Nenny R Babo wrote:

> Menyimak millis bung Johny Anwar tentang etika dan moral berwawasan
> lingkungan tergambar betapa pessimisnya bung Johny tentang pelestarian
> lingkungan, walaupun beliau punya etika dan moral namun karena ia bukan
> siapa-siapa maka tak dapat berbuat apa-apa.  Artinya, kalau anda bukan
> bos/tuan besar maka anda tidak ada apa-apanya, semuanya tergantung pada
> pejabat/atasan. Latar belakang pemikiran seperti ini sangat tepat pada era
> orba, tetapi jika diketengahkan dalam era sekarang biasnya besar dan sangat
> menyesatkan apabila pemikiran seperti ini dipasarkan!!!!
>
> Berlawanan dengan pemikiran pessimistis tersebut, dalam masyarakat kita
> masih hidup pemikiran "walaupun bukan siapa-siapa namun dapat berbuat apa
> yang terbaik untuk pelestarian lingkungan". Banyak hasil penelitian
> mengungkapkan betapa concern masyarakat adat (bukan siapa-siapa) memproteksi
> lingkungan mereka.  Salah satu masyarakat adat dari beragamnya masyarakat
> adat di Indonesia adalah komunitas adat Ammatowa di Kajang, Bulukumba -
> Sulsel. Masyarakat adat Ammatowa yang dalam istilah bung Johny adalah bukan
> siapa-siapa namun mampu  berbuat apa yang terbaik untuk melestarikan
> lingkungan hidup di kawasan adat tersebut (hasil studi Abd.Kadir Ahmad,
> 1991). Kemampuan masyarakat adat Ammatowa dalam pelestarian lingkungan
> dilandasi oleh sistem kepercayaan yang disebut pasang. Pasang inilah yang
> menjadi etika dan moral dalam berprilaku sehingga mereka menjadi optimis dan
> tidak pessimis dalam melestarikan lingkungan.
>
> Bagi saya, pelestarian lingkungan harus dikeroyok (kolektif) untuk mencapai
> hasil yang optimal. Artinya, tidak seorangpun dari manusia di bumi lepas
> tanggung jawab terhadap pemeliharaan lingkungan.  Di lingkungan pemerintahan
> sangat dibutuhkan pembisik lingkungan (apapun istilahnya, karena ini yang
> populer yaa kita pakailah), masyarakat adat jangan digusur oleh kekuasaan
> pusat dengan DOM dan pengusaha HPH dan multinasional, bagi individu harus
> optimis forever !!!! asal jangan badman forever lllllaaaahhhhh !
>
> Salam dari Makassar, Nenny Babo (C-8, LEAD)
> walaupun bukan siapa-siapa tetaplah berbuat apa yang terbaik untuk
> lingkungan!!!!

Buat rekan Nenny R.B. dan Agung S.B.
Terima kasih atas komentarnya, Saya ingin mengklarifikasikan apa yang saya
maksud dengan ....Bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa...... Sebenarnya makna
yang tersirat dari pernyataan ini lebih jauh dari yang rekan Nenny maksudkan,
kalau dinyatakan bahwa masyarakat adat (Ammatoa di Kajang) bukan siapa-siapa,
justru saya melihat sebaliknya dengan mengatakan justru mereka itu siapa?! -
struktur dan tatanan kehidupan mereka itu begitu kuat dengan adanya pasang
(ujar-ujar) sebagai suatu pranata sosial turun temurun (oleh rekan Agung)
disebut sebagai antropho-centric, yang begitu kuat yang membuat masyarakat ini
sanggup menjadi siapa; begitu hebatnya Etika dan moral mereka berwawasan
lingkungan sehingga mereka amat sulit di tembus oleh teknologi. Perlu saya
kemukakan disini, begitu kuatnya tradisi pasang yang mereka buat sehingga untuk
memasuki lingkungan kehidupan mereka, anda harus berjalan kaki sepanjang 5 Km
dan berpakaian hitam, bila tidak demikian anda tidak akan diterima. Mereka tidak
menginginkan suara bising dari kecanggihan teknologi. Di sisi lain, Pemda
setempat telah mengusahakan GIP sebagai supply air bersih tapi ditolak dan
secara berkelanjutan mereka tetap menggunakan bambu. Peralatan makan mereka
secara turun temurun tetap sama - dari daun dan piring tanah; dengan kata lain,
mereka telah memiliki jati diri. Bahkan yang lebih menarik lagi dalam struktur
pemerintahan mereka, sang Puto (yang menjadi kepala adat) tidak dijamin dan
diservice oleh warganya - untuk memenuhi kebutuhan hidupnya beliau diberi
sebidang tanah untuk beliau kerjakan sendiri seperti layaknya warga masyarakat
lainnya (bandingkan dengan rekan kita kalau sudah jadi pejabat, atasan dan bos
......yang selalu mau disanjung, dilayani dan diservice). Suatu pranata, kaidah
dan norma  yang sangat bagus untuk dipelajari.

Jadi disini yang saya maksud bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa; adalah juga
bagi mereka yang tidak tahu diri dan tidak beretika dan moral termasuk saya.
Belum lagi dengan kesaktian "aji mumpung" yang menghalalkan segala cara (bukan
apa yang dimakan besok ..... tetapi ... siapa yang dimakan besok). Mengapa kita
harus membangun mahligai diatas puing reruntuhan orang lain?! apakah ini yang
akan kita wariskan dan lestarikan?. Kesemua inilah yang membuat saya menjadi
semakin pesimis ....rajamlah aku, apabila ada diantara kalian yang tidak pernah
berbuat dosa.

Bukan saja catu daya (stroom) yang kita butuhkan tapi lebih dari itu yakni
pemahaman tentang diri sendiri sebagai siapa..... look inside-out and act
outside-in.
Sejauh manakah pemahaman kita akan arti kebenaran ilmu?

Saya tertarik oleh ungkapan seorang kolega, kalau tidak ada yang bisa saya
lakukan kecuali ngomong dan menggerutu itulah yang saya lakukan.

Salam


---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke