Dear teman-teman

Saya akan mengetengahkan sebuah hikayat pendek dari negeri Cina, mudah-mudahan menjadi 
renungan bersama. Alkisah, seorang pakar lingkungan yang cerdas dan kritis sedang 
menyendiri merenung disudut taman kota yang lengang. Tiba2 keheningan serentak berubah 
dengan masuknya serombongan murid2 TK sambil bernyanyi dan mengambil tempat tidak jauh 
dari sang pakar tsb. Ia merasa terusik dengan hiruk pikuk keceriaan anak2 dan ingin 
berpindah ke tempat yang lebih tenang ketika sang ibu guru menyeru, "Anak2ku semuanya, 
sekarang kita belajar lingkungan dan sengaja ibu membawa kalian ke tempat yang cocok 
dengan pelajaran kita kali ini. Dengarkan baik2, Ibu guru punya pertanyaan. Pada saat 
mana matahari paling panas, apakah pagi, siang atau sore?"  Luar biasa ibu guru ini, 
tentu seorang guru yang cerdas atau pemimpin yang heubat, pikir sang pakar. Karena 
hanya guru yang cerdas atau pemimpin yang hebat yang mampu mengajak murid2 atau 
pengikutnya berpikir kritis dan memberi alternatif untuk memilih suatu kebenaran. 
Seorang murid mengacungkan tangannya dan langsung menjawab, "pagi hari, bu guru". Apa 
alasannya ? tanya bu guru kembali. "karena pada waktu pagi seluruh panas matahari 
masih utuh, belum terbagi", jawab sang murid tangkas. "Benar sekali, tepuk tangan 
untuk dia", kata sang guru. Masih ada jawaban yang lain ? tanya bu guru. "Masih bu 
guru, matahari terasa paling panas pada siang hari", kata seorang murid yang lain. Apa 
alasannya ?, tanya bu guru. "Karena pada siang hari, matahari tegak lurus terhadap 
bumi", jelasnya. "Benar sekali, tepuk tangan untuk dia", kata sang guru.
Tiba2 sang pakar maju dan mendekat dan dengan nada yang tinggi menghardik bu guru. 
"Hai bu guru, anda guru yang membingungkan, pemimpin yang kacau. Anda tidak 
mengajarkan kebenaran kepada murid2mu" !!!!. Dengan tenang sang guru menyahut, "Apa 
alasannya?".  "Yang anda tanya adalah yang paling panas, berarti hanya ada satu 
jawaban. Nyatanya anda membenarkan dua jawaban yang berbeda, pagi dan siang" kata sang 
pakar. Dengan gembira sang guru berseru, "Dia juga benar, tepuk tangan untuk dia" dan 
dengan serentak murid2 tepuk tangan. Sang pakar tambah bingung dan sambil mengumpat 
meninggalkan taman kota.

Kebijakan2 dari pemimpin/pemerintah banyak yang membingungkan, tidak hanya dibidang 
lingkungan tetapi sudah meluas dalam bidang hukum, politik dan ekonomi. DPR sendiri 
yang sudah menjadi sekolah TK hanya bingung (bertepuk tangan) melihat tingkah laku 
sang guru bangsa. Jangan-jangan sang guru bangsa sudah menjadi guru TK seperti episode 
ibu guru TK di atas ???

Salam dari Butta Mangkasara

Nenny R. Babo

Kirim email ke