Rekan Agung Setiya Budhi,

Warna dari buangan pabrik textile umumnya selalu ada. Pabrik textile yang
baik biasanya dilengkapi WWTP (Wastewater Treatment Plant) untuk
menghilangkan/menurunkan BOD dan warna. Yang lebih jadi persoalan adalah
pabrik textile rumah tangga atau usaha batik, yang umumnya tidak mempunyai
WWTP.
 
Proses untuk menurunkan atau menghilangkan warna umumnya dengan absorbsi,
pengendapan dan oksidasi.
Untuk absorbsi, bahan-bahan yang digunakan cukup banyak. Ada bahan produk
pabrik absorbant (Calgon dlsbnya). Ada bahan alami seperti bentonite, atau
bahkan tanah liat, mempuinyai daya absorbsi yang baik. Sayangnya tanah liat
homogenitasnya berbeda-beda tergantung lokasinya.

Pengendapan menggunakan proses koagulasi-flokulasi, setelah itu baru
dilakukan
pengendapan. Bahan untuk koagulasi-flokulasi bermacam-macam, seperti feri
sulfat, fero sulfat, feri chlorida, alum. Umumnya dilakukan proses
pengendalian pH, untuk mendapatkan proses koagulasi-flokulasi yang optimum.
Al2SO4.18H2O dengan dosis agak tinggi (100 - 200 ppm), setelah terjadi
pengendapan, biasanya efektif mengurangi warna sekaligus BOD.

Chlor bisa digunakan untuk mengokdidasi warna yang tersisa, sehingga tidak
berwarna. Chlor bisa berbentuk bubuk sebagai kaporit yang dilarutkan dalam
air, atau berebtuk gas yang lebih efektif tetapi handlingnya agak sulit.

Di Indonesia, banyak perusahaan yang mampu melakukan proses ini. 

Mudah-mudahan berguna.

Salam,

Budi Sutjahjo   
----------
> From: Agung Setiya Budhi <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [envorum] Mohon informasi
> Date: 15 September 1999 17:36
> 
> Rekan-rekan Yth.,
> 
> Seperti diketahui S. Bengawan Solo pada musim kemarau 
> sering kali terjadi (peningkatan) pencemaran air, seperti saat
> sekarang ini. Pencemaran diakibatkan limbah yang berasal (kebanyakan)
> dari pabrik-pabrik di sekitar kota Solo. Utamanya industri kimia dan
> textile,
> sehingga timbul masalah COD tinggi, DO rendah, logam berat tinggi dan 
> warna pekat (kehitam-hitaman).
> 
> Perhatian saya sementara ini ada di masalah warna, karena secara visual
> gampang sekali identifikasinya, meski warna bisa merupakan indikator
> pencemar yang lain seperti COD, DO, organik dan logam berat. 
> Warna juga sulit di-jernih-kan, karena (konon) industri textile seiring
> kemajuan teknologi, memakai warna yang 'sophisticated' alias kuat tahan
> luntur,
> dan akibatnya tahan di-treatment. 
> 
> Kira-kira adakah rekan-rekan di mailist ini yang mempunyai pengalaman,
> pengetahuan atau pernah dengar cara men-treatment warna ini dalam
> skala supply air yang sangat besar, kelas industri atau PDAM daerah, 
> bukan skala rumah tangga. Ataupun mungkin pernah tahu/dengar perusahaan/
> konsultan/lembaga penelitian yang pernah (bisa) melakukan hal semacam.  
>  
> Mohon informasi dan sumbang sarannya.
> 
> Salam,
> 
> Agung Setiya Budhi
> 
> ---------------------------------------------------------------------
> Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
> Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
> dan di http://www.egroups.com/list/envorum

---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
dan di http://www.egroups.com/list/envorum

Kirim email ke