa tersebut? Apakah sekedar perayaan
peringatan belaka bahwa dulu ada sekelompok anak muda yang berikrar dalam
persatuan? Sebab, kebanyakan dari kalangan muda mulai melupakan nilai-nilai
yang terkandung didalamnya.
Dalam peristiwa tersebut ada beberapa hal yang
dapat kita pelajari. Seperti menghilangkan sikap ego, mau menerima orang
lain meski berbeda, serta mengasihi orang lain dalam konteks yang luas.
Padahal, jika kita melihat potensi pertikaian saat itu sangat besar, tetapi
kerendahan hati, penghargaan kepada orang lain, merupakan landasan yang
kuat untuk membentuk persatuan yang utuh.
Begitu pula hendaknya kita saat ini. Jangan cuma memelihara ego,
mementingkan diri sendiri, serta menganggap diri paling benar. Bagaimana
kita bisa bersama-sama, bersatu melayani Tuhan, jika perbedaan antara kita
tak bisa dipersatukan. Jika dulu para pemuda yang berbeda latar belakang
budaya, pendidikan, bahkan agama bisa bertekad dalam satu kesatuan untuk
negeri ini, kenapa kita yang jelas-jelas ada dalam tatanan yang sama, tapi
masih saling menjatuhkan, mencurigai, serta bermusuhan.
Momen peringatan “Sumpah Pemuda” ini
hendaknya bisa juga kita pergunakan untuk memupuk rasa persaudaraan dan
kesatuan yang lebih erat bagi sesama orang percaya. Mari tunjukkan bahwa
kita bisa sama-sama melayani Tuhan, meski dengan pelbagai cara dan talenta
yang diberikan Tuhan. Jangan terjebak dalam pengkotak-kotakan dari
denominasi belaka, sehingga kita lupa bertindak melayaniNya. Kita cuma disibukan
ngomongin orang lain, memperbesar masalah yang sebenarnya bukan masalah.
Maju terus, Tuhan Yesus memberkati! (tlt)
|