************************** Laporkan Situasi lingkungan <[EMAIL PROTECTED]> Atau Hub Eskol Hot Line Telp: 031-5479083/84 ************************** Eskol Netters yang terhormat, Salam Sejahtera dalam Kasih Kristus, Berikut ini kami postingkan situasi Maluku sejak Tanggal 24 Oktober s/d 8 Nopember 1999. Mohon dukungan doa untuk saudara-saudara disana khususnya yang saat ini terpencar-pencar dengan sanak keluarga tanpa diketahui keberadaannya. Salam dan Doa, Redaksi Eskol-Net MALUKU KEMBALI RUSUH ---------------------------------- Senin-Selasa, 8,9 November 1999 (Batu Merah Ambon) Kerusuhan kembali merebak di Maluku dan kali ini terjadi di kawasan Batu Merah dan di daerah Maluku Utara (Ternate dan Soa Siu). Informasi yang kami terima dari tim Investigasi Sala Waku di lapangan menyebutkan bahwa kerusuhan di kawasan Batu Merah - Karang Panjang adalah imbas dari pembakaran dari rumah-rumah warga Kristen dan pembakaran gedung Gereja Bethabara. Dari hasil pantauan kami kira-kira jam 21.00 WIT terlihat beberapa titik api dan asap mengempul di daerah Batu Merah. Aksi pembakaran tersebut diikuti dengan ledakan bom rakitan dan senjata api (otomatis dan rakitan). Sampai jam 24.00 WIT titik api tersebut tidak terlihat lagi. Walaupun titik api tidak terlihat lagi, tetapi bunyi ledakan bom rakitan masih tetap terdengar dan terdengar beberapa kali tembakan senjata otomatis. Sampai dengan jam 02.00 WIT terlihat 2 mobil truk dengan aparat keamanan dari Kesatuan ARMED 11 terlihat memasuki kawasan Batu Merah. Bunyi ledakan bom rakitan dan senjata rakitan masih terus terdengar dan kira-kira jam 04.00 WIT terlihat beberapa titik api mengempul di kawasan Batu Merah. Menurut pengamatan Tim Investigasi Sala Waku bahwa titik api tersebut berada di lokasi Asrama Militer Batu Merah. Beberapa saat kemudian dua mobil pemadam kebakaran terlihat memasuki lokasi kebakaran dan memadamkan api tersebut. Namun dari hasil pemantauan kami sampai sat ini jam 11.00 WIT masih terlihat asap mengempul di kawasan tersebut. Sehari sebelumnya masyarakat Desa Mardika dan Karang Panjang telah melakukan protes terhadap penarikan pasukan dari Kesatuan YON 733 BS dan YON 411 KOSTRAD dari dawasan Batu Merah. Masalahnya adalah karena ditempatkan aparat keamanan dari kesatuan ARMED 11 KOSTRAD yang dinilai tidak netral dalaam mengangani pertikaian antar warga. Sementara itu dari beberapa sudut kota terjadi ketegangan, di antaranya di kawasan Ponegoro, sekitarjalan A.J Patty, Kawasan OSM dan sekitar gedung Gereja Silo. Pertikaian di Ponegoro mengakibatkan satu orang meninggal dunia atas nama SALAKORY. Dari kawasan OSM dilaporkan bahwa setelah mendengar bahwa gedung Gereja Bethabara digbakar oleh massa Muslim pada jam 11.00 WIT, massa dari arah Kudamati dan Benteng menuju ke arah Mesjid An'Anshar. Namun atas kesigapan aparat keamanan dari kesatuan MARINIR yan bertugas di kawasan OSM melakukan pengamanan dan berhasil menghubungi mobil pemadam kebakaran. Akhirnya api dapat dimatikan. Dalam aksi tidak ada korban jiwa. Dari hasil pantauan kami sampai saat ini korban yang meninggal kira-kira 3 orang dan korban luka-luka belum bisa diidentifikasi. Sementara itu dari daerah Maluku Utara dapat kami sampaikan bahwa sampai saat ini jiwa semakin banyak dan situasi belum dapat dikendalikan oleh aparat keamanan. Secara kronologis dapat kami gambarkan sebagai berikut: Minggu, tanggal 24 Oktober 1999 (Kao - Malifut) Masyarakat Kristen Kao sedang beribadah pagi sementara perbatasan Kao- Malifut dijaga oleh kira-kira 30 warga Muslim Kao. Kira-kira pukul 10.00 WIT, warga Makian/Malifut kira-kira 200 orang melintasi perbatasan kecamatan untuk menyerang warga Kao, maka warga kao Muslim mengadakan perlawanan sambil meminta bantuan. Selesai ibadah warga Kao Kristen memberikan bantuan maka terjadi pertempuran dan warga Makian dapat dipukul mundur dengan korban jiwa di pihak warga Makian 3 orang. Pada sore hari kembali orang Kao mengadakan serangan balasan dan hanya dalam waktu kira-kira 3 jam seluruh kecamatan Malifut dikuasai oleh orang Kao. Trjadi evakuasi besar-besaran masyarakt makian ke Ternate. Senin, 25 Oktober 1999 (Ternate) Masyarakat Makian yang bermukim di Ternate mengadakan konsolidasi di rumah BASYIR SAMIUN, BA. Sekitar pukul 11.00 WIT mereka bergerak ke arah Selatan menuju pelabuhan penyeberangan feri, sambil memprovokasi massa Muslim non Makian seolah-olah kerusuhan Kao - Malifut adalah masalah agama. Tapi warga Ternate tidak terpancing dengan masalah tersebut. Kira-kira pukul 01.30 WIT, sekitar 500 orang warga terkonsentrasi di pelabuhan penyeberangan feri. Mereka menuntut agar diseberangkan ke Sidangoli, namun karena petugas menghalsngi, mereka lalu mengadakan pengrusakan terhadap seluruh fasilitas yan terdapat di dermaga feri. Selanjutnya di bawah pimpinan WAHDA IMAM, SH massa bergerak menuju utara Ternate dan mulai mengadakan pengrusakan terhadap rumah-rumah penduduk Kristen di sepanjang jalan Bastiong dan Mangga Dua. Selanjutnya massa menuju pusat kota dan mulai melakukan pengrusakan toko dan hotel, karena dihadang petugas massa berbalik ke Perumnas dan mengadakan pengrusakan pada rumah tokoh masyarakat Kao J. SINGA, BA namun keluarg tersebut berhasil menyelamatkan diri. Pada pukul 15.00 WIT menuju Kalumata dan mengadakan pembakaran Gereja Anugerah, namun atas kesigapan anggota jemaat, api dapat segera dipadamkan. Selasa, 20 Oktober 1999 Pengungsi makin berdatangan dari malifut dan dikonsentrasikan di sekolah-sekolah bagian selatan kota (bastiong, kayu Merah, Kalumata). Keadaan kota semakin mencekam, aksi-aksi pengrusakan, pelemparan rumah secara sporadic serta pemukulan, penganiayaan serta pembunuhan tetap berlangsung. Rabu, 27 Oktober 1999 Keadaan kota tetap mencekam dan provokasi untuk memancing pertentangan agama tetap dilaksanakan oleh masyarakat makian, namun penduduk asli Ternate tidak terprovokasi dengan isu-isu tersebut, maka muncullah selebaran gelap yang mendiskreditkan orang Kristen. Rabu, 3 Nopember 1999 (Tidore) Masyarakat Tidore terprovokasi dengan isu selebaran gelap tersebut, maka dikoordinir oleh mahasiswa, pengungsi kerusuhan Ambon, maka mastarakat pulau Tidore seluruhnya mengadakan terhadap orang-oran Kristen yang hanya kira-kira 300 keluarga. Penyerangan dilakukan pada tengah malam, pada insiden ini 10 orang tewas dan yang mengalami luka-luka belum dapat teridentifikasi. Korban yang meninggal di Tidore yang diketahui adalah: 1. Pdt. ARI RISAKOTA, Pimpinan/Pendeta Jemaat GPM Maranatha Soa Siu tidore, yang bersangkutan dipotong-potong kemudian dibakar. 2. FIRDAUS LAPUS, Majelis GPM Marantha/Pegawai kantor Pengadilan Negeri Soa Siu, dipotong dan kemudian dibakar. 3. EDUS NAFIRI, Kepala SMP Sofifi Kecamatan Obi Halmahera Tengah, yang bersangkutan dibunuh pada tanggal 4 Nopember 1999 di dermaga Soa Siu, ketika yang bersangkutan turun dari motor, saat bermaksud mengambil gaji di Soa Siu. 3 gereja musnah dan seluruh rumah masyarakat Kristen di Soa Siu dibakar. Jumat, 5 Nopember 1999 Isu berkembang bahwa selesai Sholat Jumat, warga Makian akan mengadakan serangan besar-besaran. Penduduk kota Ternate baik Muslim maupun Kristen menjadi panik dan mengungsi ke instalasi TNI dan Polri. Sabtu, 6 Nopember 1999 Terjadi pembakaran besar-besaran oleh warga Makian terhadap rumah-rumah warga Kristen di bagian Selatan kota dihancurkan/ dibakar dan dijarah. Tercatat 6 buah Gereja dirusak dan dibakar, yaitu : 1. GMIH Ebenhaeser 2. GMIH Bukit Kemuliaan. 3. GPM Anugerah Kalumata 4. Pantekosta Kalvari Misi Bethania 5. Gereja Sidang Jemaat Allah 6. Gereja Advent Sedangkan di Soa - Siu, 3 buah gereja yaitu : 1. GPM Marantha 2. Gereja RK 3. Gereja Pantekosta. Sementara ini kerusuhan juga pecah di kecamatan Obi Halmahera Tengah antara suku Sangir dan Maluku/Tidore. Hingga saat ini keadaan Ternate mencekam bagaikan kota hantu. Pasukan Sultan Ternate bersama aparat Keamanan terlihat mengamankan kota. Warga Ternate tidak terprovokasi dengan ulah orang makian/Tidore, malah banyak membantu orang-oran Kristen yang menjadi korban. Minggu, 7 Nopember 1999 Terjadi pembakaran atas seorang warga Kristen bernama BENNY, pekerjaaan pemborong, yang bersangkutan juga adalah wakil bendahara PDI-P Kodya Ternate. Pembunuhan dilakukan dengan cara dipotong menjadi 7 bahagian. Catatan: Kota Ternate yang rusuh adalah bagian selatan, karena di bagian tersebut merupakan basis pemukiman orang Makian, Utara kota adalah basis orang Ternate asli. Senin, 8 Nopember 1999 Masih terjadi pembunuhan 8 orang, korban adalah masyarakat Kampung Pisang. Korban di Ternate yang diketahui adalah: 1. DENNY SOSELISA, pegawai PT Pos Kalumata. 2. NUS TUASELA, tukang batu Malioro. Korban lain, baik luka-luka/ tewas tidak teridentifikasi. YAYASAN SALA WAKU MALUKU "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
