http://www.mediaindo.co.id/cetak/news.asp?id=2001011200122454

                  Teologi Lingkungan
                  Media Indonesia - Opini (12/01/2001 00:12 WIB)

                  Oleh M Yudhie R Haryono 
                  Staf Yayasan Paramadina, Jakarta 

                  DI tengah kerusakan lingkungan (kebakaran hutan, banjir) di 
mana-mana,
                  ada baiknya kita harus mempertanyakan kembali, apakah alam raya ini
                  diciptakan oleh Sang Khalik buat manusia--sebagai khalifah di
                  bumi--ataukah sebaliknya, manusia diciptakan buat alam raya? Inilah
                  pertanyaan penting yang kini banyak diajukan kepada rohaniwan oleh
                  kalangan yang mulai skeptis terhadap teologi lingkungan. Menurut 
mereka
                  agama ikut bertanggung jawab atas berbagai kerusakan lingkungan 
akibat
                  legitimasi teologisnya terhadap superioritas manusia. Di kalangan
                  rohaniwan sendiri, tampaknya tidak ada upaya untuk melahirkan suatu
                  teologi yang `ramah` terhadap lingkungan. Kecuali Seyyed Hossein Nasr
                  (1996). Kalangan ahli Islam dan agama lain (Kristen, misalnya, hanya
                  Anthony De Mello) tampaknya jarang yang menaruh perhatian
                  sungguh-sungguh terhadap permasalahan lingkungan. 

                  Hampir semua proyek-proyek keagamaan (terutama yang mengklaim
                  agama samawi) dipahami oleh pemeluknya adalah menempatkan manusia
                  sebagai `pemilik sah` atas dunia ini. Dalam Alquran, misalnya, tidak
                  kurang enambelas kali menyebut bahwa alam beserta seluruh isinya 
telah
                  ditundukkan (oleh Allah swt) untuk kepentingan manusia. Misalnya 
dalam
                  Surat Ibrahim ayat 32-33 yang artinya Allahlah yang telah menciptakan
                  langit dan bumi serta menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia
                  mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki
                  untukmu. Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu
                  berlayar di lautan dengan kehendak-Nya. Dan Allah juga menundukkan
                  sungai-sungai untukmu. Dia telah menundukkan juga buatmu matahari
                  dan bulan yang terus-menerus beredar dalam orbitnya. Juga
                  menundukkan buatmu malam dan siang. Demikian juga dijelaskan dalam
                  Surat an-Nahl ayat 12-14, al-Hajj ayat 65, Lukman ayat 29-30, 
al-Jasiyah
                  ayat 12-13, dan lain-lainnya. 

                  Teologi lingkungan antroposentris 

                  Pemahaman antroposentris (baca, paham yang menempatkan manusia
                  sebagai pusat) ini seakan sudah menjadi wacana umum di kalangan
                  rohaniwan. Akibat sederhananya adalah fokus kajian tentang ekoreligi,
                  didasarkan atas nilai-nilai kapital, sekular, dan anti-universum. 
Yaitu,
                  sebuah fokus yang menempatkan manusia sebagai raja yang sah utuk
                  mengeksploitasi seluruh kekayaan alam berdasarkan untung-rugi bagi
                  kepentingana manusia. Sebaliknya manusia menjadi `tidak salah dan
                  berdosa` atas perilaku tersebut. Proses selanjutnya adalah bahwa 
setiap
                  proyek lingkungan yang tidak memberikan nilai untung bagi manusia
                  menjadi telantar, tidak diacuhkan, dan dikesampingkan. 

                  Sikap antroposentris ini secara salah kaprah justru sering 
dijustifikasi
                  (baca, mendapat dukungan) oleh hampir semua agama. Baik secara teks
                  (kitab suci) maupun konteks (tafsir). Rohaniwan menempatkan manusia
                  sebagai makhluk sempurna dan berorientasi menjadi pemimpin di dunia
                  semesta. Islam menyebutnya sebagai khalifah fi al-ardl--makhluk 
elite,
                  istimewa, eksklusif, super-being, dan mempunyai hak untuk memerkosa
                  tanpa memperhatikan etika lingkungan yang harmonis. 

                  Padahal apabila kita telusuri lebih jauh, konsep agama yang 
menempatkan
                  manusia sebagai pemegang saham mayoritas tunggal dunia, akan
                  menyebabkan ekologi yang arogan--suatu ekologi yang tidak santun,
                  serakah, merusak, dan sarat kepentingan-kepentingan jangka pendek
                  (short time). Ekologi yang sarat akan hitungan-hitungan kapitalistik 
dan
                  duniawi; ekologi yang haus akan material-material struktur maupun 
kultur;
                  ekologi yang menyebabkan kehancuran dan nestapa lingkungan. 

                  Dampak terjelas yang kita lihat adalah adanya banjir dan polusi di
                  mana-mana. Baik polusi udara, banjir air karena sumbatan, menipisnya
                  lapisan ozon, tata lingkungan yang parsial, banjir limbah industri 
dan
                  polusi-polusi lain yang menimbulkan beragam penyakit. Ribuan macam
                  penyakit sekarang hadir di mana-mana karena lahir dari sebuah 
ekosistem
                  yang rusak; lahir dari tidak adanya kearifan manusia menjaga 
lingkungan. 

                  Secara sadar etika antroposentris ini sebenarnya merupakan pelengkap
                  dari ekologi yang dikembangkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi 
yang
                  berwatak sekular. Hasilnya pun disebut ekologi sekular. Etika iptek 
yang
                  nonreligi ini mengalami kewajaran karena memang berkembang di Barat.
                  Sebuah kawasan yang telah menyelesaikan hubungan agama dan dunia
                  dengan wilayah masing-masing yang independen. Karena itu wilayah 
dunia
                  adalah wilayah tak bertuan yang harus ditundukkan, dieksploitasi dan
                  digali untuk memenuhi kebutuhan hidup dan masa depan manusia di
                  dunia. 

                  Tetapi, pada saat yang sama, kita juga menyaksikan adanya anggapan
                  sebagian masyarakat yang menempatkan dunia sebagai mitos. Yaitu
                  dunia yang luas dan harus dipuja bagaikan Yang Mahatinggi. Karena itu
                  pada kepercayaan yang sangat primitif ini, dunia menjadi terlalu 
agung
                  untuk dijamah dan dimanfaatkan. Manusia cenderung menempatkan dunia
                  dan jagat raya sebagai `tuhan` mereka. Walaupun berakibat pada
                  ketiadaan rusaknya lingkungan, tetapi pola dan kepercayaan ini pun
                  sebenarnya tidak pada tempatnya untuk dikembangkan. Karena hubungan
                  antara manusia dan alam menjadi sangat sungkan dan penuh basa-basi
                  dengan nuansa mistik. 

                  Untuk itu perlu dicari hubungan baru yang lebih mutualis. Yaitu 
hubungan
                  manusia dengan jagat raya yang harmonis dan equilibrium society.
                  Hubungan yang tidak merusak satu sama lainnya. Hubungan yang tidak
                  terjebak pada mitos dan bersifat sekular. Hubungan yang dilandasi 
atas
                  perilaku agama dan perilaku alam semesta. Hubungan yang menempatkan
                  manusia diciptakan buat alam raya dan alam raya dilahirkan buat 
manusia.

                  Di sinilah kita dituntut untuk menjelaskan tafsir baru tentang alam 
raya,
                  manusia, etika lingkungan. Sebuah tafsir yang menjelaskan hubungan
                  manusia dengan alam secara sangat harmonis dengan tidak melakukan
                  pemaksaan (tafsir) terhadap teks. Dan dilengkapi penjelasan genuine
                  tentang konsep manusia baru, lingkungan baru, dan pola hubungan baru
                  serta terobosan-terobosan, solusi-solusi alternatif terhadap masalah
                  lingkungan yang terkini. 

                  Teologi ramah lingkungan 

                  Dalam hal ini sebenarnya Alquran telah menjelaskan dengan istilah
                  al-`alamin. Secara sederhana konsep ini sebenarnya telah mendudukkan
                  Tuhan-Alam dan Manusia pada porsi yang mutualisma. Inilah landasan
                  teologi kosmis yang menjadi epistemologi teologi lingkungan. 
Dengannya,
                  alam, manusia bila berhubungan dengan Tuhannya menjadi
                  interdependent. Hal itu karena yang disebut al-`alamin adalah 
keseluruhan
                  spesies yang ada di jagat raya. Mereka berkewajiban untuk saling
                  menjaga dan memanfaatkan dengan tidak saling merugikan (baca,
                  merusak). Sebab kata al-`alamin bila digabung dengan kata Rabbun
                  (Tuhan) menjadi Rabu al`alamin yang bermakna pemilik, pendidik,
                  pemelihara dan penanggung jawab atas segala yang ada. 

                  Untuk melihat lebih jauh dalam surat al-Baqarah 25 dijelaskan, Kalau
                  sekiranya Allah tidak menolak keganasan sebagian manusia dengan
                  sebagian yang lainnya, pastilah rusak alam semesta ini. Akan tetapi
                  Tuhan memiliki karunia yang dicurahkan pada seluruh spesies. Makna
                  konsep seluruh spesies ini sebenarnya `nyata` karena memang semua
                  alam raya beserta seluruh isinya diciptakan untuk saling melengkapi 
agar
                  merasakan sebagai sebuah universum yang utuh dan mondial. Apalagi
                  kemudian juga ditegaskan dengan sumpah Allah swt dalam surat Ali 
Imran
                  108 yang berbunyi; Tuhan tidak akan menganiaya semua spesies, karena
                  Tuhan sebagai pemilik yang memelihara dan menjaga. Makna selanjutnya
                  menjadi, selain Tuhan, juga harus memperlihatkan sikap dan sifat yang
                  sama dengan Tuhannya. Karena itu seluruh spesies tidak boleh saling
                  menganiaya, menyakiti, dan merusak, sebaliknya harus saling menjaga. 

                  Apabila sesama spesies saling menyakiti dan merusak maka otomatis dia
                  harus bertanggung jawab terhadap perilakunya. Ia akan berdosa dan
                  dilaknat Tuhan pada akhirnya. Tetapi sebelum mengalaminya kelak, efek
                  terbesar yang akan kita rasakan adalah rusaknya lingkungan dan polusi
                  dunia, sebagaimana yang sedang kita rasakan. Bagaikan sebuah
                  armagedon dan hari-hari kerusakan yang sedang berlangsung. Maka tak
                  ada pilihan lain, agama(wan) harus selalu ramah pada 
lingkungannya.*** 

-------------------------------------------------------------------------------------------------------
Mo ndaftar :    [EMAIL PROTECTED]
Arsip lengkap Berita-berita Lingkungan Hidup di Indonesia, silahkan klik:
        http://www.egroups.com/group/berita-lingkungan/messages
--------------------------------------------------------------------------------------------------------

---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke