|
ANGGARAN NATAL (Refleksi)
`````````````````````````````````````````````
Salam sejahtera dalam kasih Tuhan Yesus,
Kali ini redaksi ingin mengajak para pembaca yang budiman untuk
hitung-hitungan sejenak sambil mempersiapkan berbagai kegiatan atau acara
dalam menyambut perayaan Natal tahun ini. Tulisan dari redaksi ini sekedar
bahan wacana bagi kita, dan siapa tahu bisa menjadi bahan untuk kita renungkan
bersama.
Mari kita mulai. Perhitungan ini akan
mencoba mengambil rata-rata dari angka yang paling 'possible'
atau paling memungkinkan dalam kondisi realita atau yang sesungguhnya. Kita
misalkan khusus untuk suatu wilayah propinsi A terdapat 100 kegiatan perayaan
Natal, baik gereja maupun non gereja. Anggaran setiap kegiatan (biasanya dalam
proposal) minimum, misalnya, Rp 2000.000 dan angka maksimum, misalnya, Rp
20.000.000, sehingga kalau kita ambil rata-rata terkotor menjadi Rp 11.000.000
per satu kegiatan. Itu berarti dalam sekali perayaan Natal di propinsi A bisa
menghabiskan dana Rp 1,1 Milyar. Taruhlah misalnya ada 10 propinsi di Indonesia
yang bisa mencapai anggaran dana Natal sebesar Rp 1,1 Milyar, berarti anggaran
Natal untuk seluruh Indonesia bisa menghabiskan dana sebesar Rp 11 Milyar
pertahun.
Persoalannya sekarang ialah, sejauh manakah peningkatan kualitas keimanan
umat Kristiani di Indonesia dari tahun demi tahun? Apakah penghabisan anggaran
Natal sebesar Rp 11 Milyar itu sudah benar-benar mengarah pada peningkatan
secara kualitas kehidupan umat Kristiani. Memang sulit untuk mengukur masalah
ini, akan tetapi kita bisa merasakan dan mengevaluasi sendiri bagaimana
sebenarnya kehidupan umat Krsistiani akhir-akhir ini.
Dari sisi pelaksanaan perayaan Natal boleh kita lihat sendiri
bahwa lokasi dana terbesar umumnya terletak pada beberapa hal yang
sebenarnya bukan tujuan atau bukan maksud dari Natal yang sesungguhnya, antara
lain:
* Konsumsi, sehingga Natal memang sering identik dengan
berfoya-foya, karena tidak jarang konsumsi dalam perayaan Natal itu
berlebih;
* Dekorasi dan perlengkapan, karena memang Natal harus meriah;
* Undangan/ publikasi, harus dibuat sebagus mungkin, bahkan mewah;
* Sewa Gedung, Hotel, balai pertemuan, dsb, yang seharusnya bisa dilakukan
di tempat yang sederhana untuk lebih menghayati kedatangan Kristus;
* dan lain-lain yang banyak mengeluarkan biaya, yang seharusnya tidak
perlu.
Di sinilah menurut redaksi terjadi suatu distorsi dalam perayaan Natal.
Bayi Kristus lahir di kandang domba, tetapi banyak orang tidak puas merayakan
Natal kalau tidak di gedung-gedung mewah dan megah. Bayi Kristus lahir dalam
suatu kondisi miskin, ditaruh di atas palungan, di atas jerami, tanpa ada sie
konsumsi, tanpa ada sie dekorasi, tanpa ada sie perlengkapan, tetapi banyak
orang merayakan Natal dengan kemewahan, kelimpahan konsumsi hingga, penuh dengan
kemeriahan.
Banyak orang yang bersungut-sungut hanya gara-gara konsumsi dalam peryaan
Natal tidak cukup, apalagi kalau tidak ada. Tuhan Yesus ketika lahir tidak
punya anggaran dana. Kelahiran Yesus tidak pernah menghabiskan dana Rp 11
Milyar. Maria dan Yusuf tidak pernah menyusun suatu anggaran yang akan dipakai
kalau Sang Bayi lahir. Mereka mencari penginapan saja sudah sangat susah hingga
harus di kandang domba.
Distorsi dimaksud di atas ialah, bahwa semestinya perayaan
Natal merupakan momen untuk merenung dan menoleh kembali pada suatu
kemiskinan dan kemelaratan yang dialami Bayi Yesus ketika di kandang domba,
namun di sinilah Dia membawa suatu keteladanan hidup kerendahan hati,
kesederhanaan tetapi kaya akan hikmat dan kemuliaan Tuhan.
Ketika Yesus dilahirkan di tempat yang hina, di kandang domba, Dia sungguh
penuh dengan kemuliaan Allah Bapa. Tetapi, saat ini mungkin banyak orang lahir
di rumah sakit yang mewah, lengkap dengan dokter dan peralatan canggih
namun hal itu tidak akan membuatnya lepas dari suatu kehinaan
karena dosa.
Sudah saatnya kita mengubah paradigma perayaan Natal kita selama ini.
Natal yang dulu yang sekedar formalitas perayaan, rutinitas setiap tahun dengan
pemborosan dana sekitar Rp 11 Milyar pertahun, saatnya kini kita arahkan pada
perenungan apa yang dialami oleh Bayi Yesus di kandang domba, sekaligus bersuka
cita dalam kesederhanaan seperti dialami oleh Maria dan Yusuf, tanpa harus
menggeser makna kelahiran itu menjadi pesta hura-hura yang menghabiskan banyak
biaya. Natal adalah momen untuk mendorong semangat penginjilan dan perenungan,
bukan momen untuk memuaskan kenikmatan duniawi.
Sungguh bijaksana dan sangat berfaedah kalau seandainya dana yang Rp 11
Milyar pertahun itu dipakai untuk menopang pelayanan penginjilan di berbagai
pelosok dunia, atau juga dalam peningkatan sumber daya manusia. Kita sering
membahas masalah ketertinggalan SDM karena hambatan dana, akan tetapi kita
selama ini tidak sadar bahwa kita telah menghabiskan dana tanpa manfaat
yang jelas. Selamat menyambut Hari Natal 2002. Kiranya Tuhan Yesus menolong
kita. Amin. (Augus/2002/Eskol Net) |
