Rekan-Rekan millis Yth,.
Pendekatan saya pada pembangunan berkelanjutan sangat pesimistic;
sehingga saya berusaha untuk mengubahnya. Akan tetapi semakin saya
berusaha mengubahnya semakin saya merasa terpojokkan oleh kondisi dan
keadaan. Saya berasumsi - kalau anda bukan siapa-siapa anda bukan
apa-apa; Buat rekan Nenny no hard feeling!! begitulah/kah Indonesia?!.
Saya tidak sependapat untuk terus berteriak - apalah arti satu orang
pembersih dibandingkan dengan sembilan orang yang pengkotor, energy
habis tidak ada yang mendengar. Saya tidak habis mengerti, dengan tanpa
konsep?! para tk. becak bisa membuat Siaga Satu di JKT. Mengapa kita,
dengan kepiawaian dan kepakaran kita (katanya!!) tidak mampu mendobrak
tradisi perusakan lingkungan untuk kepentingan anak cucu kita; apakah
proses pembodohan yang dilakukan oleh para pembisik atau apapun
istilahnya, lebih kuat pengaruhnya dibandingkan dengan Etika dan Moral
Berwawasan Lingkungan?.
....... Oleh sebab itu sebagai yang bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa,
saya semakin putus asa melihat jalan Tol yang bolong dan memakan korban,
terumbu karang yang katanya sisa 6% yang baik dengan fakta!!!   tanpa
ada yang merasa bersalah atau bertanggung jawab. Benar yang dikatakan
oleh Ebiet "kita bangga dengan dosa-dosa yang kita perbuat"
Pertanyaan saya sebagai manusia yang berahlak dan bermoral dimanakah
wawasan Etika dan Moral kita saat ini? yang seharusnya kita laksanakan
berdasarkan kaidah-kaidah KEBENARAN ILMU yang telah kita yakini
kebenarannya.
Mau berteriak suara ini sudah habis, mau diam saja dianggap kejahatan;
memang susah menjadi manusia di Indonesia.

Mengapa kita tidak sama-sama berteriak utamanya yang punya power, wealth
dan knowledge.

Salam



---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke