http://kompas.com/kompas-cetak/0104/16/DAERAH/ecen26.htm >Senin, 16 April 2001 Eceng Gondok, Makin Tambah Gondok Kompas/her suganda GULMA air eceng gondok (Eichhoornia crassipes) umumnya terdapat hampir di semua perairan umum di Indonesia. Tetapi di Waduk Saguling, gulma air tersebut berkembang lebih cepat karena kondisi lingkungannya sangat mendukung. Apalagi limbah yang masuk ke waduk bukan hanya limbah industri, tetapi juga limbah rumah tangga. Kami sebenarnya sudah sangat kewalahan menghadapi tingkat pertumbuhan populasi eceng gondok. Bandelnya bukan main.....," seorang pekerja yang bertugas membersihkan gulma air tersebut berujar setengah memaki. "Bayangkan, baru saja sebagian diangkat, besoknya sudah penuh lagi oleh tumbuhan yang baru," tambahnya. Pengambilan gulma air eceng gondok dilakukan secara manual dengan menarik tumbuhan tersebut ke pinggir waduk sampai kemudian mati dengan sendirinya. Dengan cara itu diharapkan, tanaman bisa berkurang. "Karena itu, untuk membersihkan sama sekali permukaan air waduk dari eceng gondok, tidak mungkin," kata petugas lainnya. Kenapa? *** SEJAK awal waduk difungsikan, gulma air telah jadi salah satu sumber masalah yang dikhawatirkan bisa mempengaruhi umur effektif waduk tersebut. Tumbuhan tersebut berasal dari daerah-daerah bagian hulu yang selama ini sering tergenang, baik karena banjir maupun karena topografi wilayahnya memang rendah. Di daerah-daerah tersebut, gulma air tumbuh subur bersama tanaman liar liar lainnya seperti rumput walini yang tingginya mencapai satu meter lebih. Pada musim tanam, areal yang merupakan pesawahan itu digarap oleh petani dengan cara membersihkan tanaman pengganggu. Sebagian besar rimpang tanaman penganggu tersebut kemudian terbawa hanyut ke daerah hilir yang umumnya merupakan anak-anak Sungai Citarum hulu. Iring-iringan kelompok tanaman penganggu kemudian dihanyutkan arus air ke daerah hilir sampai akhirnya memasuki perairan waduk. Waduk Saguling digenangi air mulai pertengahan Februari 1985. Tetapi dalam pemantauan yang dilakukan Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung pada bulan Oktober 1985, misalnya, di perairan Waduk Saguling sudah terdapat tiga jenis gulma air. Selain eceng gondok, kayambang dan kiapu merupakan gulma air yang paling banyak dijumpai di daerah yang berupa teluk dan bagian utama Sungai Citarum yang sekaligus merupakan muara sungai dan bagian hulu waduk. Dengan dorongan aliran air sungai, terutama pada saat banjir dan pengaruh angin, tanaman tersebut terus menyebar ke daerah-daerah yang lebih dalam yang merupakan bagian depan daerah waduk. Tanaman eceng gondok terutama sekali banyak dijumpai di sepanjang aliran Sungai Citarum yang terletak di Curug Jompong. Sedangkan di daerah waduk antara lain di Cihampelas, Maroko, daerah Rancapanggung dan daerah muara Sungai Cilalanang. Kenyataan ini memperlihatkan adanya perubahan jenis gulma yang mencemari waduk tersebut. Sebab dalam penelitian sebelumnya yang dilakukan pada bulan April, jenis gulma yang paling banyak dijumpai dan paling luas penyebarannya adalah kayambang. Tetapi makin lama, kayambang makin berkurang terdesak oleh eceng gondok. Yang kemudian mengejutkan justru ditemukannya ganggeng (Hydrilla verticillata). Gulma air tersebut tumbuh subur dan hidup berasosiasi dengan Cerathophyllum demersum di daerah pinggiran waduk yang menyerupai teluk di sekitar Rancapanggung. Ganggeng tumbuh dengan berakar di dasar waduk, sementara sebagian besar lainnya tumbuh di dalam air sehingga tampak seperti melayang. Karena sifat tumbuhnya seperti itu, kedua jenis gulma tersebut tergolong sulit ditanggulangi. *** PEMDA setempat, sebenarnya sudah sejak tahun 1986 menyusun pola perencanaan penanggulangan gulma air. Tetapi, konsep itu tidak ubahnya macan kertas, sehingga tingkat pertumbuhan gulma air makin subur karena kondisi lingkungannya. Air yang masuk ke Citarum dan kemudian dialirkan ke waduk merupakan campuran berbagai macam limbah, termasuk di antaranya tinja yang dibuang penduduk Kota Bandung dan Kabupaten Bandung. Untuk mengurangi sebaran gulma air di wilayah perairan waduk, Unit Pembangkitan Saguling membuat trasboom. Sehingga dengan peralatan tersebut yang fungsinya sebagai penyekat, sebaran gulma dibatasi hanya pada daerah-daerah yang sudah ditetapkan sebagai stock area. Pada ketinggian duga muka air (DMA) 638,5 meter, stock area I yang letaknya lebih ke hulu, memiliki luas 32,9 ha. Sedangkan stock area II luasnya 34,5 hektar. Menurut Mat Minin, Supervisor Utama (SPU) Monitoring Waduk Saguling, kemampuan untuk membersihkan gulma air di perairan tersebut tampaknya kalah cepat dibanding dengan tingkat pertumbuhan dan pertambahannya. Sehingga secara akumulatif, luas gulma air eceng gondok yang tidak berhasil dibersihkan selama delapan tahun sejak tahun 1993, diperkirakan mencapai 40 hektar lebih. Gulma air, terutama eceng gondok, sebenarnya tidak hanya menimbulkan dampak negatif terhadap perairan umum. Sepanjang masih bisa dikendalikan, pertumbuhannya mampu mengurangi pengaruh pencemaran air, terutama akibat limbah industri. Selain itu, tanaman tersebut mempunyai nilai ekonomis, baik untuk perikanan, biogas, maupun industri. Di daerah Indramayu, eceng gondok menjadi salah satu sumber penghasilan penduduk setempat. Tanaman itu dijemur sampai kering kemudian dijual sebagai bahan baku pengganti rotan. Sebagai bahan baku biogas, Lembaga Ekologi Unpad (kini PPSDAL) pernah melakukan uji coba di Bendung Curug yang terletak di bawah Waduk Ir Djuanda (Jatiluhur). Ternyata dengan teknologi tepat guna yang sederhana, eceng gondok dan kayambang sebenarnya bisa mnemenuhi kebutuhan energi penduduk pedesaan. Caranya, mula-mula gulma air eceng gondok dipotong-potong dan kemudian ditimbang untuk memperoleh berat yang diinginkan. Jika bahan bakunya berasal dari kayambang, cukup hanya dicuci dan dibersihkan dari lumpur lalu dimasukkan ke dalam tabung yang disebut tabung pencerna. Alat tersebut terbuat dari ferro cement yang berbentuk drum. Tingginya sekitar 140 cm dan garis tengahnya sekitar 100 cm dengan volume sekitar 1.000 liter. Di kedua ujung tabung tersebut dipasang pipa pralon. Masing-masing berfungsi sebagai tempat memasukkan bahan baku dan pipa lainnya berfungsi sebagai tempat pengeluaran lumpur dari tabung pencerna. Untuk penampung gas, bahannya terbuat dari baja. Garis tengah penampung gas sekitar 98 cm dan tingginya 70 cm dengan kapasitas tampung 500 liter, atau separuh dari kapasitas tampung tabung pencerna. Penampung gas kemudian dimasukkan ke dalam tabung pencerna. Dari tabung gas tersebut kemudian dibuatkan pipa penyalur gas sesuai dengan kebutuhan. Lembaga yang sama juga pernah melakukan uji coba terhadap tanaman eceng gondok dan kayambang untuk perikanan melalui proses daur ulang. Dengan cara yang sederhana, kayambang dan eceng gondok dirajang dan kemudian dijadikan makanan cacing. Kotoran cacing bisa dijadikan pupuk dan cacingnya dijadikan makanan ikan, baik yang dipelihara di jaring terapung maupun di kolam. *** SAYANG semua upaya untuk memanfaatkan gulma air tersebut tidak pernah dilaksanakan secara konsisten. Akibatnya, tumbuhan yang masih memiliki nilai ekonomis itu akhirnya malah menjadi beban yang merusak kondisi perairan waduk. Dengan daun-daunnya yang lebar dan tumbuh dengan ciri mencolok seperti pulau-pulau terapung, eksplosi pertumbuhannya akan memperbesar jumlah air yang hilang melalui proses evapotranspirasi gulma. Pengaruh lainnya adalah, gulma yang sudah mati akan turun ke dasar perairan sehingga mempercepat terjadinya proses pendangkalan. Tetapi, sebelum proses tersebut terjadi, yang mengagumkan lagi, pertumbuhan dan regenerasinya berlangsung lebih cepat lagi. Apalagi dengan kondisi perairan yang sangat mendukung. Akar rimpangnya dapat tumbuh setiap saat dan mempunyai toleransi besar terhadap perubahan lingkungan perairan. Dengan kondisi perairan seperti itu, maka apabila daun pertama sudah tumbuh kembali, tumbuhan tersebut akan lebih cepat lagi berkembang. Salah satu faktor penyebabnya adalah, karena kemampuannya yang tinggi untuk mengikat energi Matahari. Apalagi perairan Waduk Saguling sangat mendukung pertumbuhan gulma karena waduk tersebut menampung hampir semua jenis limbah yang dihasilkan dari daerah hulu. Selain yang berasal dari aktivitas pertanian, Waduk Saguling menampung berbagai macam limbah lainnya. Baik yang berasal dari industri maupun rumah tangga. *** BANYAK orang menganggap kecil pengaruh limbah rumah tangga terhadap perairan waduk. Tetapi, dari pengamatan di lapangan menunjukkan, limbah rumah tangga tak kalah besar pengaruhnya terhadap kualitas perairan waduk sehingga fungsi waduk tidak ubahnya sebagai tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Sampah-sampah organik bisa segera terurai. Tetapi sampah anorganik seperti sandal jepit, plastik, dan gelas/botol kemasan dan barang-barang lainnya memenuhi permukaan air waduk bagian hulu, terutama jika sebelumnya turun hujan lebat atau banjir di daerah hulu waduk. Sebagian sampah plastik dijadikan sumber mata pencaharian ratusan penduduk sekitar waduk yang hidup sebagai pemulung. Dengan menggunakan perahu-perahu kecil mereka mengais sampah-sampah tersebut. "Sehari bisa memperoleh 40-50 kg," kata Sandi (19), penduduk Balakasem, Desa Pataruman yang sejak kelas enam SD menjadi pemungut sampah di Waduk Saguling. Sampah-sampah tersebut kemudian dijual ke bandar penampung yang membelinya dengan harga Rp 800 per kg. "Lumayan," kata Engkos (43 tahun), penduduk Kampung Sapaan, Desa Cipatik. Setiap hari, sekitar seratus perahu lebih beroperasi memungut sampah perairan Waduk Saguling. Jika satu perahu mengangkut 20 kg, maka dalam sehari rata-rata dua ton sampah yang diangkut para pemulung. Itu baru sampah plastik! (hers)
