http://suarapembaruan.com/News/2000/04/11/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY TAJUK RENCANA

Tanggung Jawab atas Kerusakan Alam Kita

TIDAK berlebihan apabila dikatakan, darat dan laut Indonesia kini menjerit 
sejadi-jadinya,
karena tidak mampu lagi menderita akibat tekanan manusia (human pressures) dan sudah
melewati daya dukungnya. Pokoknya, kerusakan lingkungan makin memburuk, jika tidak
segera ditanggulangi secara sungguh-sungguh.

Semua itu akibat ulah manusia yang tak bertanggung jawab. Sebagian karena ketidaktahuan
orang-orang kecil yang kosong perut. Namun sebagian besar disebabkan oleh keserakahan 
dan
kerakusan kaum bermodal besar untuk mendapatkan keuntungan materi sebanyak-banyaknya
dan dalam waktu sesingkat-singkatnya, dengan akibat makin hancurnya terumbu-terumbu
karang dan hutan-hutan bakau di berbagai wilayah. Menurut penelitian terakhir, 
kira-kira separo
dari seluruh perairan pantai kita telah rusak terumbu karang dan hutan bakaunya.

Sudah berulang kali disebut contoh-contoh kerusakan terumbu karang seperti di wilayah 
Teluk
Jakarta (Kepulauan Seribu), di sekeliling Pulau Anak Krakatau di Selat Sunda, 
pantai-pantai
Lampung dan sekitar Ujungkulon. Semuanya begitu dekat dengan Ibukota, tempat
berkantornya Ditjen Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, Departemen Kehutanan dan
Perkebunan, yang seharusnya bertanggung jawab penuh atas kelestarian alam kita.

DALIH maupun rasionalisasi klasik yang mereka pakai untuk membenarkan terjadinya
kerusakan-kerusakan itu sudah ibarat kue-kue basi, seperti keterbatasan tenaga terampil
maupun ahli di daerah-daerah. Sementara itu, tenaga-tenaga terampil dan ahli menumpuk 
di
kantor Departemen Kehutanan dan Perkebunan, Jakarta. 

Keterbatasan dana untuk mendukung biaya operasional, yang katanya, selalu terpangkas 
oleh
penciutan anggaran serta ketakmampuan instansi pelestarian alam untuk membeli 
alat-alat yang
diperlukan, harus kita lihat berdampingan dengan raib atau diselewengkannya uang dana
reboisasi yang mencapai triliunan rupiah. Dana tersebut nyasar ke IPTN atau
penanaman-penanaman modal lain, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan 
pelestarian
alam.

Biang kerok kerusakan alam seperti hancurnya terumbu-terumbu karang yang bernilai 
ekonomis
tinggi maupun hutan-hutan bakau, tidak harus semata dan melulu ditimpakan kepada
orang-orang kecil, yang dengan bermodalkan alat peledak atau potas menghancurkan 
habitat
terumbu karang, dan membabati hutan bakau. BIANG kerok yang lebih jahat adalah para
pemodal besar yang menampung hasil penghancuran terumbu karang, yang kabarnya bahkan
diekspor ke luar negeri sehingga menjadikan Indonesia sebagai satu di antara negara
pengekspor terumbu karang di dunia. Melacak dan memperkarakan para eksportir itu secara
teoretis, tentu jauh lebih mudah, daripada menguber-uber si kecil yang merusak terumbu 
karang
hanya dengan kemampuan kedua tangan dan alat peledak.

Barangkali juga yang paling buruk di antara penyebab rusaknya lingkungan alam kita, 
adalah
alam pikiran (state of mind) para pengelola tingkat paling tinggi di puncak pimpinan
departemen, yang sengaja menghalalkan penumpukan tenaga-tenaga ahli yang muspra (idle) 
di
Jakarta, sementara di beberapa daerah taman-taman nasional dan cagar-cagar alam 
dibiarkan
"dijarah" oleh tangan-tangan tak bertanggung jawab. Di samping itu, selama ini kita 
seakan-akan
menutup mata terhadap raibnya dana reboisasi triliunan rupiah tersebut.


Last modified: 11/4/2000 
---------------------------------------------------------
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
        http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/

---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke