to yosep,

Sep, pertanyaan pengunjung PPLH tetap sama
ya....wualaaa...kalau begitu selama lima tahun
pertanyaan itu tetap saja ya.....(ITU PR BAGI PPLH
SEKALIGUS PERINGATAN BAHWA AKSI TEMAN-TEMAN PPLH BELUM
DIRESPON MASYARAKAT). Di milis ini kemarin ada yang
menyankut-pautkan masalah sampah ini dengan perilaku
kita,orang indonesia. Bener satus persen...kita itu
payah dalam banyak hal. Termasuk diri saya. Ada orang
yang mengatakan....ciptakan perubahan itu mulai dari
dirimu sendiri dan lingkungan kecil di sekitarmu. Sep,
aku wis mencoba lho....saat kemarin ke banyuwangi naik
kereta api dengan adikku...eh..tiba-tiba ia buang
sampah seenaknya dengan cara melempar sampah lewat
jendela kereta api....sudah tak marah-i saat itu juga
di depan banyak orang. Sejak saat itu pula dia
kapok...tapi, saya nggak punya nyali untuk menegur
orang lain. suatu ketika saya naik angkutan umum. di
depan saya ada serombongan ibu-ibu...sambil ngomong
ngalor-ngidul dan makan kacang...mereka membuang klit
kacang se-enaknya keluar jendela saat kendaraan melaju
di tengah kota...saya cuma bisa mangkel...nggak ada
nyali untuk menegur..karena bisa-bisa saya dianggap
kurang waras. WHY?, karena memang budaya kita adalah
buang sampah di sembarang tempat !!!!, kalau saya
tegur, berarti saya keluar dari budaya kita....gimana
ini SEP...

Eh, aku agustus besok mau ke indonesia, siapkan
bungalow satu ya...he..he...

lucan,

--- PPLH <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Apa mungkin juga ya . . . 
> 
> Kan kita orang Indonesia juga dikenal paling pinter
> untuk ngakali dan melanggar yang namanya peraturan,
> dan kadangpun yang mbuat peraturan juga dengan
> "sadar" melanggarnya juga. Ingat juga gimana
> peraturan tentang operasi Yustisi dulu dan apakah
> sekarang masih terdengar masih diterapkan di kota
> yang mendapatkan ADIPURA.
>  
> Sebenarnya bagus juga usulannya, karena kalau nggak
> "dipaksa" dan nggak dibiasakan, kita orang Indonesia
> terbiasa nggak ada waktu. Pengalaman kita disini
> dengan contoh pemisahan sampah di bak-bak khusus,
> komentar pengunjung "ya bagus lah" atau yang lebih
> membuat nyengir jawabannya "nggak sempat mas atau
> kok ya sempat-sempatnya misahin sampah kayak gitu",
> atau pula dengan komentar "ngapain mas
> bingung-bingung, kan sudah ada petugas pengumpul
> sampah dan lagi tiap bulan kita udah bayar
> retribusinya". Bahkan pernah ketika pelatihan
> Pendidikan Lingkungan bagi Guru SD (sampai 3 kali),
> salah seorang guru (bahkan kepala sekolah SD)
> mencoba menerapkan permainan Memisahkan Sampah di
> sekolah dan akhirnya ada murid yang membawa ke
> rumah. Apa yang terjadi ? orang tua murid datang ke
> sekolah dan memprotes Kepala Sekolah tersebut bahwa
> anaknya di sekolah untuk dapat pelajaran dan pintar,
> bukan untuk diajarkan ngurusin sampah apalagi
> berurusan dengan barang-barang bau tersebut. Bahkan
> orang tua tersebut mengancam pakai wartawan juga.
> Atau kalau kita mau refleksi sedikit bagi yang
> perokok, pernah nggak kita terpikirkan untuk membawa
> asbak kemanapun kita pergi (mungkin bawa bekas
> bungkus permen dari kaleng kecil).
> 
> Mau nanya nih Mas Luchman Hakim, apakah anda adalah
> si Lucan Wong Ndayak ? 
> Kalau pulang ke Malang ya bawain dong barang-barang
> koleksinya. Suwun
> 
> Yusuf (Yosep) 
> 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get email at your own domain with Yahoo! Mail. 
http://personal.mail.yahoo.com/

---------------------------------------------------------------------
Mulai langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Stop langganan: kirim e-mail ke [EMAIL PROTECTED]
Archive ada di http://www.mail-archive.com/[email protected]

Kirim email ke