|
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Layanan Informasi Aktual [EMAIL PROTECTED] ~~~~~~~~~~~~~~~~~~ "Tentang Kejahatan Manusia" ``````````````````````````````````````````` ** Allah yang Maha Suci dan Benar TIDAK mungkin menciptakan sesuatu yang jahat, karena menciptakan sesuatu yang jahat = jahat. Allah tidak mungkin melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hakekat Dia yang Maha Suci dan Benar. ** Allah TIDAK menciptakan manusia dengan potensi jahat, karena menciptakan manusia dengan potensi jahat berarti sama dengan jahat. Allah tidak mungkin melakukan hal itu. Allah menciptakan manusia dengan sempurna dengan sifat relatif terhadap diri sendiri (memiliki budi pekerti/ eksis dengan pilihan antara tetap taat pada Allah atau tidak). ** JAHAT/berdosa adalah suatu KONDISI, bukan CIPTAAN ** KONDISI jahat dalam diri manusia adalah suatu konsekuensi dari suatu tindakan manusia (berdasarkan KEHENDAK BEBAS) yang menimbulkan terjadinya perubahan mendasar dalam dirinya, yaitu dari KONDISI SUCI (diciptakan tanpa cacat) menjadi KONDISI BERDOSA. Ilustrasi: ```````````` Si A menggunakan kehendak bebasnya untuk membawa kenderaannya (bebas memilih; apakah menyetir dengan hati-hati atau dengan mengebut/ tidak berhati -hati). Ternyata si A memilih mengebut demi kesenangannya dan akhirnya mengalami kecelakaan, dan tanganya patah. Tangan si A yang patah adalah suatu KONDISI BARU dari si A akibat perbuatannya sendiri, atau akibat penyalahgunaan kehendak bebasnya itu. Pertanyaan: apakah KONDISI BARU si A itu ciptaan Tuhan? Apakah pantas kalau si A menyalahkan Tuhan dalam hal ini? Tentu tidaklah demikian. Demikianlah manusia berdosa itu, kalau pada akhirnya ia berkondisi berdosa akibat kesalahannya sendiri (menyalahgunakan akal budi/ kehendak bebasnya), sungguh tidak pantas kita menimpakan kesalahan itu kepada Allah. ** Kapankah awal kondisi keberdosaan manusia terjadi? Yaitu sejak manusia pertama menyalahgunakan kehendak bebasnya di Taman Eden. Di sana ada otoritas Tuhan: "Jangan memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat.." (Kejadian 2). Di sinilah terjadi semangat relativisme yang pertama kali ketika Adam dan Hawa digoda oleh si iblis hingga akhirnya mereka merelatifkan sesuatu yang mutlak dilarang oleh Tuhan. Inilah awal keberdosaan manusia. Akibat penyalahgunaan kehendak manusia itu: (*) Manusia (spiritually) terpisah dari Allah, karena manusia sudah berada dalam ‘realm kegelapan’ (keberdosaan), sebab tidak mungkin Allah yang Maha Suci bersekutu dengan manusia yang telah dalam KONDISI berdosa. (*) Keterpisahan itu menyebabkan banyak manusia tidak lagi mengenal Allah. (*) Tujuan hidup manusia tidak lagi sebagaimana tujuan Sang Pencipta. (*) Filsafat manusia banyak yang tidak lagi berstandar pada Otoritas Pencipta, seperti filsafat materialisme, hedonisme, relativisme, evolusionisme, dll. (*) Pikiran, perilaku dan tindakan manusia banyak yang menyimpang atau tidak lagi sebagaimana diciptakan semula. Itulah penyebab mengapa rupa-rupa kejahatan selalu ada di atas bumi ini, mulai dari dosa dalam pikiran maupun dalam perbuatan manusia: - Pembunuhan pertama kali oleh Kain terhadap adiknya Habel, karena rasa iri-nya kepada Habel. Rasa Iri ini tentu berasal dari hati yang telah berdosa (Kejadian 4) - Kejahatan manusia kian merajalela (Kejadian 6), "..segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan...", hingga Allah menghukum manusia itu dengan peristiwa air bah. - Semua manusia berdosa, termasuk para Nabi pun demikian. Nuh, dalam konteks keberdosaan, melakukan hal yang nazis/ jahat di hadapan Tuhan dengan anak bungsunya, hingga ia berkata: "terkutuklah Kanaan, hendaklah ia menjadi hamba yang paling hina bagi saudara-saudaranya." - Peristiwa Sodom dan Gomora, Allah memusnahkan manusia juga karena kejahatannya yang merajalela, banyak terjadi penyimpangan. (Kejadian 19) - Kisah Daud yang mengambil isteri Uria, yaitu Batsyeba, dengan cara yang keji di hadapan Tuhan, hingga Daud sungguh menyesali perbuatannya itu (2 Samuel 11) - Demikian juga keberdosaan manusia di jaman kedatangan Yesus Kristus ke dunia, ada pelacuran, perjudian, pembunuhan, serta para pemuka agama yang hidup dengan kemunafikan dengan memanfaatkan jabatan mereka untuk mencari muka, juga orang Farisi yang suka berdoa di pinggir-pinggir jalan. (Kitab Perjanjian Baru) - Di luar cerita dalam Alkitab, cerita kejahatan manusia ada sepanjang sejarah manusia. Taruhlah misalnya: peperangan antar kerajaan, antar negara, perang dunia I dan II, perang salib, perang Timur Tengah, bom atom Hirosima- Nagasaki, imperialisme, kolonialisme, dst. Pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, kebencian, keserakahan, kesombongan, dsb, juga ada sepanjang sejarah manusia. Saat ini sedang merebak penyalahgunaan obat terlarang (narkoba), terorisme, korupsi, kolusi, nepotisme, aborsi, pelacuran, perzinahan, perselingkuhan, dsb... Itu semua adalah rupa-rupa dosa, yang membuktikan bahwa semua manusia telah berdosa dan jahat di hadapan Tuhan. SOLUSI dari Allah: ---------------------------
Filsafat, science, tradisi, ekonomi dan segala upaya manusia tidak akan bisa mengatasi kondisi manusia berdosa itu. Oleh karena itulah Allah sendiri yang bertindak. Terang Allah datang ke dalam dunia yang gelap (spiritually). Sekitar 2001 tahun lalu, Allah yang tak terbatas oleh ruang dan waktu 'datang' ke dalam 'realm' yang terbatas oleh ruang dan waktu (incarcation) untuk MENERANGI hati manusia yang ada dalam kegelapan. Terang itu datang ke dunia yang ketiadaan/ kehilangan terang (spiritually). Dia membatasi diriNya agar bisa bertemu dengan manusia ciptaanNya itu. Walaupun Dia membatasi diriNya bukanlah berarti Dia menjadi terbatas, sebab Dia adalah Allah, Dia adalah Yesus Kristus pembawa damai untuk mendamaikan/ mempersekutukan manusia berdosa dengan Allah yang Maha Kudus dan Suci. Yesus satu-satunya jalan dan pengharapan untuk kita. Salib pengorbananNya adalah jalan pendamaian dengan Allah Bapa di sorga. (Yohanes 1) Persoalannya ialah, apakah mata HATI manusia berdosa itu mau melihat ke TERANG itu? Apakah manusia mau dipersekutukan kembali dengan Allah yang Maha Suci itu? Jawabannya kembali kepada hati masing-masing manusia. Semoga Tuhan Yesus sudah menjadi terang dalam hidup kita. -Amin- (A. Simanjuntak)
|
