Oleh karena kesibukan saya tidak sempat mengikuti diskusi "Penduduk 
Asli dan Kerusakan Lingkungan" ini dengan baik. Tapi topik ini sungguh sangat 
menarik hati saya, karena saat sekarang kebetulan saya sedang 
mendalami antropologi lingkungan.
Di masa lalu kecenderungannya memang penduduk lokal lebih konservasi 
terhadap lingkungan. Analisa-analisa ethnoekologi/ethnoscience 
memberitakan kepada kita bahwa ada kepercayaan-kepercayaan/lokal 
religion/ kearifan lokal bahwa ada semacam spirit/ mahluk halus 
dibalik alam ini. Seperti misalnya, salah satu riset saya di daerah 
pedalaman di Jawa, kalau kita mau menoreh getah pohon aren untuk 
dibuat gula, maka kita harus minta ijin kepada mbok Srikanoh (nama 
lain dari pohon aren) dan juga berdoa.
Banyak sekali jenis tanaman yang mempunyai nama lain dan dianggap 
berjiwa, seperti pada padi, jagung dll. Tanaman-tanaman/binatang/ikan dianggap 
punya jiwa atau bahkan dianggap titisan dewa.
Saya masih ingat ketika masih kecil, pembantu rumah tangga saya setiap mau memanen 
pisang dari 
pohonnya, selalu memulainya dengan minta ijin, minta maaf kalau 
menyakiti sang pohon  dan berdoa.
Namun saat sekarang, ketika masyarakat sudah semakin padat,
kebutuhan hidup (hedonism) meningkat, kemiskinan juga merajalela, 
masyarakat semakin rational dengan tingkat pendidikan yang makin 
tinggi, maka orang mulai ngawur. Tradisi-tradisi lama ditinggalkan 
atau dipakai sekedar ritual saja. Alam juga dibabat habis untuk 
memenuhi kebutuhan mereka / kenikmatan hidup mereka.
Sebenarnya kecenderungan masyarakat lokal akan selalu konservasi 
terhadap lingkungannya, ini juga terlihat dari berbagai taboo, totem, 
mitologi dll yang sangat mengarahkan ke konservasi. Selain itu juga 
karena kebutuhan hidup saat itu juga terbatas.
Pengaruh-pengaruh ekonomi komersial, moneter/uang, preferensi pd kehidupan
yang lebih modern, rasionalisasi yang berlebihan dan berkembangnya  
hedonisme / materialism serta kepentingan pihak-pihak luar yang lebih 
superior telah mengubah segala-galanya.
Saya kira memang tidak baik kalau kita kembali ke  alam mitologi untuk 
menghidupkan jiwa konservasi masyarakat. Diperlukan alasan-alasan 
rasional sebagai pengganti mitos tadi yang bisa mengajak masyarakat 
untuk lebih konservasi terhadap alam serta yang paling penting adalah 
mengembangkan pola pikir dan bertingkah laku yang menunjang cara 
hidup sederhana.

Salam,
Andy Ahmad Zaelany



---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke