|
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Informasikan Situasi Lingkungan Anda [EMAIL PROTECTED] ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Salam sejahtera,
Pertanyaan yang muncul dari pemberitaan ini ialah:
di manakah posisi intelijen dan aparat keamanan kita berada, sehingga tidak ada
pencegahan dan penanganan terhadap konflik-konflik bernuansa SARA secara
profesional di tanah air kita ini?
Salam dan doa,
Redaksi Eskol Net
August 14, 2002
Laporan
CNN:
Teroris
Poso Didanai Al-Qaeda
`````````````````````````
Kelompok
teroris yang melakukan penyerangan di wilayah Poso, diduga terkait dan mendapat
sokongan dana dari jaringan Al-Qaeda. Demikian laporan CNN, Selasa (13/08)
kemarin mengutip pernyataan pejabat inte-lijen Indonesia.
Dalam
pemberitaan yang ber-judul Al-Qaeda Links to Indonesia Violence itu, disebutkan
intelijen di Filipina turut mendukung analisa tersebut. CNN menandaskan,
se-orang pejabat intelijen Filipina mengatakan, hal itu terkait dengan Agus
Dwikarna yang saat ini ditahan di Filipina. Sebab, Dwi-karna disebutkannya,
memegang komando atas sebuah grup milisi yang bermarkas di
Poso.
Kekuatan
milisi itu berkekuatan enam batalion, atau sekitar 2.000 personel pasukan. Malah
intelijen ini secara terang-terangan menye-butkan, pasukan itu sebagai Laskar
Jundullah. Disebutkan juga dalam bocoran investigasi intelijen itu, oleh CNN,
bahwa di Poso telah didirikan sebuah kamp pelatihan yang kemudian ditutup
setelah peristiwa 11 September.
Namun
intelijen itu yakin, lapor CNN, bahwa camp pelatihan ada juga di tempat lain di
wilayah Sulawesi. Seorang WNI bernama Parlindungan Siregar yang kini menjadi
buronan Pemerintah Spanyol, disebutkan terkait dalam pelatihan di kamp-kamp
tersebut.
Itu
dibuktikan dengan dokumen yang ditemukan pihak intelijen Spanyol tanggal 11
November 2001 lalu, yang isinya menyatakan, Siregar merupakan salah satu
pimpinan terhadap kamp-kamp yang ada di Indonesia dan merupakan jaringan
Al-Qaeda. Namun dalam laporan CNN itu, camp tersebut sebenarnya di-bangun oleh
Agus Dwikarna.
DELAPAN
DESA
Sementara
itu, dari Poso di-laporkan, pasca penyerangan kelompok teroris dalam sebulan
terakhir ini di wilayah Kabupaten Poso, telah menyebabkan delapan desa tak
berpenghuni lagi akibat ditinggalkan ribuan penduduk-nya. Desa-desa yang telah
di-kosongkan itu meliputi, Malitu,
Matako, Sepe, Silanca, Tagolu, Batugencu,
Ranonuncu, dan Lembomawo.
Selain
sudah kosong dan hanya dijagai aparat, tercatat ribuan rumah penduduk telah
musnah dibakar, termasuk gedung se-kolah dan tempat ibadah. Se-mentara itu,
setelah berhasil menyerang sejumlah desa di pinggiran Kota Poso, kini aksi
kelompok teroris mulai me-rambah ke dalam Poso Kota. Kemarin (13/08), dilaporkan
se-orang warga di Kelurahan Kawua, Kecamatan Poso Kota dilarikan ke rumah sakit
akibat lemparan bom yang dilancarkan dari atas per-bukitan.
Aksi
teroris itu masih dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Beda halnya dengan
kejadian di desa di luar Poso yang diserang secara sporadis. Seperti diketahui,
Kelurahan Kawua merupakan daerah Poso Kota yang kini menja-di salah satu tempat
pengungsian warga desa yang diserang.
Sumber
Komentar dari Poso tadi malam melaporkan, korban yang terkena bom itu, masih
sempat diselamatkan. Namun matanya mengalami cedera yang cukup serius.
Pada
bagian lain, Himpunan Generasi Muda Kabupaten Poso (HGMKP) Sulut yang bertandang
ke redaksi Komentar tadi malam melaporkan, peristiwa penyera-ngan itu diduga
ditukangi oleh empat oknum Perwira Menengah (Pamen).
Dari
keempat pamen tersebut adalah Letkol SH anggota TNI, Letkol AK, serta Kombes AK
yang keduanya adalah anggota Brimob. Sedangkan dua perwiranya saat ini masih
dalam pendataan HGMKP. ”Oleh karena itu kami meminta agar keempat perwira
tersebut yang memegang kendali di Poso untuk ditarik. Hal ini dikarenakan mereka
secara terang-terangan terlibat dalam kerusuhan,’’ ungkap Ketua Umum HGMKP
Sulut, Ezra Tara’u SH didampingi Sekretaris Umum, Agnes Ta’uno.
Selain
meminta keempat Pamen itu ditarik dari Poso, Tara’u juga memohon kepada
pemerintah pusat untuk menarik satuan Brimob yang berasal dari luar Pulau
Sulawesi, dalam hal ini Brimob yang berasal dari Ka-limantan dan Brimob Kelapa
Dua, Depok. ”Permintaan penarikan tersebut dikarenakan dalam melakukan
pengamanan kedua kesatuan ini seringkali tidak netral,’’ jelas kedua aktivis
Poso ini.
Tidak
hanya itu saja permintaan HGMKP, mereka juga menolak pertemuan kelompok kerja
(pokja) sosialisasi Deklarasi Malino I untuk Poso yang dilaksanakan di Palu. Hal
ini dikarenakan adanya tekan-tekanan dari kelompok tertentu terhadap delegasi
Kristen. ”Untuk karena itu kami minta kepada pemerintah Indonesia agar
sosialisasi Deklarasi Malino I untuk Poso dilaksanakan di Sulawesi Utara
(Manado). Karena wilayah Sulut adalah wilayah yang netral dan aman,’’ jelasnya.
”Selain
itu juga kami minta agar Legium Christum (LC) dan Militia Christy untuk siap
mengamankan pertemuan sosialisasi Deklarasi Malino untuk Poso,’’ tambahnya.
Sementara itu Ketua Komisi Pemuda dan Mahasiswa Sinode AM Gereja-gereja
Sulutteng Ir Moody Rondonuwu, mengecam keras perbuatan biadab dan tidak
berperikemanusiaan serta kekera-san yang dilakukan oknum-ok-num yang tidak
bertanggung-jawab. Selain itu meminta agar pemerintah Indonesia bertindak tegas.
”Kami mengimbau agar warga Sulut untuk mendoakan saudara-saudara kita di Poso
yang mengalami korban kekerasan,’’ pinta Rondonuwu.
Sementara
itu, tokoh agama di Poso, Pastur Jimmy Tumbelaka saat diwawancarai Radio
Nether-land mengatakan, pemerintah terkesan sudah tidak mampu mengamankan Poso.
‘”Saya berani mengatakan demi banyak orang bahwa pemerintah kita tidak mampu.
Saya kecewa. Justru saat kami duduk bersama, duduk saling sepakat dan
mereko-mendasikan segala tindakan kepada pemerintah untuk segera diambil dengan
sikap yang tegas,’’ katanya.
Ditanyai
soal pelaku penyera-ngan, Tumbelaka mengatakan belum tahu pasti. ”Saya kira
memang yang bermain di Poso tetap adalah orang-orang misteri. Kami tidak mau
langsung menuduh kelompok ini, kelompok itu. Namun yang selalu dikor-bankan adalah pihak Kristiani.’’
Sedangkan tentang keberadaan aparat sendiri, katanya telah ditempatkan hampir
setiap tiga kilometer ada pos. ”Tapi sangat tidak masuk akal
kenapa masih terjadi aksi-aksi demikian.’’(rik’s/drs/rnt)
|
