RADAR JEMBER, Jumat, 23 Juli 1999, Jawa Pos
Ratusan Hektar TN Meru Betiri Dirambah
Jember, Radar
Sedikitnya 485 hektar areal di Taman Nasional
Meru Betiri (TNMB)
dirambah masyarakat yang tinggal disekitar
kawasan daerah tersebut.
Berdasarkan data di Balai TNMB sampai akhir Mei
lalu tercatat
sebanyak 1094 orang melakukan perambahan hutan.
Perambahan terbesar terjadi di kawasan Sanen
Rejo, Kecamatan
Tempurejo seluas 265,50 hektar disusul Desa
Andong Rejo seluas 167
hektar. Sedangkan sisanya berada di Curah Nongko,
Kecamatan
Tempurejo.
Menurut Adji Seputra, Ketua Tim Rehabilitasi
TNMB, perambahan
hutan oleh masysrakat terlihat meningkat sejak
krisis moneter terjadi.
Pihak TNMB sendiri merasa kesulitan untuk
menghentikan
perambahan yang seolah sudah menjadi kebiasaan
masyarakat
disekitar lokasi Taman Nasional.
Disebutkan bahwa kondisi lahan yang dirambah
adalah lahan bekas
tegakan jati yang dijarah massa beberapa waktu
lalu. Selain itu juga
lahan tegakan yang belum terrehabilitasi oleh
Balai Taman Nasional
Meru Betiri.
Menurut Adji, perambahan hutan tidak hanya di
zona rehabilitasi,
tetapi sudah mulai merambah sampai ke zona rimba
yang berada di
dilokasi berlereng dengan kemiringan sekitar 30
sampai 60 derajat.
��Perambahan itu terjadi karena masyarakat
sekitar lokasi belum
mengerti arti sebuah Taman Nasional, terlebih
lagi fungsi-fungsi Taman
Nasional yang terdapat di desa Sanen Rejo, Curah
Nongko dan
Andong Rejo,�� katanya.
Dia juga merasa heran karena sebenarnya
masyarakat yang
merambah rata-rata sudah memiliki lahan garapan
pribadi. ��Mereka
merambah hanya dengan alasan untuk mencari
penghasilan
tambahan,�� tambahnya.
Melihat kondisi ini Balai Taman Nasional Meru
Betiri segera
melakukan langkah-langkah pencegahan agar
perambahan yang
dilakukan masyarakat tidak meluas. Langkah yang
diambil adalah
dengan merangkul masyrakat perambah dengan
program-program
kemitraan.
��Karena kalau kita tangani dengan kekerasan bisa
jadi kita malah
akan dilawan. Tetapi dengan melakukan pendekatan
ke masyarakat
secara sosial ekonomi saya yakin akan lebih
efektif,�� tandasnya.
Pola kemitraan yang dilakukan yakni dengan
melibatkan Lembaga
Swadaya Masyarakat (LSM) yang dekat dengan
masyarakat. LSM
tersebut menjadi andalan Balai taman Nasional
Meru Betiri untuk
menyadarkan masyarakat mengenai pentingnya fungsi
Taman
Nasional, sekaligus menciptakan pamswakarsa dari
masyarakat untuk
mengamankan lokasi TNMB.
Balai Taman Nasional Meru Betiri juga akan
melakukan rehabilitasi
terhadap kawasan Taman Nasional. Penekanan
rehabilitasi ini pada
penanganan areal terambah dan bekas jarahan serta
zona yang
terbuka secara alami.
Lebih lanjut Adji menambahkan bahwa kegiatan
rehabilitasi dibagi
menjadi tiga tahap dan untuk sosialisasi program
rehabilitasi ini, Balai
TNMB menggandeng dua LSM yaitu LSM Hamim dan LSM
Latin.
��Kedua LSM ini kita libatkan penuh karena
merekalah yang ngeloni
masyarakat selama ini, dan dedikasi mereka untuk
turut
menyukseskan program ini sudah tidak kita ragukan
lagi,��
tambahnya.(ras)
___________________________________________________________________
Mulai langganan: "subscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: "unsubscribe envorum" ke [EMAIL PROTECTED]
Arsip di http://www.mail-archive.com/[email protected]
atau di http://www.egroups.com/list/envorum