Apa mungkin juga ya . . . 

Kan kita orang Indonesia juga dikenal paling pinter untuk ngakali dan melanggar yang 
namanya peraturan, dan kadangpun yang mbuat peraturan juga dengan "sadar" melanggarnya 
juga. Ingat juga gimana peraturan tentang operasi Yustisi dulu dan apakah sekarang 
masih terdengar masih diterapkan di kota yang mendapatkan ADIPURA.
 
Sebenarnya bagus juga usulannya, karena kalau nggak "dipaksa" dan nggak dibiasakan, 
kita orang Indonesia terbiasa nggak ada waktu. Pengalaman kita disini dengan contoh 
pemisahan sampah di bak-bak khusus, komentar pengunjung "ya bagus lah" atau yang lebih 
membuat nyengir jawabannya "nggak sempat mas atau kok ya sempat-sempatnya misahin 
sampah kayak gitu", atau pula dengan komentar "ngapain mas bingung-bingung, kan sudah 
ada petugas pengumpul sampah dan lagi tiap bulan kita udah bayar retribusinya". Bahkan 
pernah ketika pelatihan Pendidikan Lingkungan bagi Guru SD (sampai 3 kali), salah 
seorang guru (bahkan kepala sekolah SD) mencoba menerapkan permainan Memisahkan Sampah 
di sekolah dan akhirnya ada murid yang membawa ke rumah. Apa yang terjadi ? orang tua 
murid datang ke sekolah dan memprotes Kepala Sekolah tersebut bahwa anaknya di sekolah 
untuk dapat pelajaran dan pintar, bukan untuk diajarkan ngurusin sampah apalagi 
berurusan dengan barang-barang bau tersebut. Bahkan orang tua tersebut mengancam pakai 
wartawan juga. Atau kalau kita mau refleksi sedikit bagi yang perokok, pernah nggak 
kita terpikirkan untuk membawa asbak kemanapun kita pergi (mungkin bawa bekas bungkus 
permen dari kaleng kecil).

Mau nanya nih Mas Luchman Hakim, apakah anda adalah si Lucan Wong Ndayak ? 
Kalau pulang ke Malang ya bawain dong barang-barang koleksinya. Suwun

Yusuf (Yosep) 

Kirim email ke