**************************** Rusuh Ambon, Sabtu dan Minggu --------------------------------------- Insiden Jumat (19 November) dan Sabtu (20 November) ------------------------------------------------------------------- Setelah selama seminggu ini terjadi ketegangan-ketegangan kecil di lokasi Diponegoro, Trikora, Pohon Puleh, Kota Jawa, Rumahtiga dan ditemukannya mayat di perairan teluk Ambon, maka sejak Jumat dan Sabtu Ambon kembali memanas dengan terjadinya serangkaian bentrok fisik serta pembakaran rumah-rumah penduduk di beberapa kawasan. Jumat 19 November 1999 terjadi bentrok di desa Nania dan desa Waiheru. Menurut informasi yang diterima dari lapangan, insiden tersebut bermula dari terjadinya pelemparan sebuah mobil penumpang yang datang dari arah desa Paso, persisnya di desa Nania, oleh sekelompok massa yang diduga berasal dari Jazirah Leihitu pada sekitar pk. 11.00 WIT. Peristiwa ini kemudian memicu aksi pembalasan oleh warga Nania yang terlihat mulai terkonsentrasi dan melempari sebuah mobil dengan nopol DE 948. Insiden ini akhirnya dapat dikendalikan oleh aparat keamanan dari kesatuan ZIKON XII dan BRIMOB yang segera tiba di lokasi tersebut. Namun sekitar pk. 16.00 WIT, massa Jazirah Leihitu yang ternyata melakukan pembakaran sebuah rumah di kompleks Kompi A Yonif 733/ BS. Akibatnya massa Nania dan Paso marah dan melakukan serangan balik yang mengakibatkan 1 orang meninggal dari pihak Jazirah Leihitu. Hingga Jumat malam situasi bisa dikendalikan, walaupun pada tengah malam dan menjelang pagi terdengar ledakan bom rakitan yang cukup dahsyat di lokasi Mardika, Batu Merah, Karang Panjang, Jalan Baru dan Diponegoro. Sedangkan sepanjang hari Sabtu, 20 November 1999, sempat terjadi insiden di desa Waiheru, Poka, Perairan Teluk Ambon, Suli, Lateri dan Halong. Dari kawasan Waititar dikabarkan sebuah gereja (Gereja Anugerah) terbakar karena terbakarnya kios bensin di dekatnya. Di kawasan Waiheru sejak pagi pk. 07.00 WIT terlihat asap pembakaran puluhan rumah warga Kristen desa Waiheru, di sekitar kompleks Yonif 733/ BS. 19 orang menjadi korban penembakan aparat-- 6 diantaranya meninggal dunia, yaitu 4 orang warga Kristen dan 2 warga Islam. Asap tebal tersebut masih terlihat sampai malam Minggu kemarin. Saksi mata mengatakan bahwa beberapa oknum aparat terlihat memimpin serta membiarkan massa penyerang membakari rumah-rumah penduduk, sementara massa yang datang menghalau ditembaki aparat secara membabi buta. Sementara itu di perairan Teluk Ambon, tepatnya kawasan Benteng dan Galala yang selama ini menjadi jalur penyeberangan masyarakat (karena tidak amannya jalur darat), telah terjadi insiden tembak menembak antar penumpang/ pengemudi speedboat yang (menurut informasi sementara) telah mengakibatkan jatuh korban luka 3 - 7 orang; beberapa korban adalah ibu-ibu. Dalam insiden tersebut terdengar letusan senjata rakitan dan senjata organik standard ABRI. Diduga ada oknum TNI yang terlibat dalam insiden ini, atau kalau tidak ada senjata organik gelap yang beredar. Pada saat insiden di teluk Ambon terjadi, beberapa lokasi ikut bergejolak. Di antaranya kawasan Poka dan Rumahtiga yang mengakibatkan aparat keamanan harus mengeluarkan tembakan peringatan untuk membubarkan massa kedua belah pihak. Dari desa Suli, pada pk. 16.00 WIT terjadi pengumpulan massa Islam dari desa Tulehu berjumlah sekitar 2000 orang yang terkonsentrasi di desa Suli Atas. Mereka kemudian melakukan pembakaran terhadap kurang lebih 10 rumah warga Kristen dan satu gedung pramuka SMP/SMU Suli. Upaya massa penyerang melewati kompleks militer Rindam/ Secara B Suli berhasil digagalkan kesatuan Rindam/ Secata B dan Marinir. Sementara itu terjadi juga penyerangan terhadap desa Suli Bawah dari desa Tial dan Tengah Tengah, dimana massa penyerang berhasil membakar sebuah penginapan di lokasi tersebut. Di daerah Halong dan Lateri, pada pk.18.00 WIT terjadi pembakaran rumah-rumah warga Muslim yang sudah ditinggalkan pemiliknya. Minggu, 21 November -------------------------- Situasi Ambon hari Minggu 21 Nopember 1999 masih tetap tegang. Di lokasi Nania dan Waiheru pertikaian masih tetap berlangsung. Dari lokasi kejadian, tim investigasi Salawaku melaporkan akibat insiden kali ini jatuh korban jiwa 5 orang ( 2 meninggal dunia dan 3 orang luka-luka) akibat tembakan aparat keamanan dan senjata rakitan, menyusul rumah-rumah warga Kristen yang berada di Desa Waiheru dan BTN Waiheru dibakar habis oleh massa muslim yang teridentifikasi berasal dari Jazirah Laihitu dan massa Muslim lainnya. Masyarakat di lokasi tersebut yang kini telah diungsikan ke tempat yang lebih aman sangat menyesalkan terjadinya insiden tersebut yang menurut mereka ikut dipelopori dan dipimpin oleh aparat keamanan dari kesatuan Yonif 733 untuk melakukan pembakaran terhadap rumah warga. Masyarakat yang bertahan, malah harus mengamankan diri dengan berenang ke laut yang kemudian ditolong oleh kapal ikan (motor cakalang) dan speedboat yang datang dari arah Desa Galala. Sementara itu pada lokasi belakang ruko Batu Merah dan Halong Atas sejak pagi terlihat kepulan asap tebal di kedua lokasi tersebut yang diperkirakan berasal dari pembakaran rumah-rumah penduduk yang teklah ditinggalkan kosong oleh penghuninya. Dari Perigi Lima juga telah terjadi insiden percobaan penyerangan terhadap gedung GPM Sinar Kasih yang terletak di dalam kompleks asrama Polri Perigi Lima. Serangan menggunakan bom rakitan tersebut tidak sampai merusak gereja atau bangunan lainnya. Akan tetapi kemudian keluar perintah dari Letkol.Pol. Gufron (Kapolres Ambon dan P.P. Lease) agar seluruh anggota Polri yang beragama Kristen beserta anggota keluarganya keluar dari asrama Polri tersebut. Korban yang meninggal dan dan luka-luka dalam insiden hari Sabtu masih dalam tahap investigasi, sementara korban dan insiden kemarin telah teridentifikasi masing-masing: A. Pihak Kristen * Meninggal dunia, 4 orang atas nama: 1. Agus Nanungker 2. Saiya. 3. Robby Kalipopin 4. Remzy de Fretes. * Luka - Luka, 13 orang atas nama: 1. John Halattu, tertembak pada paha kanan. 2. Izack Ferdinandus, trtembak pada pinggul kanan. 3. Freddy Luhukay, tertembak pada hidung, dada dan leher. 4. Nineks, tertembak pada lengan kiri. 5. W.N. Natumlawar, tertembak pada pahakiri. 6. Donny Rissambessy, tertembak padapinggul kanan. 7. Hendra Susilo, tertembak pada betis kanan. 8. Anthon Ririhena, tertembak pada pipi kiri. 9. P.Sopacua, tertembak pada bahu kanan. 10. Gelvin Manuputy, tertembak pada bahu kanan. 11. Hook Ririhena, tertembak pada paha kanan. 12. Octo Leimena, tertembak pada bagian pantat. 13. Novy tuakora, tertembak pada kaki. B. Pihak Muslim � Meninggal dunia, 2 orang atas nama: 1. La Toga, tertembak pada bagian kepala. 2. Lulang, tertembak pada bagian kepala. � Sedangkan 10 korban lainnya mengalami luka-luka berat dan ringan yang hingga saat ini masih belum teridentifikasi nama-nama mereka. Sementara itu 3 orang korban luka luka akibat insiden saling baku tembak di perairan Teluk Ambon seluruhnya berasal dari warga Kristen masing-masing atas nama : 1. Jefry Homuly, tertembak pada tangan kanan. 2. Ny. Ice Luhulima, tertembak bagian perut kiri. 3. Robby Renyaan, tertembak pada bagian pantat. Hingga berita ini dikirimkan, kondisi kota Ambon masih dalam keadaan tegang dan masyarakat masih tetap berjaga-jaga di setiap lokasi pemukiman serta ledakan bom dan senjata rakitan masih tetap terdengar di beberapa lokasi dalam kota. Sementara itu, hari ini (Senin, 22 November) Eskol menerima kabar dari beberapa kontak person di Ambon, bahwa sejak penyerangan di kawasan Waiheru sampai dengan hari ini (saat berita ini diturunkan) massa dari Jazirah Leihitu telah mengepung sekitar 1000 warga Waiheru (kebanyakan anak-anak dan wanita) yang bertahan di sekitar kompleks militer Kompi Yonif 733/BS. Mereka dikepung dari segala penjuru sehingga tidak dapat lagi menyelamatkan diri ke tempat lain. Akibat pengepungan ini, warga Waiheru yang bertahan mengalami kekurangan makanan dan hanya bisa mengkonsumsi kelapa muda. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar: mengapa di wilayah kompleks militer pihak aparat membiarkan massa penyerang menguasai wilayah dan tidak mampu memberikan perlindungan kepada penduduk sekitarnya? Pihak gereja telah mengajukan permohonan bantuan aparat kepada Pangdam, agar massa penyerang diusir dari pemukiman Kristen tersebut. Namun oleh Pangdam hal itu hanya ditindak lanjuti dengan mengupayakan pengevakuasian warga Waiheru, tetapi membiarkan massa penyerang menguasai kawasan Waiheru. Upaya tersebut diwujudkan dengan mengirimkan 4 truk aparat dari Brimob ke lokasi pada hari Minggu kemarin. Namun di perjalanan mereka dihalang-halangi oleh massa Jazirah Leihitu sehingga akhirnya mereka kembali ke Ambon. Kemudian kembali dikirim kesatuan Marinir, namun tidak juga berhasil membebaskan mereka. Sekitar pk. 10.30 WIT hari ini di kirim 2 truk pasukan PPRM, dan hasilnya belum diketahui. (Sumber: Yayasan Sala Waku, Posko Maranatha, dan beberapa kontak person di Ambon) "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36) *********************************************************************** Moderator EskolNet berhak menyeleksi tulisan/artikel yang masuk. Untuk informasi lebih lanjut, pertanyaan, saran, kritik dan sumbangan tulisan harap menghubungi [EMAIL PROTECTED] Bank Danamon Cab. Ambengan Plaza Surabaya, a.n. Martin Setiabudi Acc.No. 761.000.000.772 *********************************************************************** Kirimkan E-mail ke [EMAIL PROTECTED] dengan pesan: subscribe eskolnet-l ATAU unsubscribe eskolnet-l
