~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Layanan Informasi Aktual
     [EMAIL PROTECTED]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
 
Para pembaca yth,
Para pelaku pengeboman di toko McDonald menurut pihak Kepolisian juga mentarget gereja-gereja di Sulawesi Selatan. Berikut ini terjemahan bebas redaksi Eskol Net mengenai berita tersebut yang diambil dari Jakartapost hari ini, Senin 9 Desember 2002:
 
MAKASSAR, Sulawesi Selatan (JP). Para pelaku dibalik serangan bom Hari Kamis di toko McDonald dan sebuah penjualan mobil di Makassar juga merencanakan membom gereja-gereja di kota itu dan kota-kota lainnya di Sulawesi Utara, kata polisi pada Hari Senin.
 
Kapolda Sulawesi Selatan, Inspektur Jenderal Firman Gani mengutarakan kepada para wartawan bahwa bukti rencana bom lebih lanjut telah ditemukan di bengkel besi milik salah satu tersangka yang masih bebas.
 
"Kami menemukan foto-foto gereja dan peta-peta lokasinya di wilayah yang berbeda di Sulawesi Selatan," kata Firman.
 
Tiga orang telah terbunuh dalam serangan bom di Hari Kamis itu.
 
Salah satu dari korban teridentifikasi sebagai Ansar Daeng Salam, dipercaya telah meledakkan bom di dalam toko McDonald pada lantai dasar mall Ratu Indah.
 
Firman mengatakan bahwa selain Ansar, lima orang lainnya telah diidentifikasi sebagai tersangka pengeboman. Dua dari mereka, Muchtar Daeng Lau dan Usman, telah ditahan. Tiga lainnya yang masih bebas diidentifikasi sebagai Masnur, Irham dan Agung Hamid.
 
Itu adalah selama penggeledahan bengkel Masnur bahwa polisi menemukan bukti mengkaitkan mereka dengan pengeboman. Selain peta lokasi gereja-gereja, polisi juga menemukan 2,5 Kg TNT, sebagian serbuk hitam (bahan ledakan rendah yang digunakan dalam pengeboman McDonald), detonator/ bahan peledak, dan sebuah buku petunjuk bagaimana merakit bom.
 
Firman mengatakan paling tidak dua tersangka adalah anggota Laskar Jundullah, sebuah kelompok angkatan terlatih di bawah Komite Penegak Syariah Indonesia(KPSI), suatu organisasi Islam dengan tujuan mendirikan syariah di Indonesia.
Namun Firman dengan cepat mengurangi peranan Laskar dalam pengeboman itu, mengatakan itu tindakan anggota secara individu, tidak mewakili aktivitas atau aspirasi organisasi mereka.
"Mereka adalah bagian dari jaringan teroris internasional atau nasional, yang sama bertanggungjawab atas bom-bom yang lalu di Indonesia, termasuk di Bali Bulan Oktober," kata Firman. Tetapi mereka menyusupi organisasi-organisasi Islam dan melancarkan serangan mereka dengan dalih untuk tujuan organisasi." (translated by Agus/Eskol)

............................................
Makassar bombers may also be
targeting churches, police say
``````````````````````````````````````````````

MAKASSAR, South Sulawesi (JP): The perpetraros behind Thursday’s bomb attacks at a McDonald;s outlet and a car dealership in Makassar were also planning to bomb churches in the city and other towns in South Sulawesi, police said on Monday.

South Sulawesi Police Chief Insp, Gen. Firman Gani told reporters that evidence of more bomb plots were was discovered in a metal workshop owned by one of the six suspects who is still at large.

”We discovered pictures of churches and maps of their locations in various regencies in South Sulawesi,” Firman said.

Three people were killed in Thursday’s bomb attacks.

One of the victims, identified as Ansar Daeng Salam, was believed to have detonated the bomb inside the McDonald’s outlet on the groundfloor of Ratu Indah shopping mall.

Firman said that besides Ansar, five other men have been identified as suspects of the bombing. Two of them, Muchtar Daeng Lau and Usman, have already been arrested. The other three who are still at large are identified as Masnur, Irham and Agung Hamid.

It was during the raid at Masnur’s workshop that police found evidence linking them to the bombing. Besides maps locating churches, police also found 2.5 kg of TNT, some black powder (low explosives material used in the McDonald’s bombing), detonators, and a booklet on how to assemble bombs.

Firman said at least two of the suspects are members of the Laskar Jundullah, a task force group under the Committee for the Upholding of the Syariah (KPSI), an Islamic organization with ambitions of establishing the syariah in Indonesia.

Firman however was quick to play down the Laskar’s role in the bombing, saying that the actions of the individual members did not represent the activities or aspirations of their organizations.

”They are part of a national or international terrorist network, the same one responsible for past bombings in Indonesia, including the one in Bali in October,” Firman said. “But they infiltrated the Islamic organizations and launch their attacks under the pretext of the organization’s goals.”
 

Kirim email ke