Sedikit urun rembug;
Saya tidak tahu konstruksi sanitasi on site (sanitasi
setempat) apa yang digunakan di Jatibening, apakah cubluk atau septic tank.
Tetapi umumnya dua jenis
tersebut digunakan secara luas di Indonesia.
Kalau yang digunakan cubluk, memang seharusnya menerima
"black water" saja, atau air dari toilet saja. Sedangkan "grey
water", air bekas dari masak-memasuk termasuk cuci piring dan cuci pakaian,
harus dialirkan ketempat lain, seperti saluran drainage.
Kalau menggunakan tangki
septik (yang betul konstruksinya), memang black water dan grey water boleh
dimasukkan kedalamnya, kata Profesor saya lebih baik proses biologinya kalu
kedua air bekas tersebut dimasukkan. Deterjen memang tidak tergradasi di tangk
spetik, tetapi mendingan daripada cubluk yang langsung bisa mencemari air
tanah.
Mungkin ada/banyak penghuni
rumah yang nakal, dimana "grey water" dimasukkan (sengaja atau tidak)
ke sarana sanitasi setempat.
Atau mungkin sudah betul, grey water dimasukkan ke saluran
drainage, tetapi saluran drainagenya tidak terbuat dari pasangan (bata, beton,
atau batu), atau rusak. Sehingga air limbah yang mengandung deterjen mencemari
air tanah
Membuat sarana sanitasi komunal dalam hal
kepadatan sedang (100 - 200 jiwa/ha) memang disarankan, apabila kemiringan tanah
memungkinkan. (Seperti yang disarankan oleh Pak Bambang SP). Pada tahun 1997,
kebetulan saya menemui sesorang yang memprakarsai membuat sistem tersebut di
Malang secara swadaya. Dia membuat sarana komunal, kira-kira 30 rumah, seluruh
toiletnya disambungkan ke sistem perpipaan air limbah. Kemudian dialirkan
kesuatu tempat, dan diolah secara sederhana. Secara visual, memang hasilnya
sudah baik. Tetapi saya tidak ada kesempatan untuk menilai secara teknik lebih
jauh. Kemudian setiap rumah ditarik Rp 2000 - 3000 perbulan. Di Malang sudah
dibangun di dua tempat, yaitu di Betek tempat Bapak tersebut tinggal, dan di
Samaan. Lantaran prakarsanya, ia dianugerahi penghargaan Kapaltaru oleh Presiden
RI yang lalu.
Bapak tersebut (namanya saya lupa, mungkin Pak Gunadi ???),
belum lama ini diundang di Bappenas dalam satu acara pembahasan strategi
sanitasi. Sayapun ketemu dengan beliau pada kesempatan tersebut. Dia
menceritakan bahwa baru saja dia membangun sistem tersebut di Bandung.
Pada tahun 1998, saya ketemu ketua semacam
Asosiasi On Site Saniation dari AS (Bruce Douglas), yang menceritakan bahwa
sanitasi komunal lagi ngetrend lagi di AS, karena sistem sewerage konvensional
memang mahal investasinya.
Apabila ini dilaksankan, berarti hubungan
pencemaran dan sumber air tanah bisa diputus. Atau kalau tidak, ya harus dapat
sumber air yang lain yang tidk tersemar, seperti memperdalam sumur, atau minta
pemerintah bikin air perpipaan (PAM).
Salam,
Budi Sutjahjo
-----Original Message-----
From: Diah Parahita <[EMAIL PROTECTED]>
To: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 30 Januari 1999 15:13
Subject: FW: [dtktd] Re: FW: [envorum] Air Tanah Bekasi Tercemar Detergent
Wardah Tafif,
Adalagi tanggapan, mungkin bisa jadi salah satu alternatif
salam
Diah
(Terima kasih Pak Bambang)
----------
From: bambang s priyohadi[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: 30 Januari 1999 2:30
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: [dtktd] Re: FW: [envorum] Air Tanah Bekasi Tercemar Detergent
Ass ww
Untuk Bu Diah
Tolong disampaikan kepada Wardah (apa bukan ini teman yang pergi ke
New York waktu Habitat preparation ya?) bahwa ini merupakan konsekuensi dari
kepadatan perumahan yang sudah tinggi. Pada saat
lingkungan perumahan perkotaan secara gross meningkat di atas 300 jiwa
perhektar, maka akan terjadi pencemaran seperti hal tersebut.
Solusinya ada beberapa hal :
1. Coba cipatakan adanya sistem sewer dan sewage communal yang akan
menampung kelompok penduduk (misal per 10-12 unit rumah)
2. atau coba kembangkan jarak antara titik peresapan (baik itu septic
tank ataupun buangan kamar mandi lainnya) pada jarak di atas 10
meter. Ini kayaknya sulit untuk perumahan RS/RSS.
Cuman segitu yah..., tapi menurut saya suatu kota dengan tingkat kepadatan
penduduk di atas 200 jiwa/hektar seyogyanya harus didukung oleh sistem air
bersih perpipaan.
Matur nuwun
Wass
BSP
Diah Parahita wrote:
> Mungkin bisa jadi masukan dan membantu sebagai solusinya?
>
> salam
> Diah
>
> ----------
> From: WARDAH TAFIF[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent: 28 Januari 1999 5:18
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [envorum] Air Tanah Bekasi Tercemar Detergent
>
> Di daerah Bekasi tepatnya daerah Jatibening, sudah ada keluhan beberapa
> warga atas air tanah di rumahnya yg mengandung detergent (berbusa dan
> berbau seperti serbuk detergent).
> Kedalaman intake line dari pompa kurang lebih 10 m dan kejadian ini
> bersifat mendadak.
>
> Mereka semua berharap dapat menggunakan "surface water" melalui jaringan
> PDAM namun instalasi jaringan tersebut belum sampai ke daerah tersebut.
>
> Haruskah memperdalam sumur tsb sampai 30-50 m ?, apa penyebabnya? dan
> bagaimana solusi terbaik?
>
> Salam,
>
> ___________________________________________________________________
> Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
> Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
> Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum
>
> BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
>
> ------------------------------------------------------------------------
>
> eGroup home: http://www.eGroups.com/list/dtktd
> Free Web-based e-mail groups by eGroups.com
------------------------------------------------------------------------
Too much effort to find the stock info you want each day? StockMaster
lets you enter a company name and quickly shows you a daily quote,
chart, and news all on one page. Free! http://stockmaster.com/?a=f7
eGroup home: http://www.eGroups.com/list/dtktd
Free Web-based e-mail groups by eGroups.com
