*************************
Laporkan Situasi lingkungan
<[EMAIL PROTECTED]>
Atau Hub Eskol Hot Line
Telp: 031-5479083/84
*************************
Para Netters Yth
''''''''''''''''''''
Salam Sejahtera dalam Kasih Kristus,
Bagaimanakah sikap dan peranan gereja Pasca Pemilu ini ?
Berikut ini kami sampaikan hasil sebuah makalah tentang "Gereja Di Pasca
Pemilu"
yang ditulis oleh Eka Darma Putra, disampaikan pada Sidang MPH-PGI, 30 Juni
s/d 2 Juli 1999 di Jakarta. Berhubung makalah tersebut cukup panjang, maka
kami postingkan secara bersambung. Semoga bermanfaat. Tuhan Memberkati.
Salam dan Doa,
Redaksi Eskol-Net
===============
...........................................................................
..............
"G E R E J A D I P A S C A P E M I L U"
Oleh : Eka Darmaputera
(disampaikan pada Sidang MPH-PGI, 30 Juni
s/d 2 Juli 1999 di Jakarta)
------------------------------------------------------
1. Untuk membicarakan di mana tempat dan bagaimana peran Gereja-Gereja
Tuhan di Indonesia di masa pasca pemilu nanti, kita perlu membuat proyeksi
mengenai bagaimana situasi kita di masa pemilu itu. Tapi untuk mampu
membuat proyeksi dimaksud, kita terlebih dahulu perlu membuat evaluasi
terhadap pelaksanaan pemilu yang baru lalu serta membuat assesment tentang
apa makna kemenangan PDI �P. Berikut adalah catatan-catatan berdasarkan
pengamatan pribadi.
2. Di dalam setiap EVALUASI, kita senantiasa membandingkan hasil(result)
dengan yang diinginkan (expectation).
a.Pada tingkat masyarakat: pemilu umumnya berlangsung luber, jurdil,
terbuka, dan disambut dengan entusiasme tinggi. Ini merupakan bukti yang
amat otentik, betapa rakyat kita masih menyimpan luar biasa banyak potensi
positif, yang memberi harapan besar bagi demokrasi! Paling sedikit, kendala
demokrasi tidak terletak di atas ini.
b. Sebaliknya pada tingkat aparat birokrasi dan elit sosial politik, baik
di tingkat nasional maupun lokal, masih diperlihatkan dengan tanpa
malu-malu mentalitas lama yang ademokratis, khususnya dalam bentuk
bad/dirty politicking dan �negative compaign�. Cara-cara yang jurdil memang
dipakai, selama kemenangan terjamin. Namun segala cara tidak segan-segan
akan ditempuh untuk memastikan kemenangan. Yang amat negatif untuk
Indonesia masa depan adalah pengeksploitasian sentimen-sentimen
etnis-kedaerahan (�iramasuka�) dan agama. Mental KKN jelas masih mendalam
dan merajalela, bahkan di antara anggota-anggota KPU (yang menggambarkan
sosok pemimpin-pemimpin partai kita !). Jelaslah bahwa kendala yang
paling serius bagi proses demokratisasi kita, adalah mental dan moral
lapisan elit sosial politik kita. Sebab itu jangan pernah kita katakan
bahwa rakyat belum siap untuk demokrasi. Yang belum siap itu sebenarnya
siapa ?
c. Jadi bila pemilu itu kita evaluasi berdasar apa yang kita inginkan (i.e
pemilu yang luber, jurdil dan aman), maka hasilnya berada dalam �range�
antara �baik� (B) dan �tidak buruk� (C). Untuk memperoleh �A� barangkali
belum. Akan tetapi pemilu tidak cukup kita nilai dari aspek pelaksanannya
saja. Kita mesti menilai sisi-sisinya yang lebih mendasar. Misalnya,
motivasi dan tujuan paling utama kita menyelenggarakan pemilu ( dengan
tergesa-gesa ) itu, tidak lai adalah untuk memperoleh pengabsahan bagi
sebuah pemerintahan yang kredibel, karena pemerintahan tersebut dipilih
oleh rakyat. Dalam hubungan ini, pertanyaan yang paling penting adalah:
tercapaikah maksud itu? Menurut penilaian saya, berdasarkan �popular vote
(bukan jumlah kursi), pemilu ini---dengan kemenangan PDI-P--- jelas-jelas
telah menunjukkankehendak rakyat, yaitu kepada siapa legitimasi kekuasaan
itu diberikan oleh rakyat! Rakyat telah menyampaikan amanatnya!Namun amat
jelas pula, betapa sistem pemilu (sistem proporsional plus) memang secara
sengaja telahdirancang sedemikian rupa, sehingga pemerintah yang
dihasilkanakan lebih merupakan �bentukan� para elit politik (yang justru
merupakan kendala bagi demokratisasi), ketimbang ditentukan secara lebih
langsung oleh rakyat. Partai yang memperoleh suara rakyat lebih banyak,
bisa memperoleh kursi lebih sedikit di DPR/MPR. Alhasil, bila pemilu ini
akan kita nilai berdasarkan keberhasilannya menghasilkan pemerintah yang
kredibel, legitimate, dan efektif ( sebagai conditio sine qua non bagi
kemungkinan kita keluar dari krisis!), maka hasilnya adalah berada di
antara �F� dan �D�. Sebagai bandingan, proyeksi Profesor Ismail Sunny
mengandung cukup banyak kebenaran. Ia berkata bahwa siapapun yang akhirnya
dipilih secara syah untuk menjadi presiden�Megawati atau Habibie�keduanya
menyimpan potensi kekerasan sosial! Amat sia-sia membuat pemilu bila hanya
seperti ini hasilnya, bukan ?
3.Bagaimana kita memahami �kemenangan� PDI-P? Kata �kemenangan� sengaja
saya letakkan di antara dua tanda kutip, oleh karena ada yang berpendapat
bahwa sekalipun PDI-P berhasil mengumpulkan suara terbanyak, yang menang
sebenarnya adalah partai Golkar, dalam arti semua yang terjadi adalah
sesuai dengan desain yang dirancangkan oleh Golkar sejak jauh-jauh hari.
Sebab itu menyesatkanlah, dua kelompok pandangan mengenai makna �kemenangan
� PDI-P di bawah ini :
a. Yang mengecil-ngecilkan: kemenangan itu sekedar ekspresi �kultus
individu�, �nostalgia BK�, tidak didukung visi perjuangan yang jelas dan
kepemimpinan yang memenuhi persyaratan untuk membawa bangsa ini memasuki
Abad ke-21; dan/atau
b. Yang membesar-besarkan : kemenangan ini berarti �talak tiga� atau
�diskontinuitas total� dengan sistem dan budaya politik dari rezim/orde
sebelumnya;
Bersambung ....................)
"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l