Hallo juga,
Pertanian organik memang sangat tergantung pada kesuburan alami tanah. Jadi
kalau anda bertani organik di tanah yang tandus, hasilnya sudah pasti rendah
sekali. Tetapi kalau di tanah yang kesuburan alaminya baik, hasilnya bisa
baik juga. Masalahnya sebagian tanah pertanian sekarang sudah rusak akibat
penggunaan pupuk kimia dan pestisida yang berlebihan. Jadi sudah pasti untuk
kembali ke pertanian organik dengan produktivitas tinggi dibutuhkan waktu
untuk mengembalikan kesuburan tanahnya seperti semula.

Kalau ingin melihat hasil lapangannya bisa di Cisarua, di yayasan Bina
Sarana Bhakti. Mereka mengelola tanah yang secara konsisten (14 tahun)
dikelola secara organik dan hasilnya baik. Selain itu di Cisarua juga banyak
petani yang bertani organik di bawah lahan sengon dan hasil penennya baik
sekali. Atau sekalian saja ke Fukuoka, Jepang. Tulisan Revolusi sebatang
jerami kan dibuat berdasarkan pengalaman empiris di lapangan.

Tentang tahan lama, kalau sama-sama tidak diberi perlakuan setelah penen,
menurut ibu-ibu yang jadi konsumen produk organik kami, tingkat keawetannya
justru lebih tinggi. Demikian juga menurut petani-petani organik di Ds.
Geblug dan Cisarua.

Tentang jumlah yang setara (untuk satu komoditi) memang tidak mungkin karena
salah satu prinsip pertanian organik adalah keanekaragaman hayati. Jadi
pendekatan yang dipakai adalah pendekatan ekosistem. Hasil yang diperoleh
petani untuk masing-masing komoditi mungkin sedikit, tetapi karena
variasinya banyak, jadi secara finansial mungkin hasilnya bisa lebih banyak.
Selain itu metode ini juga menghindarkan petani dari kerugian yang besar
akibat jatuhnya harga karena panen raya.

Tentang self-claim. Saat ini, apalagi di Indonesia kebanyakan penjual produk
oragnik tidak menjual produk organik yang disertifikasi (self claimed).
Pertama, biaya sertifikasi mahal, kedua (mungkin) karena ketidaktahuan.
Karena itulah muncul banyak produk yang mengaku organik padahal sebetulnya
bukan. Jika anda berminat untuk mengetahui kriteria produk organik, silakan
membaca standar yang dikeluarkan oleh IFOAM (international Federation of
Organic Farming Movement). Dari situ akan dapat dibedakan dengan jelas mana
produk yang organik dan mana yang tidak.

Sekian dulu, kalau informasi ini kurang lengkap, silakan menghubungi saya
lagi.

Any Sulistyowati
ELSPPAT

>allo,
>nanya doank, kalo makin banyak yang tertarik bertani organik, apa nggak
makin besar tanah yang diperlukan buat bertani (dengan ngebabat hutan
misalnya?) ya..? karena setahu saya pertama hasil panen system organik lebih
rendah dari pada yang system intensive dan kedua hasil panennya juga nggak
tahan lama? sorry bukannya pesimis (en eniwe saya nggak disponsori produsen
pestisida :-)), emang sudah banyak klaim seperti dari fukuoka (one straw
revolution) yang bilang pertanian organik bisa menghasilkan panen yang
setara dengan system intensive, tapi saya belon pernah denger hasil
penerapan di lapangan apa bener dengan klaimnya. itu belon ngeliat point
kedua lho..speerti di amerika karena problem penyimpanan ini, daging organik
dibolehkan untuk make system irradiasi biar rada tahan lama. jadi labelnya
rada 'aspal' kali ye..nggak bener-bener organik..he he..segitu daulu deh..
>
>bye
>
>




---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke