********************************
Bila anda mampu berpikir kritis analisis,
    Manfaatkan ruang "Artikel" Eskol-Net
Untuk menuangkan ide dan gagasan anda!
    Kirimkan ke [EMAIL PROTECTED]
***Jangan sia-siakan talenta anda****
**********************************
Wacana Mingguan : 21 Agustus 1999
===============================

Salam dan Perjuangan
--------------------------
(Filemon 1:1-3)
"Dari Paulus, seorang hukuman karena Kristus Yesus dan dari Timotius
saudara, kepada Filemon yang kekasih, teman sekerja kami dan kepada Afia
saudara perempuan kita dan kepada Arkhipus, teman seperjuangan kita dan
kepada jemaat di rumahmu: Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah,
Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu."

Bila kita membaca sepintas perikop ini maka akan terlintas dalam pikiran
kita bahwa hal ini sudah menjadi kebiasaan Paulus untuk memulai suratnya,
sebelum ia menyampaikan pesannya, dengan memberi salam.
Tetapi hal yang menarik bila diperhatikan dengan  teliti ialah bahwa dalam
salamnya Paulus mencantumkan juga status dirinya-- sebagai seorang
hukuman-- maupun "status" penerima di mata Paulus: Timotius sebagai
saudara,  Filemon sebagai teman sekerja, Apfia sebagai saudara perempuan,
dan Arkhipus, teman seperjuangan. Oleh sebab itu mari kita memahami
bersama-sama teks ini searah dengan thema di atas. Kita awali dengan hal
"perjuangan".

Beberapa hari yang lalu bangsa kita merayakan dan memperingati kembali HUT
kemerdekaannya. Di sekolah kita belajar bahwa kemerdekaan bangsa ini
tercapai bukan karena perjuangan perorangan melainkan hasil dari perjuangan
bersama-sama; hasil kerjasama sebuah bangsa. Dalam perikop yang kita baca
tadi Rasul Paulus mengenakan sebutan "teman seperjuangan" kepada nama-nama
yang ia terlibat dalam pelayanannya. Secara logika kita patut bertanya,
bagaimana mungkin Paulus yang sedang di dalam penjara dapat berjuang
bersama dengan mereka yang bebas/ tidak dipenjara?  Dia sedang terkurung,
namun ia dapat tetap bekerjasama dengan orang lain di luar penjara. Di sini
bisa kita melihat, bahwa selama pelayanannya, ketika ia masih bebas, Paulus
berhasil membangun relasi dan bekerjasama dengan baik dengan orang-orang
sekitarnya. Ia tidak mau menjadi single fighter dalam pelayanannya, karena
memang hal ini tidak mungkin ia lakukan. Hasilnya, pelayanan tetap bisa
berjalan walaupun ia berada dalam penjara; Paulus tetap bisa berjuang
bersama dengan rekan-rekan pelayannya/ orang yang pernah ia layani.

Mengapa Paulus bisa tetap berjuang bersama walau terkurung? Jawabnya,
karena Paulus memelihara komunikasi dengan jemaat, dan dengan rekan
pelayanannya. Sehingga dinding penjara bukanlah halangan untuk tetap
berhubungan dengan mereka, contohnya surat ini; karena ia tahu bahwa dalam
masalah Filemon dengan Onesimus (dahulu budak Filemon) nasehatnya sangatlah
diperlukan.

Dari perikop ini kita bisa belajar untuk membangun relasi dan bekerjasama
dengan orang-orang sekitar kita, dengan rekan pelayanan dan dengan
orang-orang yang kita layani, dan memelihara hubungan itu dengan terus
menjalin komunikasi yang positif dengan mereka.

Sebaliknya, adalah hal yang sangat disayangkan dan merugikan dalam
pelayanan kita apabila kita tidak dapat bekerjasama dengan orang-orang di
sekitar kita, tidak dapat menjadikan rekan-rekan pelayanan kita sebagai
rekan seperjuangan dalam mengemban tugas agung dari Tuhan Yesus.

Hal yang kedua, yaitu tentang  memberi salam. Di kalangan Yahudi, salam
adalah hal yang lumrah dan merupakan bagian dari tradisi yang berlaku di
tengah-tengah masyarakat. Namun di sini Paulus menunjukkan bobot salam
yang lebih dalam lagi; ia mengucapkan berkat kepada si penerima surat:
"Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan
Yesus Kristus menyertai kamu." Syalom dalam nama Tuhan Yesus. Ini suatu
jaminan syalom (damai sejahtera) yang tak tergoyahkan. Tidak ada salahnya
bila kita meneladani Paulus dalam saling memberkati.

Satu hal lain yang patut diteladani dari Paulus ialah, ia sebagai seorang
yang telah melayani Filemon dan "berkuasa dalam Kristus" (ay 8) namun ia
memilih tidak memanfaatkannya bagi keuntungan dan kemegahan diri.
Sebaliknya ia menjadikan dirinya sebagai "teman seiman" (ay 17), bukan
"atasan dalam iman". Di sini Paulus menunjukkan kerendahan hatinya sebagai
seorang pelayan, sehingga tidak sulit baginya untuk memberi salam dan
menjadikan dirinya sebagai rekan seperjuangan mereka yang sesungguhnya
adalah anak rohaninya (orang-orang yang ia layani). Ia tidak menganggap hal
itu sebagai hal yang merugikan dirinya.

Bagi kita mungkin hanya dapat menyampaikan salam bagi orang yang lebih
tinggi jabatan/statusnya dari kita, bagaimana terhadap mereka yang di bawah
kita? Marilah kita belajar tiga hal dari Paulus ini yaitu perjuangan
(kerjasama), komunikasi, saling memberkati dan kerendahan hati. Tentu
semuanya ini hanya didasari karena nama dan kehadiran Kristus (ayat 1).

(Yus)


"Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia:
Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36)
***********************************************************************
Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk.
Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan
tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED]
Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya,
a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772
***********************************************************************
Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan:
subscribe eskolnet-l    ATAU    unsubscribe eskolnet-l

Kirim email ke