Renungan Harian: Senin 19 Mei 2008 

Bacaan I: Jakobus 3: 13 - 18; Mazmur 18 (19): 8 - 10, 15 
Injil: Markus 9: 14 - 29 

Kebijaksanaan adalah karunia Roh. Nabi Yesaya meramalkan bahwa 'Roh
kebijaksanaan' akan turun ke atas Mesias terjanji (Yesaya 11:2) dan
Lukas mengkonfirmasikan bahwa sejak masa muda-Nya Anak itu bertambah
besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada
pada-Nya (Luk.2: 40). Jesus, yang kebijaksanaan-Nya mengganggu baik
sahabat-sahabat dan musuh-musuh-Nya, mengajarkan bahwa di dalam analisa
akhir kebijaksanaan dinyatakan benar oleh perbuatan-perbuatannya atau
hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya. (Mt. 11:19). 

Dalam bacaan pertama hari ini St. Jakobus mengajak kita semua untuk
mengerti, memahami dan menerima bahwa kita juga dapat hidup atau
memiliki kebijaksanaan, tapi untuk memiliki hikmah ini, kita harus
mengerti hikmah / kebijaksanaan yang benar itu macam apa. Untuk St.
Jakobus, ada dua jenis hikmah / kebijaksanaan: satunya berasal dari
Surga dan yang satunya lagi berasal dari neraka; satunya berasal dari
Allah, yang satunya berasal dari setan; satunya baik, dan yang lain
tidak baik, satunya spiritual, dan satunya tidak spiritual. Jenis
kebijaksanaan yang salah - kebijaksanaan nerakawi - yang berasal dari
setan, tidak baik dan tidak spiritual menghasilkan kecemburuan, iri
hati, ambisi diri dan macam-macam perbuatan yang tidak baik. Di pihak
yang lain kebijaksanaan surgawi, yang berasal dari Allah, baik adanya,
murni, cinta damai, penuh pengertian, taat/patuh, penuh belas kasihan,
objective dan jujur. Patut disayangi, tidak terlalu sulit untuk
menentukan jenis kebijaksanaan macam apa lebih nyata dan dominant di
dalam dunia kita dewasa ini. 

Kunci untuk memahami hikmah / kebijaksanaan yakni bahwa kebijaksaan itu
adalah karunia Roh untuknya kita harus berdoa. Kalau kita kurang
memiliki kebijaksanaan (dan Allah tahu bahwa kita semua kurang memiliki
kebijaksanaan) kita harus berdoa memohon kebijaksanaan. Sejak dari awal
suratnya St. Jakobus berseru: 'apabila di antara kamu ada yang
kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang
memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak
membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.' (Jakobus
1:5). Ini bukanlah jenis doa yang kita dapat doakan satu kali saja, tapi
sesering mungkin, terus menerus, penuh kerendahan hati dalam sikap
memohon, berseru: 'Tuhan, saya membutuhkan kebijaksanaan atau
hikmah-Mu'. 

Filsuf besar Yunani, Sokrates, yang pernah kita singgung dua hari lalu,
pernah berkata bahwa 'hikmah itu diawali dengan keraguan'. Dengan penuh
penghormatan kita menolak pendapat Sokrates ini: kita percaya bahwa
hikmah diawali dengan kerendahan hati. Hikmah Allah dieksposekan dan
ditunjukkan, bukan dalam kata-kata bijaksana atau seruan hampa atau
nasihat seorang bijak, tapi secara total di dalam Salib Jesus Kristus.
Semakin kita bertumbuh dalam pemahaman kita tentang Salib Jesus, kita
akan semakin bertumbuh di dalam kebijaksanaan / hikmah. 


Send instant messages to your online friends
http://uk.messenger.yahoo.com 

 

________________________________

* 



“This e-mail (including any attachments) is intended solely for the addressee 
and could contain information that is confidential; If you are not the intended 
recipient, you are hereby notified that any use, disclosure, copying or 
dissemination of this e-mail and any attachment is strictly prohibited and you 
should immediately delete it. This message does not necessarily reflect the 
views of Bank Indonesia. Although this e-mail has been checked for computer 
viruses, Bank Indonesia accepts no liability for any damage caused by any virus 
and any malicious code transmitted by this e-mail. Therefore, the recipient 
should check again for the risk of viruses, malicious codes, etc as a result of 
e-mail transmission through Internet”

Kirim email ke