Salam,

Kasihan juga negeri ini.
Ternyata setelah limapuluh lima tahun, harus belajar dari minus untuk
memperbaiki yang telah rusak.
Memperbaiki cara menyanyi, mendengar orang menyanyi, membuat lagu kanak-kanak,
dll.

Kayaknya lebih parah lagi lagi, kalo si guru tk tidak didukung.
Soalnya nggak ada pilihan laen.
Karena udach terlanjur milih si guru teka, bayar uang pendaftaran, uang
gedungnya.
Udach kagak punya doe it, utangnya aja bejibun. Jangan tanya harga diri,
diinjek-injek ama lintah darat kapitalis.

Suka nggak suka, ya harus ngikutin te ka itu kayaknya.
Atau bubarin aja teka -nya ?
Bikin teka sendiri-sendiri aja, lalu jadi guru teka sendiri-sendiri..
ha.ha.ha.ha.ha

Lalu apa gunanya almarhum pendiri teka itu ngebangun teka 55 tahun lalu ?
Mustinya dibaca di Pembukaan UUD 45, UUD 45, dll;.....
oh lupa ........, maap-maap,  murid-murid  teka mana ngerti.
Yang mereka tahu cuma permen, makan, minum, maen, plus ngabisin duit negara.
he.he.he.he.he

Salam
yang lagi ishenk


>
>
> Kebijakan2 dari pemimpin/pemerintah banyak yang membingungkan, tidak hanya
> dibidang lingkungan tetapi sudah meluas dalam bidang hukum, politik dan
> ekonomi. DPR sendiri yang sudah menjadi sekolah TK hanya bingung (bertepuk
> tangan) melihat tingkah laku sang guru bangsa. Jangan-jangan sang guru
> bangsa sudah menjadi guru TK seperti episode ibu guru TK di atas ???
>
> Salam dari Butta Mangkasara
>
> Nenny R. Babo




---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke