Dear All,

Saya ingin urung rembuk soal limbah tektil itu lho, kebetulan saya saat ini
sedang bekerjasam mengatasi masalah warna ini dengan Yayasan Wisnu - nya
Mbak Yuyun Ilham (cohort-8).

Seperti sarannya P. Budi Sutjahjo, saya juga pernah melakukan pengolahan
warna dari limbah tektil ini dengan menggunakan koagulan, baik Fe maupun
Al. Singkatnya, penghilangan warna bisa berjalan pada pH tinggi (13 dengan
menggunakan FeSO4 dan NaOH), sehingga kita memerlukan penambahan asam agar
limbah yang dibuang kembali mempunyai pH netral. 
Dari aspek ini, kita hitung bahwa biaya yang digunakan cukup tinggi,
sehingga hanya cocok untuk industri besar. Perlu dicatat bahwa penggunaan
Al tidak memberikan hasil yang positif.

Kemudian kita juga telah melakukan percobaan dengan menggunakan kombinasi
kimia-biologis. Maksud pengolahan kimiawi (H2O2)adalah untuk memecah ikatan
kompleks zat warna sehingga kemudian mudah diolah oleh mikroorganisma
anaerobik yang digunakan. Hasil yang diperoleh sejauh ini cukup memuaskan
karena dapat mengurangi intensitas warna dan sekaligus zat organiknya (BOD)
sehingga perlu ditingkatkan lebih lanjut karena biayanya yang relatif lebih
ekonomis. Prinsip yang dilakukan oleh P. Tjandra di ITB saya kira sama, dia
juga berusaha mencari enzim yang dapat memecahkan ikatan kimia kompleks zat
warna untuk selanjutnya diolah secara biologis.


Sekian dulu, mudah2an informatif.

Salam,
Joni Hermana




---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]
dan di http://www.egroups.com/list/envorum

Kirim email ke