-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mo ndaftar : [EMAIL PROTECTED]
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/messages
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
http://kompas.com/kompas-cetak/0012/11/DIKBUD/masy33.htm
>Senin, 11 Desember 2000
Masyarakat Peduli HAM
Judul: Diseminasi Hak Asasi Manusia: Perspektif dan Aksi Editor: E
Shobirin Nadj & Naning Mardiniah Penerbit: LP3ES, Jakarta,
2000 Tebal: (xxii + 287) halaman, 21 cm
PERSOALAN hak asasi manusia semakin marak diperbincangkan,
dari obrolan warung kopi, diskusi kampus, hingga seminar di hotel
berbintang. Berakhirnya rezim otoriter-birokratik Soeharto,
tampaknya memiliki pengaruh signifikan terhadap kecenderungan ini.
Di masa Orde Baru, wacana HAM dihambat karena dipandang amat
sensitif, kurang mendukung pembangunan serta potensial melahirkan
disintegrasi sosial. Sering pula, persoalan HAM dianggap sebagai
onani kaum aktivis, gerakan kelompok sakit hati atau suara kaum
urakan yang dianggap antikemapanan, mengancam kultur
kekuasaan yang hegemoniknya Orba.
http://www.indomedia.com/bpost/122000/11/index.htm
Soal Raibnya Kayu Ilegal di Trisakti Yusuf Fani: Pelecehan Hukum
Banjarmasin, BPost
Praktisi hukum Kalsel Yusuf Fani Andin Kasim SH menyatakan raibnya puluhan meter kubik
kayu ilegal jenis Meranti di 13 kontiner, hasil temuan tim gabungan di Pelabuhan
Trisakti
merupakan pelecehan terhadap pejabat penegak hukum di Kalsel.
"Raibnya puluhan meter kubik kayu temuan tim itu merupakan pelecehan terhadap pejabat
penegak hukum di Kalsel," katanya, ketika dimintai pendapat soal raibnya kayu olahan
jenis
Meranti Gunung ilegal temuan Tim Gabungan Dinas Kehutanan, Polda Kalsel, Denpom dan
KPLP, di Pelabuhan Trisakti, Senin malam (4/12).
http://kompas.com/kompas-cetak/0012/11/IPTEK/hasa08.htm
>Senin, 11 Desember 2000
Akibat Banjir dan Tanah Longsor
22.000 Ha Sawah Puso dan TerancamTidak Berproduksi
Jakarta, Kompas
Akibat bencana banjir dan tanah longsor/galodo pada delapan daerah
tingkat II di Sumatera Barat, sekitar 22.000 hektar sawah siap panen dan usai
tanam menjadi puso. Selain itu,
sawah-sawah tersebut juga terancam tidak berproduksi sementara,
karena sejumlah bendungan, saluran primer dan sekunder irigasi
desa dilaporkan rusak.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan Sumatera Barat H
Bambang Istijono mengatakan, bencana banjir, tanah longsor/galodo
telah membuat para petani kehilangan gairah karena gagal panen.
"Untuk membangkitkan semangat para petani agar mau terus
bercocok tanam padi, salah satu jalan, sesegera mungkin semua
bendungan irigasi yang rusak harus diperbaiki," kata Bambang,
Sabtu (9/12) di ruang kerjanya, di Padang.
http://kompas.com/kompas-cetak/0012/11/IPTEK/huta25.htm
>Senin, 11 Desember 2000
Hutan Direcoki oleh Beragam Pungutan
SAAT ini ada empat pihak mengatur berbagai
pungutan yang dikenakan terhadap kegiatan
pengusahaan hutan, yaitu Departemen
Pertanian dan Kehutanan, Pemda Tingkat I,
Pemda Tingkat II, dan Departemen Keuangan.
Dalam praktiknya, beragam pungutan ini
membingungkan para pengusaha di bidang
kehutanan sebab selain tumpang-tindih juga penggunaannya tidak
proporsional.Sebenarnya, berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor
41 Tahun 1999 tentang Kehutanan ada enam macam pungutan yang
dikenakan terhadap usaha pemanfaatan hutan.
Pertama, Iuran Izin Usaha Pemanfaatan Hutan (IIUPH) yakni
pungutan yang dikenakan kepada pemegang izin usaha pemanfaatan
hutan atas suatu kawasan hutan tertentu. Pungutan ini dilakukan
sekali pada saat izin tersebut diberikan. Besarnya iuran ini
ditentukan dengan tarif progresif sesuai dengan luas areal. Iuran ini
pada ketentuan sebelumnya bernama iuran hak pengusahaan hutan
(HPH) atau iuran HPH tanaman industri (I-HPH-TI)
Kedua, Dana Reboisasi (DR) yaitu dana yang dipungut dari
pemegang izin usaha pemanfaatan hasil hutan dari hutan alam
berupa kayu dalam rangka reboisasi dan rehabilitasi hutan. Dana ini
hanya digunakan untuk membiayai kegiatan reboisasi dan
rehabilitasi serta kegiatan pendukungnya.
http://kompas.com/kompas-cetak/0012/11/IPTEK/inga26.htm
>Senin, 11 Desember 2000
Ingat, Hutan Bukan Hanya Kayu
SELAMA 32 tahun sistem hak pengusahaan hutan (HPH)
diberlakukan, kawasan hutan Indonesia makin compang-camping.
Ini terbukti dari 46 juta hektar hutan produksi yang sempat dipetakan,
sekitar 18 juta-an hektar di antaranya
rusak berat. Di beberapa tempat yang terlihat malah cuma habitat
alang-alang dan permukiman penduduk.Menteri Kehutanan
Nurmahmudi Ismail tentu saja tak mau melihat wajah kawasan hutan
semakin bopeng. Ia kemudian melahirkan ide baru yakni pengelolaan
selanjutnya dilakukan perusahaan umum (Perum), sementara
pemegang HPH yang kinerjanya amburadul hanya akan berstatus
sebagai kontraktor.
Itu pun jika yang bersangkutan lolos kualifikasi sustainable forest
management yang dilakukan Dephut. Tanggung jawab pemerintah
dalam melestarikan fungsi konservasi, ekonomi dan sosial hutan
inilah yang tampaknya melahirkan pemikiran perumisasi pengelolaan
hutan.
http://kompas.com/kompas-cetak/0012/11/IPTEK/baga38.htm
>Senin, 11 Desember 2000
Bagaimana Menyikapi Longsor
TANAH longsor dapat membuat bencana karena menimbulkan
korban dan merubah tatanan kehidupan mahluk hidup di
sekitarnya. Karena itu, bencana ini perlu disikapi dengan tindakan
penanggulangan yang cepat dan
tepat. Asas dan tujuan penanggulangan adalah cepat, tepat
terkoordinasi, dan merupakan tanggung jawab bersama untuk tujuan
memperkecil korban, sehingga tindakan penanggulangan perlu
dilakukan sebelum terjadi bencana dan selama-setelah terjadi
bencana
Sebenarnya penanggulangan bisa dilakukan sebelum terjadi
bencana. Yakni melakukan inventarisasi dan evaluasi daerah yang
rawan/ rentan terhadap tanah longsor.
http://kompas.com/kompas-cetak/0012/11/IPTEK/kond37.htm
>Senin, 11 Desember 2000
Kondisi Tanah Longsor di Indonesia
KONDISI geologi di Indonesia mulai dari jalur Sumatera-Jawa-Bali-NTB-NTT, dan
Sulawesi-Maluku-Irian Jaya, merupakan deretan gunung api baik yang masih aktif
maupun yang tidak aktif. Daerah tersebut juga dilalui jalur-jalur patahan yang
membujur di Sumatera yang dikenal
dengan patahan Semangko. Di Jawa Barat dikenal dengan patahan
Blibis yang mengalur melalui daerah Majalengka, patahan Lembang,
dan patahan Cimandiri di daerah Sukabumi serta beberapa jalur
patahan di Sulawesi dan daerah lainnya. Dengan kondisi geologi
tersebut Indonesia bergunung-gunung, berlereng dan relatif terjal,
berlembah, banyak dijumpai sumber air, dan aliran sungainya cukup
tinggi debitnya. Keadaan alam ini membuat panorama yang indah
didukung dengan udara yang sejuk.
Selain itu pada jalur-jalur tersebut bertanah subur dan tebal karena
proses pelapukan fisik-kimia dari batuan endapan gunung api. Tidak
heran kalau banyak masyarakat bermukim di daerah tebing-tebing
lereng, didaerah lembah dan mulut lembah. Namun, tidak disadari
bahwa bencana tanah longsor setiap saat dapat mengancam
terutama bila terjadi hujan.
---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]