`````````````````````````
H O T   S P O T
[EMAIL PROTECTED]
^*^*^*^*^*^*^*^*
<*> Dua Hari Pasca Malino Untuk Maluku, Empat Bom Meledak di Ambon
<*> Pemerintah miliki data kelompok garis keras di Maluku
<*> Sebelas Ormas Islam Maluku Kecewa dengan Perjanjian Malino II
``````````````````````````

February. 14, 2002 06:13:19 WIB
Dua Hari Pasca Malino Untuk Maluku, Empat Bom Meledak di Ambon
=================================================
JAKARTA, Mandiri - Empat ledakan terdengar di Ambon, Rabu (13/2) tengah
malam, sehari setelah perjanjian untuk mengakhiri semua bentuk konflik dan
kekerasan di Maluku, disepakati. Ledakan tersebut disesalkan oleh
pihak-pihak yang menghendaki segera terwujudnya perdamaian di wilayah yang
hampir tiga tahun dilanda konflik yang merenggut korban jiwa yang tidak
sedikit.

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat HM Jusuf Kalla, yang menjadi
mediator utama pertemuan perdamaian Maluku, semalam, menyesalkan terjadinya
ledakan bom di Ambon itu.

Menurut dia, kemungkinan masih adanya faksi yang menentang perdamaian Maluku
sudah diduga sejak awal. Namun, ia optimistis ledakan itu hanyalah letupan
kecil dari pihak yang tidak senang perdamaian terwujud di Maluku, khususnya
di Ambon.

"Pemerintah percaya itu hanya riak yang akan berhenti sendiri. Percayalah,
orang-orang yang hendak mengoyak perdamaian tidak akan mendapat tempat di
hati masyarakat, terutama para pihak yang sudah berteguh hati menandatangani
kesepakatan menghentikan konflik," ujar Jusuf Kalla ketika dihubungi di
kediamannya semalam.

Mengenai ledakan itu sendiri, Jusuf Kalla secara tegas menyatakan, tindakan
itu sudah sangat kriminal dan harus diselesaikan oleh TNI dan Polri.

Menurut keterangan yang dihimpun Kompas, tiga dari empat ledakan itu
terdengar dari arah Kelurahan Rijali, Kecamatan Sirimau, dan satu ledakan
lainnya terdengar di wilayah Batugantung. Semua ledakan terjadi di wilayah
kosong tanpa penghuni sehingga tidak memakan korban. Kondisi di Ambon
dilaporkan masih normal meski aparat keamanan segera berjaga-jaga.

Rabu siang, Wakil Presiden (Wapres) Hamzah Haz menyatakan, penyelesaian
konflik di Maluku harus diikuti dengan kegiatan ekonomi. Jika tidak, akan
mudah timbul konflik baru akibat banyaknya orang yang menganggur, di samping
memberi kemudahan kepada provokator untuk beroperasi di daerah konflik
tersebut.

Ditemui wartawan setelah menghadiri pembukaan Lokakarya Nasional tentang
Kesempatan Kerja Pemuda di kantornya, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu,
Hamzah Haz mengatakan, pemerintah berupaya agar kegiatan ekonomi bisa
berjalan di daerah konflik. Seperti Aceh, kegiatan ekonomi di daerah itu
sudah berjalan sehingga diperlukan pengamanan dengan membentuk Komando
Daerah Militer (Kodam) di sana.

Di Ambon juga sama, kata Wapres, pemerintah menghendaki agar konflik yang
telah berlangsung dalam waktu panjang itu tidak muncul kembali. "Karena itu,
arahnya kita ingin bagaimana potensi ekonomi yang ada di daerah Maluku itu
dapat digerakkan segera, terutama usaha kecil dan menengah serta koperasi,"
tandasnya.

Menko Kesra HM Jusuf Kalla, Rabu siang, menyatakan, setelah para pihak yang
bertikai di Ambon bersepakat mengakhiri konflik, maka segala daya perlu
dilakukan untuk mewujudkan perdamaian yang konkret di Ambon. Di antara
banyak hal yang harus diperhatikan, terdapat dua hal pokok yang mutlak
digenggam, yakni sikap tegas dan konsisten.

"Aparat keamanan atau aparat hukum harus bersikap netral dan tegas terhadap
para pihak yang hendak menghancurkan perdamaian. Sedangkan para pihak yang
telah sepakat mengakhiri konflik harus konsisten menyudahi semua pertikaian
itu," tutur Jusuf Kalla di Jakarta, usai diterima Presiden Megawati
Soekarnoputri.

Ia menyatakan, sudah terlalu lama beberapa kelompok masyarakat di Ambon
saling bermusuhan, saling membunuh, saling menghancurkan. Ambon, yang
dikenal sebagai "Ambon Manise", kini dipenuhi reruntuhan gedung, sekolah,
dan tempat ibadah. Perekonomian di kota itu bisa dikatakan hancur,
pendidikan pun demikian. Praktis, tambah Kalla, satu generasi di Ambon
terganggu oleh permusuhan yang amat pekat. Satu generasi tidak mendapat
pendidikan sebagaimana mestinya.

"Saya berkali-kali tegaskan kepada masyarakat Ambon agar setelah kesepakatan
Malino, semua kepahitan, kegetiran, dendam, dan sebagainya dilupakan.
Marilah, dengan semangat persaudaraan, sebangsa dan se-Tanah Air, mulai
membangun Ambon. Pemerintah pun jelas akan ikut membantu merehabilitasi
infrastruktur Ambon," tutur Kalla.

Di tempat terpisah, salah seorang anggota tim mediator, Hamid Awaludin,
menyatakan, kesepakatan mengakhiri konflik Ambon, yang ditandatangani pihak
Islam, Kristen, dan unsur-unsur pemerintah, amat kuat.

Secara yuridis, tutur Hamid, kesepakatan itu kokoh. Karena para pihak
mengikat perjanjian untuk berdamai, para penanda tangan kesepakatan itu,
akan diproses secara hukum apabila melanggar kesepakatan yang sudah
ditandatangani.

Berkaitan dengan kesepakatan 11 butir perjanjian damai untuk Maluku di
Malino, Kepala Polri Jenderal (Pol) Da`i Bachtiar menegaskan, pihaknya siap
menyosialisasikan kesepakatan tersebut. Target realisasi awal di lapangan,
antara lain dimulainya penyerahan senjata dari kedua belah pihak yang selama
ini bertikai di Maluku.

"Kami (aparat keamanan) akan memulai dari hasil pertemuan Malino dengan
tahapan sosialisasi. Ini penting agar apa yang telah kita sepakati di sini
dapat sampai ke akar rumput (masyarakat). Sebab, peserta yang hadir di
Malino merupakan representasi Maluku," kata Da`i Bachtiar dalam sambutan
penutupan Pertemuan Malino untuk Maluku, Selasa lalu.

Sedangkan Gubernur Maluku M Saleh Latuconsina berjanji akan segera
merealisasikan isi perjanjian tersebut. Setidaknya, dalam tiga bulan
pertama, sosialisasi akan dilakukan melalui media massa ataupun dengan
mengaktifkan pemuka masyarakat serta kelompok kerja (pokja) yang akan
dibentuk Pemerintah Provinsi Maluku yang mencakup perwakilan dua kelompok
tersebut.

Jika seluruh tahapan yang akan dilakukan secara simultan itu mulai
memperlihatkan perubahan yang kondusif di Maluku, secara berangsur-angsur
pula pemerintah akan melanjutkannya dengan tahapan rehabilitasi
infrastruktur pendidikan, kesehatan, dan keagamaan yang rusak akibat
konflik.

Khusus penanganan masalah pengungsi, Saleh Latuconsina akan mengikuti tiga
pilihan program yang sebelumnya ditawarkan oleh pemerintah pusat, yaitu
pemulangan ke tempat asal, model penyisipan, dan relokasi.

Tahapan pertama, berbarengan dengan sosialisasi perjanjian di Malino itu,
akan dilakukan pendataan jumlah pengungsi dan pilihan yang mereka inginkan.
Data sementara, pengungsi korban kerusuhan di Maluku sekitar 330.000 jiwa.

Namun, yang terpenting dalam bagian ini adalah "penyembuhan" trauma
psikologis yang mensyaratkan adanya sebuah tim rehabilitasi yang khusus
menangani persoalan korban kerusuhan.
[EMI/PAS/KBN]
http://www.mandiri.com/?8267737131728778788586818491088071898543383120202518
2627

Kamis, 14/2/2002, 14:21 WIB
Pemerintah miliki data kelompok garis keras di Maluku
Laporan Charles M Siahaan
=====================================
satunet.com - Pemerintah memiliki data kelompok garis keras di Malulu yang
menolak upaya damai. Daan, jika mereka --atau siapapun-- mencoba merusak
proses perdamaian di Maluku, akan ditindak tegas, kata Menko Polkam Susilo
Bambang Yudhoyono.

Menurut SBY, demikian ia akrab disebut, pemerintah sebenarnya sudah
mengetahui adanya kelmpok garis keras di dua komunitas di Maluku. "Kami tahu
siapa-siapa mereka, tapi kami tidak mau menyebutkannya. Biarkanlah proses
hukum berjalan. Beri kesempatan TNI/Polri untuk melakukan tindakan hukum
terhadap mereka," katanya, Kamis seusai penutupan Rapim TNI di Istana
Negara.

BSY juga mengatakan, proses perjanjian di Malino untuk Maluku harus tetap
berjalan terus. "Saya memang telah mengantisipasi bahwa ada elemen kecil di
antara kedua komunitas yang tidak setuju atas penghentian konflik dan
kekerasan di Maluku," katanya. Kapolda dan gubernur setempat menurutnya juga
telah mengantisipasinya.

Menurutnya, pihak-pihak yang menginginkan konflik dan kekerasan
padaprinsipnya menolak datang ke Malino, dan menolak untuk menjadi bagian
menghentikan konflik dan kekerasan. "Setelah perjanjian ditandatangani,
pemerintah akan mengembalikan hal ini kepada masyarakat Maluku. Harapan
pemerintah, mereka tegar melangkah ke depan dan jangan lagi surut ke
belakang serta memperhatikan ajakan-ajakan untuk memulai lag kekerasan,"
tuturnya.

Pada pokoknya pemerintah kepolisian, TNI akan sama-sama mengemban tugas
untuk memulihkan keamanan di Maluku dan akan tetap mengambil tindakan yang
tegas sesuai dengan hukum yang berlaku, sapa pun dan di manapun.

Dijelaskan, sikap resmi pemerintah mengendaki masyarakat Maluku jangan
kembali ke belakang dalam upaya menghentikan konflik.
Menurutnya, harus ditangani secara serius bila ada satu atau dua tokoh yang
tak setuju atau menolak perjanjian Malino. Tapi, kalau mereka menggerakkan,
memimpin dan bahkan melibatkan dalam konflik dan kekerasan baru, meka harus
mempertanggungjawabkan.(anr)
http://www.satunet.com/artikel/isi/02/02/14/82447.html?print=1

Sebelas Ormas Islam Maluku Kecewa dengan Perjanjian Malino II
=============================================
[14/2/2002 09:18:07 WIB]Sebanyak sebelas pimpinan Ormas Islam di Maluku yang
tergabung dalam Forum Silaturrahmi Umat Islam Maluku mengaku kecewa dengan
sejumlah poin dalam Perjanjian Malino II. Karena itu mereka berencana
menyampaikan aspirasinya kepada Ketua MPR Amien Rais dan Majelis Ulama
Indonesia (MUI). Mereka berencana menemui Amien Rais di kediaman dinasnya,
Jalan Widya Chandra, Jakarta pada Kamis (14/2) pagi. Namun setelah melakukan
negosiasi, Amien menolak menerima ke-20 anggota Ormas tersebut dikediamannya
dan menyatakan akan menerima di Gedung DPR.

Mereka yang hadir adalah pimpinan PB Front Pembela Islam (FPI) Maluku,
Ikatan Persaudaraan Muslim Maluku, Gerakan Pemuda Islam (GPI) Maluku, HSBI
Maluku, BPRMI Maluku, Alkhaerat, Pusat Komando Jihad Maluku, Satgas Amar
Ma'ruf Nahimungkar Maluku, serta beberapa politisi muda Maluku yang menjadi
anggota DPRD.

Ketua Satgas Amar Mar'uf Nahimungkar Maluku, M. Hattamimi yang dimintai
komentar mengenai penolakan Amien mengatakan bisa memahaminya.

"Kami justru lebih senang karena dengan diterima di Gedung DPR gaungnya
menjadi lebih besar, sehingga diketahui masyarakat luas. Tadinya kami mau
bisa bicara dari hati ke hati saja disini," ujarnya saat ditemui di kediaman
Amien.

Menurut Ketua FPI Maluku, M. Husni Putuhena, mereka ingin menemui Amien Rais
untuk menyampaikan informasi mengenai pelaksanaan dan hasil pertemuan Malino
untuk perdamaian Maluku kepada pejabat-pejabat pemerintah maupun MUI.

Hasni mengatakan, pihaknya msebetulnya memiliki kekecewaan dengan pertemuan
maupun hasil pertemuan Malino.

"Kekeceewaan dengan Pertemuan Malino memang ada. Tapi itu kami anggap
sebagai tantangan untuk mewujudkan perjuangan. Dari awal kami sudah merasa
tidak bisa menyelesaikan konflik Maluku dengan pertemuan Malino," katanya
saat ditemui Elshinta sesaat setelah tiba di kediaman Amien Rais.

Ketidakyakinan itu menurut Husni didasarkan pada fenomena dimana konflik
yang melanda Maluku selama tiga tahun itu berakar dari gerakan separatis
Republik Maluku Selatan (RMS), sehingga tidak bisa diselesaikan hanya dengan
pertemuan Malino.

Pemerintah menurut Husni belum mengakomodir semua kelompok yang ada di
Maluku untuk hadir dalam Pertemuan Malino. Pemerintah juga dinilai tidak
akomodir dalam menerima konsep yang disodorkan muslim Maluku. Pemerintah
Ditambahkannya, pemerintah juga telah salah dalam melihat konflik yang
terjadi di Maluku dengan mengkategorikannya sebagai konflik antara agama
Islam dengan Kristen.

"Padahal konflik yang sebenarnya adalah konflik vertikal antara pemberontak
dengan pemerintah, sehingga gerakan separatis yang bergerak. Agama hanya
kendaraan yang ditunggangi RMS," tandasnya.

Karena itu Forum Silaturrahmi Umat islam Maluku yang nota bene merupakan
kumpulan Ormas Islam yang memiliki dukungan masyarakat akar rumput
berpendapat, konflik di Maluku hanya bisa diselesaikan melalui penegakan
hukum dengan pola bedah kanker.

"Berantas gerakan separatis dan tegakkan hukum, maka selesai," katanya.
terjadi di Ambon pada Rabu malam, Husni mengatakan bahwa ledakan serupa itu
merupakan hal biasa terjadi di kota tersebut.

"Itu (ledakan-red) bukan baru pertama kali. Ledakan di Ambon biasa terjadi
karena itu merupakan akumulasi terhadap ketidakpuasan atas perhatian
pemerintah. Ribuan umat Islam dibantai oleh RMS, pemerintah tak berbuat
apa-apa, sementara untuk seorang Theys (Ketua Presidium Dewan papua Theys
Hiyo Eluay-red) begitu besar perhatiannya," ujarnya. Sebelum menemui Ketua
MPR di Gedung DPR, Forum Silaturrahmin Umat Islam Maluku akan terlebih
dahulu menuju Masjid Istiqlal untuk menyampaikan hal yang sama kepada
Majelis Ulama Indonesia (MUI).sri/-
http://www.kopitime.com/news/pol/news.asp?id=18182

"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
atau
BCA Cab. Darmo Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc. No. 088.442.8838
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l




Kirim email ke