Rekan-rekan yth, saya juga numpang tanya nih. Mungkin diantara rekan-rekan ada yang mengetahui gimana konstruksi sanitasi yang baik untuk pemukiman msayarakat yang hidup di pesisir dan di atas laut (rumah masyarakat mengunakan tiang di atas laut). Saya kira hal ini penting mengingat beban pencemar terhadap laut kita semakin tinggi. manan At 22:06 30/01/99 +0700, you wrote: >Sedikit urun rembug; > >Saya tidak tahu konstruksi sanitasi on site (sanitasi setempat) apa yang digunakan di Jatibening, apakah cubluk atau septic tank. >Tetapi umumnya dua jenis tersebut digunakan secara luas di Indonesia. >Kalau yang digunakan cubluk, memang seharusnya menerima "black water" saja, atau air dari toilet saja. Sedangkan "grey water", air bekas dari masak-memasuk termasuk cuci piring dan cuci pakaian, harus dialirkan ketempat lain, seperti saluran drainage. >Kalau menggunakan tangki septik (yang betul konstruksinya), memang black water dan grey water boleh dimasukkan kedalamnya, kata Profesor saya lebih baik proses biologinya kalu kedua air bekas tersebut dimasukkan. Deterjen memang tidak tergradasi di tangk spetik, tetapi mendingan daripada cubluk yang langsung bisa mencemari air tanah. > >Mungkin ada/banyak penghuni rumah yang nakal, dimana "grey water" dimasukkan (sengaja atau tidak) ke sarana sanitasi setempat. >Atau mungkin sudah betul, grey water dimasukkan ke saluran drainage, tetapi saluran drainagenya tidak terbuat dari pasangan (bata, beton, atau batu), atau rusak. Sehingga air limbah yang mengandung deterjen mencemari air tanah > >Membuat sarana sanitasi komunal dalam hal kepadatan sedang (100 - 200 jiwa/ha) memang disarankan, apabila kemiringan tanah memungkinkan. (Seperti yang disarankan oleh Pak Bambang SP). Pada tahun 1997, kebetulan saya menemui sesorang yang memprakarsai membuat sistem tersebut di Malang secara swadaya. Dia membuat sarana komunal, kira-kira 30 rumah, seluruh toiletnya disambungkan ke sistem perpipaan air limbah. Kemudian dialirkan kesuatu tempat, dan diolah secara sederhana. Secara visual, memang hasilnya sudah baik. Tetapi saya tidak ada kesempatan untuk menilai secara teknik lebih jauh. Kemudian setiap rumah ditarik Rp 2000 - 3000 perbulan. Di Malang sudah dibangun di dua tempat, yaitu di Betek tempat Bapak tersebut tinggal, dan di Samaan. Lantaran prakarsanya, ia dianugerahi penghargaan Kapaltaru oleh Presiden RI yang lalu. > >Bapak tersebut (namanya saya lupa, mungkin Pak Gunadi ???), belum lama ini diundang di Bappenas dalam satu acara pembahasan strategi sanitasi. Sayapun ketemu dengan beliau pada kesempatan tersebut. Dia menceritakan bahwa baru saja dia membangun sistem tersebut di Bandung. >Pada tahun 1998, saya ketemu ketua semacam Asosiasi On Site Saniation dari AS (Bruce Douglas), yang menceritakan bahwa sanitasi komunal lagi ngetrend lagi di AS, karena sistem sewerage konvensional memang mahal investasinya. > >Apabila ini dilaksankan, berarti hubungan pencemaran dan sumber air tanah bisa diputus. Atau kalau tidak, ya harus dapat sumber air yang lain yang tidk tersemar, seperti memperdalam sumur, atau minta pemerintah bikin air perpipaan (PAM). > >Salam, > >Budi Sutjahjo > -----Original Message----- > From: Diah Parahita <[EMAIL PROTECTED]> > To: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]> > Cc: '[EMAIL PROTECTED]' <[EMAIL PROTECTED]> > Date: 30 Januari 1999 15:13 > Subject: FW: [dtktd] Re: FW: [envorum] Air Tanah Bekasi Tercemar Detergent > > > > Wardah Tafif, > Adalagi tanggapan, mungkin bisa jadi salah satu alternatif > > salam > Diah > > (Terima kasih Pak Bambang) > ---------- > From: bambang s priyohadi[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > Sent: 30 Januari 1999 2:30 > To: [EMAIL PROTECTED] > Subject: [dtktd] Re: FW: [envorum] Air Tanah Bekasi Tercemar Detergent > > Ass ww > > Untuk Bu Diah > > Tolong disampaikan kepada Wardah (apa bukan ini teman yang pergi ke > New York waktu Habitat preparation ya?) bahwa ini merupakan konsekuensi dari > kepadatan perumahan yang sudah tinggi. Pada saat > lingkungan perumahan perkotaan secara gross meningkat di atas 300 jiwa > perhektar, maka akan terjadi pencemaran seperti hal tersebut. > > Solusinya ada beberapa hal : > > 1. Coba cipatakan adanya sistem sewer dan sewage communal yang akan > menampung kelompok penduduk (misal per 10-12 unit rumah) > > 2. atau coba kembangkan jarak antara titik peresapan (baik itu septic > tank ataupun buangan kamar mandi lainnya) pada jarak di atas 10 > meter. Ini kayaknya sulit untuk perumahan RS/RSS. > > Cuman segitu yah..., tapi menurut saya suatu kota dengan tingkat kepadatan > penduduk di atas 200 jiwa/hektar seyogyanya harus didukung oleh sistem air > bersih perpipaan. > > Matur nuwun > > Wass > BSP > > > > > Diah Parahita wrote: > > > Mungkin bisa jadi masukan dan membantu sebagai solusinya? > > > > salam > > Diah > > > > ---------- > > From: WARDAH TAFIF[SMTP:[EMAIL PROTECTED]] > > Sent: 28 Januari 1999 5:18 > > To: [EMAIL PROTECTED] > > Subject: [envorum] Air Tanah Bekasi Tercemar Detergent > > > > Di daerah Bekasi tepatnya daerah Jatibening, sudah ada keluhan beberapa > > warga atas air tanah di rumahnya yg mengandung detergent (berbusa dan > > berbau seperti serbuk detergent). > > Kedalaman intake line dari pompa kurang lebih 10 m dan kejadian ini > > bersifat mendadak. > > > > Mereka semua berharap dapat menggunakan "surface water" melalui jaringan > > PDAM namun instalasi jaringan tersebut belum sampai ke daerah tersebut. > > > > Haruskah memperdalam sumur tsb sampai 30-50 m ?, apa penyebabnya? dan > > bagaimana solusi terbaik? > > > > Salam, > > > > ___________________________________________________________________ > > Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] > > Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] > > Arsip envorum di http://www.egroups.com/list/envorum > > > > BARU!! Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected] > > > > ------------------------------------------------------------------------ > > > > eGroup home: http://www.eGroups.com/list/dtktd > > Free Web-based e-mail groups by eGroups.com > > > > > ------------------------------------------------------------------------ > Too much effort to find the stock info you want each day? StockMaster > lets you enter a company name and quickly shows you a daily quote, > chart, and news all on one page. Free! http://stockmaster.com/?a=f7 > > eGroup home: http://www.eGroups.com/list/dtktd > Free Web-based e-mail groups by eGroups.com > > > > ><!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD W3 HTML//EN"> ><HTML> ><HEAD> > ><META content=text/html;charset=iso-8859-1 http-equiv=Content-Type> ><META content='"MSHTML 4.72.3110.7"' name=GENERATOR> ></HEAD> ><BODY bgColor=#ffffff> ><DIV><FONT color=#000000 size=2>Sedikit urun rembug;</FONT></DIV> ><DIV><FONT color=#000000 size=2></FONT> </DIV> ><DIV><FONT size=2>Saya tidak tahu konstruksi sanitasi on site (sanitasi >setempat) apa yang digunakan di Jatibening, apakah cubluk atau septic tank. ></FONT></DIV> ><DIV><FONT size=2></FONT><FONT color=#000000 size=2>Tetapi umumnya dua jenis >tersebut digunakan secara luas di Indonesia.</FONT></DIV> ><DIV><FONT size=2>Kalau yang digunakan cubluk, memang seharusnya menerima >"black water" saja, atau air dari toilet saja. Sedangkan "grey >water", air bekas dari masak-memasuk termasuk cuci piring dan cuci pakaian, >harus dialirkan ketempat lain, seperti saluran drainage.</FONT></DIV> ><DIV><FONT size=2></FONT><FONT color=#000000 size=2>Kalau menggunakan tangki >septik (yang betul konstruksinya), memang black water dan grey water boleh >dimasukkan kedalamnya, kata Profesor saya lebih baik proses biologinya kalu >kedua air bekas tersebut dimasukkan. Deterjen memang tidak tergradasi di tangk >spetik, tetapi mendingan daripada cubluk yang langsung bisa mencemari air >tanah. </FONT></DIV> ><DIV> </DIV> ><DIV><FONT size=2></FONT><FONT color=#000000 size=2>Mungkin ada/banyak penghuni >rumah yang nakal, dimana "grey water" dimasukkan (sengaja atau tidak) >ke sarana sanitasi setempat. </FONT></DIV> ><DIV><FONT size=2>Atau mungkin sudah betul, grey water dimasukkan ke saluran >drainage, tetapi saluran drainagenya tidak terbuat dari pasangan (bata, beton, >atau batu), atau rusak. Sehingga air limbah yang mengandung deterjen mencemari >air tanah</FONT></DIV> ><DIV><FONT size=2></FONT> </DIV> ><DIV><FONT color=#000000 size=2>Membuat sarana sanitasi komunal dalam hal >kepadatan sedang (100 - 200 jiwa/ha) memang disarankan, apabila kemiringan tanah >memungkinkan. (Seperti yang disarankan oleh Pak Bambang SP). Pada tahun 1997, >kebetulan saya menemui sesorang yang memprakarsai membuat sistem tersebut di >Malang secara swadaya. Dia membuat sarana komunal, kira-kira 30 rumah, seluruh >toiletnya disambungkan ke sistem perpipaan air limbah. Kemudian dialirkan >kesuatu tempat, dan diolah secara sederhana. Secara visual, memang hasilnya >sudah baik. Tetapi saya tidak ada kesempatan untuk menilai secara teknik lebih >jauh. Kemudian setiap rumah ditarik Rp 2000 - 3000 perbulan. Di Malang sudah >dibangun di dua tempat, yaitu di Betek tempat Bapak tersebut tinggal, dan di >Samaan. Lantaran prakarsanya, ia dianugerahi penghargaan Kapaltaru oleh Presiden >RI yang lalu.</FONT></DIV> ><DIV><FONT color=#000000 size=2> </FONT></DIV> ><DIV><FONT size=2>Bapak tersebut (namanya saya lupa, mungkin Pak Gunadi ???), >belum lama ini diundang di Bappenas dalam satu acara pembahasan strategi >sanitasi. Sayapun ketemu dengan beliau pada kesempatan tersebut. Dia >menceritakan bahwa baru saja dia membangun sistem tersebut di Bandung. ></FONT></DIV> ><DIV><FONT color=#000000 size=2>Pada tahun 1998, saya ketemu ketua semacam >Asosiasi On Site Saniation dari AS (Bruce Douglas), yang menceritakan bahwa >sanitasi komunal lagi ngetrend lagi di AS, karena sistem sewerage konvensional >memang mahal investasinya. </FONT></DIV> ><DIV> </DIV> ><DIV><FONT color=#000000 size=2>Apabila ini dilaksankan, berarti hubungan >pencemaran dan sumber air tanah bisa diputus. Atau kalau tidak, ya harus dapat >sumber air yang lain yang tidk tersemar, seperti memperdalam sumur, atau minta >pemerintah bikin air perpipaan (PAM).</FONT></DIV> ><DIV> </DIV> ><DIV><FONT color=#000000 size=2>Salam,</FONT></DIV> ><DIV><FONT color=#000000 size=2></FONT> </DIV> ><DIV><FONT size=2>Budi Sutjahjo</FONT></DIV> ><BLOCKQUOTE >style="BORDER-LEFT: #000000 solid 2px; MARGIN-LEFT: 5px; PADDING-LEFT: 5px"> > <DIV><FONT face=Arial size=2><B>-----Original Message-----</B><BR><B>From: > </B>Diah Parahita <<A > href="mailto:[EMAIL PROTECTED]">[EMAIL PROTECTED]</A>><BR><B>To: > </B><A href="mailto:'[EMAIL PROTECTED]'">'[EMAIL PROTECTED]'</A> <<A > href="mailto:[EMAIL PROTECTED]">[EMAIL PROTECTED]</A>><BR><B>Cc: </B><A > href="mailto:'[EMAIL PROTECTED]'">'[EMAIL PROTECTED]'</A> <<A > href="mailto:[EMAIL PROTECTED]">[EMAIL PROTECTED]</A>><BR><B>Date: </B>30 > Januari 1999 15:13<BR><B>Subject: </B>FW: [dtktd] Re: FW: [envorum] Air > Tanah Bekasi Tercemar Detergent<BR><BR></DIV></FONT><BR>Wardah > Tafif,<BR>Adalagi tanggapan, mungkin bisa jadi salah satu > alternatif<BR><BR>salam<BR>Diah<BR><BR>(Terima kasih Pak > Bambang)<BR>----------<BR>From: bambang s priyohadi[<A > href="mailto:SMTP:[EMAIL PROTECTED]">SMTP:[EMAIL PROTECTED] ra.net.id</A>]<BR>Sent: > 30 Januari 1999 2:30<BR>To: <A > href="mailto:[EMAIL PROTECTED]">[EMAIL PROTECTED]</A><BR>Subject: [dtktd] > Re: FW: [envorum] Air Tanah Bekasi Tercemar Detergent<BR><BR>Ass > ww<BR><BR>Untuk Bu Diah<BR><BR>Tolong disampaikan kepada Wardah (apa bukan > ini teman yang pergi ke<BR>New York waktu Habitat preparation ya?) bahwa ini > merupakan konsekuensi dari<BR>kepadatan perumahan yang sudah tinggi. Pada > saat<BR>lingkungan perumahan perkotaan secara gross meningkat di atas 300 > jiwa<BR>perhektar, maka akan terjadi pencemaran seperti hal > tersebut.<BR><BR>Solusinya ada beberapa hal :<BR><BR>1. > Coba cipatakan adanya sistem sewer dan sewage communal yang > akan<BR> menampung kelompok penduduk (misal > per 10-12 unit rumah)<BR><BR>2. atau coba kembangkan jarak > antara titik peresapan (baik itu > septic<BR> tank ataupun buangan kamar > mandi lainnya) pada jarak di atas 10<BR> > meter. Ini kayaknya sulit untuk perumahan RS/RSS.<BR><BR>Cuman segitu > yah..., tapi menurut saya suatu kota dengan tingkat kepadatan<BR>penduduk di > atas 200 jiwa/hektar seyogyanya harus didukung oleh sistem air<BR>bersih > perpipaan.<BR><BR>Matur nuwun<BR><BR>Wass<BR>BSP<BR><BR><BR><BR><BR>Diah > Parahita wrote:<BR><BR>> Mungkin bisa jadi masukan dan membantu sebagai > solusinya?<BR>><BR>> salam<BR>> Diah<BR>><BR>> > ----------<BR>> From: WARDAH TAFIF[<A > href="mailto:SMTP:[EMAIL PROTECTED]">SMTP:[EMAIL PROTECTED]</A>]<BR>> > Sent: 28 Januari 1999 5:18<BR>> To: > <A href="mailto:[EMAIL PROTECTED]">[EMAIL PROTECTED]</A><BR>> > Subject: [envorum] Air Tanah > Bekasi Tercemar Detergent<BR>><BR>> Di daerah Bekasi tepatnya daerah > Jatibening, sudah ada keluhan beberapa<BR>> warga atas air tanah di > rumahnya yg mengandung detergent (berbusa dan<BR>> berbau seperti serbuk > detergent).<BR>> Kedalaman intake line dari pompa kurang lebih 10 m dan > kejadian ini<BR>> bersifat mendadak.<BR>><BR>> Mereka semua > berharap dapat menggunakan "surface water" melalui > jaringan<BR>> PDAM namun instalasi jaringan tersebut belum sampai ke > daerah tersebut.<BR>><BR>> Haruskah memperdalam sumur tsb sampai 30-50 > m ?, apa penyebabnya? dan<BR>> bagaimana solusi terbaik?<BR>><BR>> > Salam,<BR>><BR>> > ___________________________________________________________________<BR>> > Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke <A > href="mailto:[EMAIL PROTECTED]">[EMAIL PROTECTED]</A><BR>> Stop langganan > envorum: "unsubscribe envorum" ke <A > href="mailto:[EMAIL PROTECTED]">[EMAIL PROTECTED]</A><BR>> Arsip envorum di > <A > href="http://www.egroups.com/list/envorum">http://www.egroups.com/list/envor um</A><BR>><BR>> > BARU!! Arsip di <A > href="http://www.mail-archive.com/[email protected]">http://www.mail-archive [EMAIL PROTECTED]</A><BR>><BR>> > ------------------------------------------------------------------------<BR> ><BR>> > eGroup home: <A > href="http://www.eGroups.com/list/dtktd">http://www.eGroups.com/list/dtktd</ A><BR>> > Free Web-based e-mail groups by > eGroups.com<BR><BR><BR><BR><BR>--------------------------------------------- ---------------------------<BR>Too > much effort to find the stock info you want each day? StockMaster<BR>lets > you enter a company name and quickly shows you a daily quote,<BR>chart, and > news all on one page. Free! <A > href="http://stockmaster.com/?a=f7">http://stockmaster.com/?a=f7</A><BR><BR> eGroup > home: <A > href="http://www.eGroups.com/list/dtktd">http://www.eGroups.com/list/dtktd</ A><BR>Free > Web-based e-mail groups by >eGroups.com<BR><BR><BR><BR></BLOCKQUOTE></BODY></HTML> > ___________________________________________________________________ Mulai langganan envorum: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] Stop langganan envorum: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED] Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
