************************** Laporkan Situasi lingkungan <[EMAIL PROTECTED]> Atau Hub Eskol Hot Line Telp: 031-5479083/84 ************************** --------------------- Artikel Eskol-Net: --------------------- Pidato Politik Megawati: Urgensitas Moral Pemimpin (1) ************************** (Oleh : Augustinus Simanjuntak) Setelah ditunggu sekian lama oleh banyak kalangan terutama elit politik nasional ,pasca pemilu 7 Juni, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri akhirnya berbicara tentang visi partainya di depan publik di kantor DPP PDI P Jakarta (29/7). Pidato Mega tersebut dinilai banyak pihak telah menjawab sebagian besar pertanyaan yang muncul di balik sikap diamnya selama ini. Lepas dari penilaian pro dan kontra terhadap Pidato Mega tersebut, menarik untuk dicermati salah satu poin dari pidato Mega menyangkut krisis kepercayaan terhadap pemerintah yang sekarang, yang tidak lain merupakan kelanjutan rezim Orde Baru (ORBA), rezim yang banyak meninggalkan persoalan dan sengsara rakyat. Mega menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang bersih dan beribawa, bebas dari segala praktek korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN), yang selama ini banyak ditemukan di era ORBA. Pernyataan calon Presiden dari PDI P ini bisa dimaknai bahwa moralitas seorang pemimpin menempati prioritas utama. Ambruknya perekonomian yang dibangun oleh rezim Orde Baru banyak disebabkan oleh karena merosotnya kesadaran moral para pemimpin pemerintahan, yang ditandai dengan munculnya banyak praktek KKN di hampir semua bidang. Di era Orde Baru telah terjadi kesenjangan antara pemerintahan dan moralitas. Bobroknya sistem pemerintahan yang dibangun oleh rezim ORBA tidak lepas dari faktor para pemimpin saat itu. Ibarat sebuah bola salju yang pada awalnya kecil, namun ketika menggelinding kian lama semakin besar. Para penguasa ORBA yang mengabaikan aspek etis dan moral dalam pemerintahannya telah membentuk aparatur pemerintah yang tidak bermoral pula, diikuti oleh sebagian masyarakat mengingat masyarakat kita masih cenderung paternalistik. Selanjutnya apartur yang kian bobrok itu telah melahirkan aparatur yang bertambah-tambah lagi bobroknya, yang ditandai dengan banyaknya praktek KKN di era ORBA, mulai dari tingkat pusat hingga daerah-daerah. Bahkan, warga yang semula mempunyai moral yang baik telah terdorong untuk melakukan berbagai penyelewengan karena ia berada dalam sistem yang bobrok itu. Demikian seterusnya sistem pemerintahan ORBA semakin bobrok, hingga terbentuk semacam lingkaran setan. Sehingga tidak salah lagi kalau akhir-akhir ini Indonesia digolongkan sebagai salah satu negara yang tingkat korupsinya terbesar di dunia. Belum lagi masalah kolusi dan nepotisme. Apabila hal seperti di atas yang terjadi di era ORBA, maka sudah tidak relevan lagi mempertanyakan mana yang menjadi penyebab dan mana yang menjadi akibat. Ibarat mempertanyakan mana yang lebih dahulu: ayamnya atau telurnya. Sebab dalam hal ini yang menjadi penyebab telah menjadi akibat, dan yang akibat telah menjadi penyebab. Oleh karena itu, lebih relevan bila mempersoalkan: bagaimana memutuskan lingkaran setan dalam sistem pemerintahan ORBA itu. Bersambung ......................... "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
